Rapat besar pertama tim sukses Agha digelar Sabtu siang di ruang BEM Fakultas Kedokteran. Ruangan itu biasanya lengang di akhir pekan. Kali ini penuh. Masayu duduk di ujung meja dengan laptop dan toples kacang polongnya. Bani dan Lia di sebelahnya. Indra bersandar di dinding sambil memainkan pulpen. Hanafi datang tepat waktu dengan kemeja rapi seperti biasa. Amri datang paling akhir, masih membawa bau tanah dari Bekasi, dan langsung duduk di pojok tanpa banyak bicara.
Lalu Humaira masuk.
Ia naik kereta dari Depok, turun di Cikini, dan berjalan kaki sampai Salemba. Wajahnya agak berkeringat, ransel besarnya penuh, dan di tangannya ada map tebal. Begitu masuk, ia mengucap salam, menyalami para perempuan, mengangguk sopan ke para laki-laki, lalu langsung bertanya sesuatu yang membuat seisi ruangan terdiam.
"Rancangan anggaran kampanyenya mana?"
Masayu berkedip. "Eh... ada. Bentar."
Ia memutar laptopnya. Humaira membungkuk, membaca dengan cepat. Keningnya makin lama makin berkerut. Agha yang duduk di seberang meja memperhatikan perubahan wajah itu dengan perasaan was-was. Seperti mahasiswa yang menunggu nilai ujian dibagikan.
"Kaos dua ribu potong?"
"Biar seragam," jawab Indra.
"Buat siapa? Pemilih?"
"Ya buat timses sama simpatisan lah."
"Simpatisannya udah ada dua ribu?"
Indra membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
"Baliho sepuluh titik. Makan siang tiap rapat. Konsumsi tiap acara dialog." Humaira mengetuk layar dengan ujung jari. "Totalnya hampir seratus juta. Dari mana?"
"Itu..." Masayu melirik Agha. "Rencananya ada beberapa donatur."
"Siapa?"
Hening. Semua mata pelan-pelan mengarah ke Agha. Indra yang akhirnya menjawab, setengah bercanda.
"Ya kalau kurang, Om Fadlan pasti mau bantu lah. Rumah sakitnya gede gitu."
Humaira menegakkan badan. Ia menatap Indra, lalu Agha, dengan tatapan yang sama persis dengan yang dulu ia berikan di meja bundar FMIPA. Tatapan yang membuat Agha merasa sedang disidang.
"Gha. Inget syarat nomor satu?"
"Inget."
"Kalau duit om lo yang masuk, ini bukan kampanye. Ini sedekah politik. Lo menang, terus orang-orang mikir lo menang karena lo anak konglomerat. Lo kalah, duitnya hangus buat kaos yang ujungnya jadi lap di kosan anak teknik." Ia menutup laptop Masayu dengan pelan. "Gue gak mau megang kas yang kayak gitu."
Indra hendak membalas. Agha mengangkat tangan.
"Dia bener, Dra."
"Tapi Gha, tanpa dana segitu kita kalah gaung sama Andros. Dia udah punya nama di Depok--"
"Terus kalau kita menang pakai duit Om Fadlan, kita mau ngomong apa di depan mahasiswa soal amanah?" Agha menatap seluruh ruangan. "Gak ada duit keluarga gue. Dari Om, dari Opa, dari siapa pun. Kita mulai dari yang kita punya."
Amri yang sejak tadi diam di pojok mengangguk sekali. Hanya sekali, tapi cukup.
"Terus kita mulai dari mana?" tanya Lia pelan.
Humaira membuka map tebalnya. Ternyata isinya bukan kritik. Isinya rencana. Lengkap dengan tabel dan coretan tangan.
"Iuran tim, sukarela, dicatat. Terus kita jualan."
"Jualan?" Bani hampir tersedak kacang polong.
"Tote bag dari bahan spanduk bekas acara fakultas. Gue udah ngomong sama anak BEM MIPA, mereka punya tumpukan spanduk bekas dua tahun. Dijahit sama ibu-ibu di dekat kontrakan gue, dibayar per potong. Dijual murah. Ada logo kampanye kecil di pojok. Orang yang beli jadi bawa kampanye kita ke mana-mana, sukarela, dan kita dapet duit buat cetak materi." Ia membalik halaman. "Konsumsi rapat bawa sendiri-sendiri. Dialog gak usah pakai makan siang. Air putih aja. Orang dateng buat ngobrol, bukan buat nasi kotak."
"Baliho?"
"Dua. Satu di Salemba, satu di Depok. Sisanya poster digital. Gratis."
Ruangan itu hening sejenak. Lalu Masayu tertawa. Tawa yang tulus, walau ada sedikit getir di ujungnya.
"Lo gila, Mai."
"Gue bendahara," koreksi Humaira datar.
@@@
Rapat berlangsung tiga jam. Humaira memangkas anggaran dari hampir seratus juta menjadi tak sampai sepersepuluhnya. Setiap angka ia tanyakan sumbernya. Setiap rencana pengeluaran ia minta penanggung jawabnya. Ia juga menolak usul Indra soal kaos, lalu menerima usul Lia soal stiker kecil. Ia berdebat sengit dengan Bani soal harga sewa pengeras suara dan menang telak karena ia ternyata sudah menelepon tiga tempat penyewaan sebelum datang.
Hanafi hanya tersenyum-senyum sendiri di kursinya. Ia sudah lama mengenal gaya Humaira yang begini. Yang lain belum.
Agha mencatat semuanya. Atau setidaknya, ia berusaha mencatat. Karena berkali-kali ia mendapati dirinya berhenti menulis hanya untuk mendengarkan. Cara gadis itu menjelaskan sesuatu dengan cepat dan runtut. Cara ia mengetuk meja ketika tidak setuju. Cara ia tiba-tiba tersenyum lebar ketika Lia mengusulkan ide yang bagus, senyum yang membuat wajah juteknya berubah total.
Dulu, Masayu menyebut Amri dengan kalimat what a man.
Kalimat itu tiba-tiba muncul di kepala Agha, sedikit diubah. What a woman.
Ia langsung menunduk ke catatannya. Astagfirullah. Fokus, Gha. Fokus.
Masayu memperhatikan dari ujung meja. Ia melihat Agha menunduk tiba-tiba, menulis sesuatu yang sepertinya tidak penting. Ia melihat cara Agha mendengarkan Humaira, berbeda dari cara Agha mendengarkan siapa pun di ruangan itu. Lebih diam. Lebih lama.
Masayu menggenggam toples kacang polongnya erat-erat.
Lalu, saat rapat istirahat untuk solat Ashar, Humaira menghampirinya. Bukan untuk membahas anggaran.
"Kacang polongnya beli di mana? Gue suka banget."
Masayu tertegun. "Di... pasar Senen. Ada yang curah, murah."
"Ajarin gue nanti ya. Kantin MIPA mahal-mahal sekarang." Humaira mengambil segenggam dari toples yang disodorkan, mengunyah dengan wajah senang seperti anak kecil. "Lo yang nyusun semua profil kandidat itu kan? Bani cerita. Rapi banget. Gue gak bakal bisa serapi itu."
Masayu memandangi gadis di depannya. Ia ingin tidak suka. Ia benar-benar ingin. Tapi ternyata sulit sekali membenci orang yang memakan kacang polongmu dengan wajah sebahagia itu.
@@@
Rapat bubar menjelang Magrib. Langit Salemba sudah jingga ketika mereka berjalan ke parkiran. Agha berjalan paling depan, seperti biasa. Di belakangnya, Humaira sibuk mengetik sesuatu di ponsel sambil menenteng map tebalnya.
"Lo balik naik apa?" tanya Agha tanpa menoleh.
"Kereta. Dari Cikini."
"Gue anterin sampe stasiun aja. Udah mau gelap."
"Gak usah. Deket kok."
Belum sempat Agha membalas, Hanafi sudah muncul di samping mereka sambil memutar kunci mobil di jarinya. "Mai, gue mau ke Depok. Bareng aja. Mas Rangga udah gue kabarin."
Humaira menoleh. Ada jeda kecil sebelum ia mengangguk. "Oke. Makasih, Hanaf."
Agha berhenti melangkah. Ia memandang keduanya berjalan ke arah mobil Hanafi di ujung parkiran. Hanafi membukakan pintu untuk Humaira, persis seperti yang pernah Masayu ceritakan dari foto-foto akun gosip MIPA. Lalu mobil itu keluar perlahan dari gerbang Salemba dan hilang di antara lampu-lampu jalan.
"Gha? Kunci mobil lo jatoh tuh."
Agha tersentak. Indra memungut kunci di dekat kakinya dan menyerahkannya dengan tatapan penuh arti. Agha merebutnya tanpa berkata apa-apa, masuk ke mobil, dan menyalakan mesin.
Di jalan pulang, ia menyetel murotal keras-keras. Lebih keras dari biasanya.
@@@