Rabu, pukul tujuh lewat empat puluh. Mobil hitam itu sudah terparkir di pinggir jalan depan rumah panggung. Agha keluar dengan kaus abu-abu polos, celana training, dan sepatu kets lama yang biasa ia pakai main futsal. Tidak ada jaket almamater. Tidak ada map. Ia hanya membawa botol minum dan sajadah lipat di dalam tas.
Yudi yang sedang menyapu halaman sampai berhenti menyapu.
"Bang Agha? Beneran dateng?"
"Beneran. Bang Amri mana?"
"Di belakang. Lagi ngasih makan ayam."
Amri tidak menyambutnya dengan senyum. Ia hanya melirik jam di pergelangan tangan, lalu mengangguk sekali. Seolah tepat waktu memang sudah seharusnya, bukan sesuatu yang perlu dipuji.
"Hari ini lo ikut Yudi," katanya. "Pipa biodigester bocor dari kemarin. Dapur gak bisa masak pakai gas. Kalau sampai Zuhur belum beres, anak-anak makan nasi dingin."
"Oke."
"Bisa benerin pipa?"
"Enggak."
Amri hampir tersenyum. Hampir. "Bagus. Seenggaknya lo jujur."
@@@
Ternyata membetulkan pipa jauh lebih sulit dari membaca jurnal kedokteran. Agha berjongkok di samping tabung biru besar itu selama dua jam. Tangannya belepotan lumpur hitam yang baunya membuat ia mengerti kenapa Adel menyuruhnya mandi tiga kali. Yudi dengan sabar mengajarinya cara melepas sambungan, membersihkan endapan, dan mengganti karet yang sudah getas.
"Abang anak dokter ya?" tanya Yudi sambil mengulurkan kunci pipa.
"Calon dokter. Belum jadi."
"Kok mau kotor-kotor gini?"
Agha tertawa. "Dokter juga kotor-kotor, Yud. Malah lebih kotor dari ini."
Yudi mengerutkan hidung, membayangkan. Lalu tertawa juga.
Menjelang jam sepuluh, terdengar jeritan dari arah halaman depan. Agha langsung berdiri. Aryo berjalan terpincang-pincang dengan telapak kaki berdarah. Ia tak sengaja menginjak pecahan botol kaca yang terselip di antara tumpukan sampah plastik. Anak-anak kecil berkerumun di belakangnya dengan wajah ngeri.
Amri sudah bergerak hendak mengambil kotak obat. Tapi Agha lebih cepat. Ia mencuci tangannya yang belepotan dengan sabun dan air dari jeriken, sampai bersih betul, lalu berjongkok di depan Aryo.
"Duduk dulu. Sini, kakinya taruh di sini."
Ia memeriksa luka itu dengan hati-hati. Tidak terlalu dalam, tapi cukup panjang. Agha membersihkannya dengan air mengalir, menekan perdarahannya dengan kasa, lalu membalutnya rapi. Semua dilakukan sambil mengajak Aryo mengobrol soal sepak bola supaya anak itu tak terus memandangi lukanya.
"Lukanya kena barang bekas yang kotor," katanya pada Amri setelah selesai. "Sore ini bawa ke puskesmas ya, Bang. Biar dicek lagi sama dokter jaga, sekalian ditanya perlu suntikan pencegahan atau enggak. Jangan ditunda."
Amri mengangguk. Ia memandangi balutan di kaki Aryo cukup lama. Rapi. Bersih. Bukan pekerjaan orang yang cuma pandai bicara.
"Kenapa gak langsung lo yang suntik?"
"Gue belum punya kewenangan, Bang. Lagian di sini gak ada alatnya. Yang begini harus sama yang berwenang."
Amri tidak berkata apa-apa lagi. Ia kembali ke kandang ayam.
@@@
Pipa itu akhirnya tak bocor lagi tepat ketika azan Zuhur berkumandang dari musala kecil di ujung gang. Yudi bersorak. Anak-anak ikut bersorak walau tidak paham apa yang disorakkan. Api biru menyala di kompor dapur, dan Agha merasa bangganya melebihi waktu ia menang pemilihan ketua BEM fakultas.
Mereka solat berjamaah di musala itu. Amri mendorong Agha ke depan.
"Lo yang imam."
"Abang aja. Ini kan kampung Abang."
"Gue yang nyuruh. Lo tamu, lo yang imam."
Agha akhirnya maju. Ia membaca surah dengan suara rendah dan pelan. Tidak dibuat-buat, tidak juga dimerdu-merdukan. Tapi Amri yang berdiri tepat di belakangnya bisa mendengar betapa lancarnya hafalan itu. Ayat-ayat yang jarang dibaca imam-imam kampung, mengalir tanpa tersendat.
Selesai solat, Amri tidak langsung berdiri. Ia duduk bersila lebih lama dari biasanya.
Makan siang hari itu nasi hangat, sayur bening dari rumah kaca, dan tempe goreng buatan Amri sendiri. Agha makan dua piring. Anak-anak tertawa melihat calon dokter dari kampus terkenal itu makan dengan tangan, persis seperti mereka.
Sorenya, Agha mengajar. Bukan soal politik, bukan soal BEM. Ia menggambar jantung di papan tulis dengan kapur, lalu menyuruh anak-anak menempelkan telinga ke dada temannya sendiri. Kelas mendadak riuh oleh suara dag-dig-dug yang ditirukan bersama-sama. Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun bertanya apakah jantung orang yang sedang marah berbunyi lebih kencang. Agha menjawab iya, dan anak itu langsung berteriak bahwa jantung Bang Amri pasti paling kencang. Seisi kelas tertawa. Amri yang berdiri di ambang pintu pura-pura tidak mendengar.
@@@
Menjelang Ashar, Amri mengajaknya duduk di teras. Di tangannya ada map biru itu. Map yang dulu Agha sebut proposal ta'aruf. Amri meletakkannya di antara mereka.
Agha membukanya. Ia terkejut. Hampir setiap halaman penuh coretan pulpen merah. Ada yang dicoret habis. Ada yang diberi tanda tanya besar. Ada yang diberi catatan kecil di pinggir dengan tulisan tangan rapat-rapat.
Ini omdo.
Ini bisa, tapi siapa yang ngerjain?
Ini janji. Siap ditagih?
"Gue baca semuanya," kata Amri. "Tiga kali."
Agha tertawa pelan, tak percaya. Ia membalik halaman demi halaman. Program beasiswa dicoret, diberi catatan: jangan janji duit yang belum ada, petakan dulu bantuan yang sudah ada. Program pengabdian masyarakat dicoret separuh, diberi catatan: jangan jadikan orang miskin latar foto.
"Gue mau jadi wakil lo," kata Amri tiba-tiba.
Agha mendongak.
"Dengan tiga syarat." Amri mengangkat tiga jari. "Satu. Tempat ini bukan bahan kampanye. Gak ada foto anak-anak gue di baliho lo. Dua. Kalau gue gak setuju sama keputusan lo, gue boleh bilang gak. Di depan siapa pun. Wakil bukan tukang angguk. Tiga." Ia mengetuk map itu. "Semua yang masih tersisa di sini, yang gak gue coret, harus bisa ditagih. Kalau gak jalan, lo harus ngaku gak jalan. Di depan mahasiswa."
"Setuju. Ketiganya."
"Jangan cepet-cepet setuju."
"Gue gak cepet-cepet, Bang. Gue udah mikir dari Minggu."
Amri mendengus. Tapi kali ini ia benar-benar tersenyum. Tipis, kaku, seperti orang yang sudah lama tidak melakukannya.
"Lo tahu kenapa gue akhirnya mau?"
"Karena pipanya?"
"Bukan." Amri memandang halaman tempat anak-anak kembali memilah sampah. "Karena dari pagi sampai sekarang, lo gak sekali pun ngeluarin hape buat foto."
Agha terdiam. Ia bahkan tak sadar. Ponselnya masih di dalam tas sejak ia tiba. Mungkin sudah ada puluhan pesan dari Masayu di sana.
Mereka berjabat tangan di teras rumah panggung itu. Tangan Amri kasar dan kuat. Agha menggenggamnya erat.
Begitu masuk mobil, Agha baru membuka ponsel. Empat puluh tiga pesan. Sebagian besar dari Masayu. Ia menelepon balik.
"GHA! Lo masih idup? Gue kira lo diculik! Gimana? Gimana?"
Agha menyandarkan kepalanya ke jok. Badannya pegal. Bajunya bau. Tapi ia tersenyum lebar.
"Yu, kita punya wakil."
Di seberang sana, Masayu menjerit begitu kencang sampai Agha harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
@@@