Rumah Shiren di Condet sudah ramai sejak Ashar. Tante-tante datang membawa kue. Sepupu-sepupu sibuk menata piring di ruang tamu. Aroma gulai kambing dan nasi kebuli memenuhi gang sempit di depan rumah, sampai tetangga-tetangga ikut melongok dari jendela. Semua orang di lingkungan itu tahu malam ini akan ada tamu dari Pekalongan. Keluarga sayyid yang terhormat. Datang untuk melihat putri bungsu keluarga ini.
Shiren duduk di depan cermin kamarnya. Gamis biru tua yang dipilihkan Mama sudah ia pakai. Kerudungnya sudah rapi. Tapi tangannya dingin sekali.
"Lo pucet banget, Ren."
Retno duduk di atas ranjang, memangku sekotak tisu. Ia sengaja datang sejak siang, beralasan membantu menata kue. Padahal Shiren tahu, sahabatnya itu datang karena tak tega membiarkannya sendirian.
"Gue takut, No."
"Takut sama calonnya?"
"Takut sama diri gue sendiri. Takut nanti di depan mereka gue cuma diem. Kayak biasanya. Terus tiba-tiba semua udah diputusin, dan gue cuma bisa ngangguk."
Retno menatapnya lama. Lalu ia menghela nafas, seperti orang yang sudah lama menyimpan sesuatu dan akhirnya memutuskan untuk melepaskannya.
"Ren, gue mau cerita sesuatu. Tapi jangan ketawa."
"Apa?"
"Nama lengkap gue di akta itu Raden Ajeng Retno Kusumawardhani."
Shiren berbalik dari cermin. Matanya melebar.
"Lo... keraton?"
"Yogya. Cicit dari cucunya siapa gitu, gue juga males ngapalin." Retno tertawa kecil. "Dari kecil gue diajarin cara jalan, cara duduk, cara ngomong. Gak boleh ini, gak boleh itu. Karena gue istimewa, katanya. Gue kabur ke Jakarta, kuliah di sini, ngumpetin nama gue, biar bisa jadi orang biasa. Biar bisa ketawa ngakak di kantin tanpa ada yang bilang gak pantes."
"Kenapa lo gak pernah cerita?"
"Karena gue capek diistimewain." Retno meraih tangan Shiren yang dingin. "Tapi Ren, dari semua yang diajarin ke gue, ada satu yang gue pegang sampai sekarang. Mbah Putri gue bilang, orang yang beneran mulia itu gak takut ngomong jujur dengan sopan. Lo boleh takut. Tapi jangan diem."
Shiren menggenggam tangan sahabatnya balik. Kuat-kuat. Dari luar terdengar suara mobil berhenti. Lalu suara salam yang ramai. Tamu sudah datang.
@@@
Keluarga dari Pekalongan itu ternyata tak seseram yang Shiren bayangkan. Sang ayah bertubuh besar dengan janggut putih, tertawa keras setiap kali bercerita. Sang ibu ramah dan banyak memuji masakan Mama. Lalu putra mereka. Hamid. Dua puluh enam tahun, insinyur di sebuah pabrik tekstil keluarga. Kemeja batiknya rapi, kacamatanya tipis, dan selama satu jam pertama ia hampir tidak bicara apa-apa. Ia lebih sering menunduk, sama seperti Shiren.
Setelah makan malam, para orangtua memberi kesempatan keduanya untuk berbincang. Di teras, ditemani Kak Najwa, kakak sulung Shiren, yang duduk di kursi rotan tak jauh dari mereka. Jarak di antara Shiren dan Hamid hampir dua meter. Lampu teras menyala kuning. Nyamuk berdenging di dekat telinga.
"Mbak kuliah kedokteran?" Hamid membuka percakapan.
"Iya. Tahun terakhir. Abis ini magang sama penelitian, terus koas."
"Koas itu berapa lama?"
"Dua tahun kurang lebih. Abis itu internship."
Hamid mengangguk-angguk. Lalu diam lagi. Shiren meremas ujung gamisnya. Kalimat Retno terngiang di kepalanya. Jangan diem.
"Mas Hamid," katanya tiba-tiba. Suaranya bergetar, tapi ia memaksa dirinya terus bicara. "Boleh saya jujur?"
Hamid menoleh. "Silakan."
"Saya belum siap menikah. Saya mau selesai jadi dokter dulu. Saya juga belum kenal Mas. Saya gak mau menikah sama orang yang saya gak kenal, cuma karena keluarga udah sepakat." Ia menarik nafas. "Saya gak bermaksud menghina keluarga Mas. Keluarga Mas baik sekali. Tapi kalau saya bilang iya malam ini, saya bohong. Dan saya gak mau mulai sesuatu yang besar dengan bohong."
Kak Najwa di kursi rotan menoleh cepat. Wajahnya kaget. Shiren tidak berani melihat ke arah kakaknya.
Hamid terdiam cukup lama. Shiren sudah bersiap mendengar kemarahan, atau setidaknya kekecewaan. Tapi yang keluar dari mulut laki-laki itu justru tawa kecil. Lega.
"Alhamdulillah."
Shiren berkedip. "Hah?"
"Maaf, maaf." Hamid menggaruk tengkuknya, salah tingkah. "Saya juga mau bilang hal yang hampir sama. Tapi saya gak berani. Saya takut Mbak tersinggung."
"Mas juga gak mau?"
"Bukan gak mau. Saya cuma gak mau menikahi perempuan yang terpaksa." Ia membetulkan letak kacamatanya. "Abah saya dulu menikah karena dijodohkan. Alhamdulillah bahagia. Tapi Umi pernah cerita, tahun-tahun pertama beliau sering menangis diam-diam. Saya gak mau ada perempuan yang menangis diam-diam karena saya."
Shiren tak tahu harus berkata apa. Matanya mendadak panas.
"Kalau Mbak mau selesai kuliah dulu, saya bisa bilang ke keluarga saya untuk menunggu. Kita kenalan pelan-pelan. Sebagai teman dulu. Kalau nanti, setelah Mbak jadi dokter, Mbak tetap gak mau, biar saya yang bilang ke keluarga saya bahwa saya yang mundur. Supaya nama Mbak gak jelek di mata siapa pun."
Shiren menunduk. Air matanya jatuh ke gamis biru tuanya. Bukan air mata sedih. Ia sendiri tak tahu air mata apa.
"Makasih, Mas."
@@@
Tamu-tamu pulang menjelang jam sepuluh. Begitu mobil mereka hilang di ujung gang, Mama langsung menarik Shiren ke kamar. Pintu ditutup. Kak Najwa ikut masuk.
"Kamu ngomong apa ke Hamid? Najwa bilang kamu nolak!"
"Shiren gak nolak, Ma. Shiren minta waktu."
"Minta waktu itu sama aja nolak! Kamu tahu gak malunya Mama kalau keluarga mereka--"
"Ma." Shiren memotong. Untuk pertama kalinya seumur hidup, ia memotong ucapan ibunya. Suaranya pelan, tapi tidak bergetar lagi. "Shiren gak pernah nolak keluarga ini. Shiren sayang sama Mama. Shiren hormat sama tradisi kita. Tapi Shiren cuma minta satu hal. Hak buat milih. Hak buat kenal dulu orang yang mau jadi suami Shiren. Itu aja."
Mama terdiam. Wajahnya merah. Ia hendak membuka mulut lagi, tapi Kak Najwa lebih dulu menyentuh lengannya.
"Ma," suara kakaknya pelan sekali. "Dulu aku juga pengen ngomong kayak gitu. Tapi aku gak berani. Aku malah kabur."
Mama menoleh ke arah putri sulungnya. Lama.
"Aku bahagia sekarang, Ma. Beneran. Tapi aku selalu mikir, seandainya dulu aku dikasih waktu buat kenal Bang Fahmi dulu, mungkin tahun pertama kami gak perlu banyak nangis." Kak Najwa tersenyum tipis. "Hamid juga bilang mau nunggu. Keluarganya juga gak keberatan kan? Tadi Abahnya malah ketawa-tawa."
Mama duduk di tepi ranjang. Ia memandangi lantai lama sekali. Lalu, tanpa diduga siapa pun, bahunya mulai berguncang. Ia menangis. Shiren langsung berlutut di depannya, memeluk lututnya.
"Mama cuma takut kamu gak bahagia, Ren," isaknya. "Mama cuma takut."
"Shiren tahu, Ma. Shiren tahu."
Retno yang menunggu di ruang tengah mendengar tangis itu dari balik pintu. Ia tersenyum, lalu diam-diam mengirim pesan pada Shiren. Pesan yang baru akan dibaca Shiren tengah malam nanti.
Bangga sama lo, Syarifah. Sumpah.
@@@