"Lo tahu gak, hape lo itu yang ngambilin siapa?"
Humaira berhenti mengunyah. Kamis siang, kantin FMIPA sedang ramai-ramainya. Bani duduk di depannya tanpa diundang, membawa sepiring nasi goreng dan wajah yang terlalu serius untuk ukuran Bani.
"Mas Rangga."
"Mas Rangga dapetnya dari siapa?"
Humaira mengerutkan kening. Ia memang tak pernah bertanya. Malam itu ia terlalu pusing dan terlalu sibuk diomeli kakaknya. Yang ia tahu, tengah malam ponselnya sudah ada di meja samping ranjang rumah sakit.
"Agha," jawab Bani sendiri. "Dia keluar-masuk polres sampe jam dua belas malem sama pengacara. Ngurusin anak-anak yang ditahan, satu-satu. Hape-hape yang disita juga dia minta balik. Punya lo salah satunya. Terus dia titipin ke Mas Rangga di rumah sakit, dan dia gak masuk. Langsung pulang."
Humaira meletakkan sendoknya.
"Kenapa lo baru cerita sekarang?"
"Karena dia gak pernah cerita. Ke siapa pun. Lo cek deh medsosnya. Gak ada satu postingan pun soal demo kemarin. Padahal kalau dia mau pamer, satu kampus bakal muji-muji dia." Bani menyuap nasi gorengnya. "Terus kemarin, Rabu, dia bolos dua kuliah buat ke Bantargebang sendirian. Seharian benerin pipa di rumah belajarnya Amri. Pulang-pulang Amri mau jadi wakilnya."
"Amri? Yang anak FEB itu?"
"Yang itu."
Humaira terdiam lama. Ia pernah mendengar nama Amri dari Andros. Sahabatnya itu sempat mencoba mendekati Amri juga dan pulang dengan wajah masam. Katanya orangnya batu. Tak bisa dirayu.
"Gue gak lagi kampanye, Mai," tambah Bani buru-buru. "Sumpah. Gue cuma pengen lo tahu sebelum lo mutusin besok. Biar adil. Lo kan selalu bilang, nilai orang dari kerjanya, bukan dari omongannya."
Ia menghabiskan nasi gorengnya dalam tiga suapan besar lalu pergi, meninggalkan Humaira dengan piring yang belum habis dan kepala yang makin penuh.
@@@
Malamnya, Humaira membuka lagi dua berkas di laptopnya. Kali ini ia tidak membaca. Ia mengingat.
Ia ingat percakapannya dengan Andros di parkiran FIB dua hari lalu. Ia sengaja datang ke sana untuk bertanya langsung. Kalau ada aspirasi mahasiswa yang tidak bisa dipenuhi, bagaimana cara BEM-mu menjelaskannya? Andros tertawa, bilang nanti saja dipikirkan bareng tim. Kalau bendahara salah hitung, siapa yang memeriksa? Andros bilang, ya kamu sendiri, Mai, kan kamu jagonya. Lalu kalimat yang membuat Humaira diam sepanjang jalan pulang.
Gue pengen lo jadi bendahara karena gue udah kenal lo dari SMA. Gue percaya sama lo.
Itu kalimat yang manis. Kalimat seorang sahabat. Tapi bukan kalimat yang ia butuhkan dari seorang calon pemimpin.
Ia ingat juga orasi Agha di depan gedung DPR. Janji itu akan dituntut di akhirat. Ia ingat bagaimana laki-laki itu menolak bersembunyi ketika teman-temannya menyuruhnya kabur. Dan sekarang, cerita Bani. Ponsel yang dikembalikan diam-diam. Pipa yang dibetulkan tanpa kamera.
Humaira menutup laptopnya. Ia mengambil wudu dan solat istikharah. Lalu tidur dengan perasaan yang anehnya ringan.
@@@
Jumat pagi, Andros datang ke kantin FMIPA dengan dua gelas es teh manis. Seperti biasa, ia duduk di depan Humaira tanpa permisi. Seperti biasa, gadis itu sibuk dengan laptopnya.
"Pagi-pagi udah ngerjain laporan praktikum? Rajin amat, Bu Bendahara."
"Dros."
"Hm?"
Humaira menutup laptopnya. Hal yang jarang sekali terjadi. Andros langsung menegakkan punggung. Ia tahu gelagat ini. Sejak SMA, setiap kali Humaira menutup buku atau laptop di depannya, itu artinya ada yang serius.
"Gue mau ngomong duluan ke lo. Sebelum lo denger dari orang lain."
Andros terdiam. Senyumnya pelan-pelan memudar.
"Gue gabung ke timnya Agha."
Hening. Suara blender dari kios jus di ujung kantin terdengar sangat keras. Andros menatap gelas es tehnya. Butir-butir air menetes dari dinding gelas ke meja.
"Karena Hanafi?" tanyanya akhirnya. "Hanafi kan masuk timnya Agha."
"Bukan. Hanafi bahkan gak pernah nyuruh gue."
"Terus karena apa? Gue kurang apa, Mai?"
"Lo gak kurang apa-apa sebagai sahabat, Dros. Lo sahabat terbaik gue." Humaira menatapnya lurus. "Tapi waktu gue nanya siapa yang meriksa bendahara kalau salah hitung, lo jawab: gue sendiri. Waktu gue nanya kenapa gue, lo jawab: karena udah kenal dari SMA. Lo milih gue karena kita deket. Gue gak bisa milih lo dengan alasan yang sama. Itu nepotisme, Dros. Walaupun kecil, walaupun manis."
Andros tertawa. Tawa yang hambar. "Lo emang paling jago nolak orang."
"Gue gak nolak lo. Gue nolak tawaran lo."
"Bedanya apa?"
"Bedanya, besok lo masih boleh dateng ke sini bawa es teh."
Andros memandanginya lama. Lalu ia menghela nafas panjang, menyandarkan punggung ke kursi plastik, dan menatap langit-langit kantin yang baru direnovasi.
"Gue kalah start lagi."
"Ini bukan lomba lari, Dros."
"Buat gue selalu, Mai." Ia berdiri, mengambil gelas es tehnya sendiri, lalu menggeser gelas yang satu lagi ke depan Humaira. "Yang ini tetap buat lo. Tapi jangan bocorin strategi tim gue ke si anak Kedokteran itu ya."
"Gue gak pernah tahu strategi tim lo."
"Iya juga." Andros nyengir. Cengiran yang dipaksakan. "Ya udah. Sampai ketemu di debat, Bu Bendahara."
Ia berjalan pergi. Langkahnya santai seperti biasa, tangannya melambai tanpa menoleh. Tapi Humaira mengenalnya terlalu lama untuk tidak tahu kalau bahu itu sedang menahan sesuatu. Ia memandangi punggung sahabatnya sampai hilang di tikungan, lalu menatap gelas es teh di depannya.
Esnya sudah mencair separuh.
@@@
Selesai solat Jumat di masjid kampus Salemba, Agha baru saja memakai sepatu ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuatnya hampir menjatuhkan ponsel itu.
Humaira.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Lo lagi sibuk?"
"Enggak. Baru selesai Jumatan."
"Oke. Gue cuma mau bilang, gue gabung."
Agha diam. Sebelah sepatunya belum terikat.
"Halo? Kedengeran gak?"
"Kedengeran. Kedengeran banget." Ia berdeham, berusaha supaya suaranya tidak terdengar terlalu senang. "Alhamdulillah. Makasih, Humaira."
"Jangan makasih dulu. Gue punya tiga syarat."
Agha tertawa. "Kenapa semua orang pakai tiga syarat sih?"
"Siapa lagi?"
"Amri."
"Oh. Berarti dia pinter." Humaira melanjutkan tanpa jeda. "Satu. Gue bendahara. Semua uang masuk dan keluar dicatat terbuka. Gak ada duit keluarga lo yang nyelonong masuk diam-diam. Dua. Jangan pernah jadiin gue juru bicara soal kejadian di rutan. Itu urusan gue sama Mas Rangga, bukan bahan kampanye. Tiga. Jangan telepon gue lewat jam sepuluh malam kecuali ada yang mau meninggal."
"Setuju. Semuanya."
"Jangan cepet-cepet setuju."
Agha tertawa lagi. Lebih lepas kali ini. Kalimat yang sama persis dengan yang diucapkan Amri. Dua orang paling keras kepala yang pernah ia temui, dan dua-duanya kini ada di timnya.
Setelah telepon ditutup, ia masih duduk di teras masjid dengan sebelah sepatu terbuka. Senyumnya tidak mau hilang. Indra yang baru keluar dari masjid berhenti di sebelahnya.
"Lo kenapa senyum-senyum sendiri? Kesambet?"
"Humaira gabung."
"Oh." Indra mengangguk. Lalu memandangi wajah sahabatnya lebih lama. "Terus kenapa senyumnya gitu amat?"
Agha langsung mengikat tali sepatunya. Cepat-cepat.
"Gitu gimana? Biasa aja."
Indra mengangkat alis tinggi-tinggi. Tapi ia memilih tidak berkomentar. Untuk sekarang.
@@@