Senin pagi, Salemba diguyur gerimis. Agha mengirim pesan pada Shiren sebelum kuliah pertama dimulai.
Ren, nanti abis Zuhur bisa ketemu? Di taman depan perpus aja. Aku mau jawab yang kemarin.
Balasan datang tiga menit kemudian. Singkat.
Iya.
Agha memandangi satu kata itu lama. Ia tak bisa menebak apa yang ada di baliknya. Harapan? Ketakutan? Atau dua-duanya? Ia memasukkan ponsel ke saku dan masuk ke kelas. Sepanjang kuliah Farmakologi, ia mencatat dengan rajin. Tapi kalau ditanya apa yang dosennya terangkan, ia tak akan bisa menjawab.
Indra yang duduk di sebelahnya menyenggol bahunya. "Lo kenapa? Dari tadi nulis nama obat yang sama terus."
Agha melihat catatannya. Benar. Ia sudah menulis kata yang sama empat kali. Ia mencoretnya sambil tertawa kecil.
"Gak apa-apa. Kurang tidur."
@@@
Taman depan perpustakaan masih basah ketika Agha tiba. Bangku-bangkunya dilap seadanya oleh petugas kebersihan. Shiren sudah duduk di salah satu ujung bangku. Retno berdiri tak jauh dari sana, pura-pura sibuk dengan ponselnya di bawah pohon ketapang. Agha menyapa Retno dengan anggukan, lalu duduk di ujung bangku yang lain. Tetap berjarak. Seperti biasa.
Shiren tidak memakai lipstik berwarna hari ini. Wajahnya polos dan pucat. Matanya sembab, entah karena kurang tidur atau karena menangis semalam. Agha merasa dadanya mencelos.
"Kamu udah makan, Ren?"
"Belum laper."
"Nanti makan ya."
Shiren mengangguk kecil. Lalu hening. Gerimis kembali turun tipis-tipis. Tak cukup deras untuk membuat mereka pindah, tapi cukup untuk membuat suasana makin canggung.
"Aku udah mikir," Agha akhirnya memulai. Ia menatap lurus ke depan, ke arah gedung perpustakaan yang abu-abu. "Semalaman. Aku juga ngobrol sama Abi sama Ummi."
Shiren menoleh cepat. "Kamu cerita ke orangtua kamu?"
"Iya. Maaf kalau kamu gak suka."
"Terus... mereka bilang apa?"
Agha menarik nafas dalam. Inilah bagian tersulitnya. Ia sudah menyusun kalimat ini berkali-kali sejak Subuh, dan tetap saja semuanya terasa salah.
"Ren, kalau aku jawab iya sekarang, aku harus siap dateng ke rumah kamu minggu ini. Ngadep Mama kamu, keluarga besar kamu. Bilang aku mau nikahin kamu, padahal aku bukan sayyid. Terus kamu yang harus berdiri di depan keluarga kamu, ngelawan tradisi mereka, demi aku." Ia menelan ludah. "Dan aku belum siap, Ren. Belum siap nikah. Belum siap ngasih kamu masa depan yang pantas buat kamu perjuangkan sampai segitunya."
Shiren membeku.
"Kalau aku tetap bilang iya, itu namanya aku nyuruh kamu bertaruh. Kamu yang nanggung semua risikonya, sementara aku cuma ngasih janji. Aku gak mau begitu. Kamu terlalu berharga buat dijadiin taruhan."
"Jadi kamu gak sayang lagi sama aku?"
Pertanyaan itu meluncur pelan, nyaris tak terdengar. Agha memejamkan mata sebentar.
"Aku sayang sama kamu, Ren. Tapi aku gak yakin sayangku itu cukup buat jadi alasan kamu ninggalin keluarga kamu. Dan kalau aku gak yakin, aku gak boleh minta."
Air mata Shiren jatuh begitu saja. Ia tidak terisak. Hanya diam, membiarkan air matanya bercampur gerimis di pipi. Retno di bawah pohon ketapang sudah berhenti pura-pura main ponsel. Ia menatap ke arah mereka dengan wajah cemas.
"Kamu tahu gak sih," suara Shiren bergetar, "dari SMA, aku nungguin kamu. Waktu kamu mutusin aku, kamu bilang karena Allah. Aku terima. Aku pakai jilbab karena nasihat kamu. Waktu tahu kamu juga keterima di Kedokteran, aku seneng banget, sampai nangis. Aku pikir, suatu hari nanti, kalau udah waktunya, kamu bakal dateng."
"Aku tahu."
"Terus sekarang udah waktunya. Dan kamu gak dateng."
Agha tidak bisa membalas apa-apa. Karena semuanya benar. Ia menunduk, membiarkan kalimat itu menghantamnya tanpa membela diri.
"Maaf, Ren. Maaf karena dulu aku sering ngasih kamu perhatian yang bikin kamu nunggu. Itu salah aku. Harusnya aku tegas dari awal."
Shiren menghapus air matanya dengan ujung jilbab. Ia menatap Agha untuk pertama kalinya sejak duduk. Lama. Seolah sedang mencari-cari sesuatu di wajah itu. Lalu ia tersenyum kecil. Senyum yang patah.
"Kamu tahu yang paling nyebelin dari kamu, Gha?"
"Apa?"
"Kamu bahkan nolak orang dengan cara yang bikin orang itu makin sayang."
Agha tak tahu harus tertawa atau menangis. Jadi ia hanya diam.
"Aku masih harus ngadepin keluargaku," lanjut Shiren. "Dengan atau tanpa kamu. Aku baru sadar sekarang. Selama ini aku pengen kamu yang nyelametin aku. Padahal itu hidupku sendiri."
"Kamu gak sendirian, Ren. Ada Retno. Ada kakak kamu. Dan kalau kamu butuh apa pun yang bisa aku bantu tanpa nyakitin kamu lagi, bilang."
Shiren berdiri. Ia merapikan roknya yang basah di bagian bawah. "Makasih udah jujur. Aku kecewa. Mungkin lama kecewanya. Tapi lebih baik begini daripada aku nungguin kamu sampai umur tiga puluh."
"Ren," panggil Agha sebelum gadis itu melangkah. "Tamu dari keluarga calon itu... kapan datangnya?"
"Sabtu malam."
"Kamu udah tahu mau ngomong apa ke mereka?"
Shiren menggeleng. Lalu ia mengangkat dagunya sedikit. "Belum. Tapi sekarang aku tahu satu hal. Apa pun yang aku omongin nanti, itu harus keputusanku sendiri. Bukan karena kamu, bukan karena Mama."
Agha mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ada sedikit lega di dadanya. Bukan karena urusannya selesai. Tapi karena ia melihat Shiren berdiri sedikit lebih tegak dari biasanya.
Gadis itu berjalan menuju Retno. Retno langsung merangkulnya. Keduanya berjalan menjauh di bawah gerimis, menuju gedung kuliah. Shiren tidak menoleh lagi. Agha tetap duduk di bangku basah itu sampai azan Ashar terdengar dari masjid kampus.
@@@
Masayu melihat semuanya dari jendela lantai dua, dekat ruang BEM fakultas. Ia tidak berniat menguping. Ia hanya kebetulan sedang mencari Agha untuk membicarakan jadwal Rabu. Lalu ia melihat dua orang itu duduk di ujung bangku yang berbeda, dan Shiren yang menangis, dan Agha yang menunduk.
Ia menyandarkan dahinya ke kaca. Dingin.
Ada bagian kecil dari hatinya yang lega. Ia membenci bagian itu. Lalu ada bagian lain, yang lebih besar, yang ikut sedih. Karena ia tahu persis bagaimana rasanya mencintai Agha dan tidak mendapat apa-apa selain kebaikan. Kebaikan yang justru membuat semuanya makin sulit.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Agha.
Yu, Rabu gue tetap ke Bantargebang. Tolong geser rapat jadi Kamis malam. Sorry ngerepotin.
Masayu mengetik balasan. Menghapusnya. Mengetik lagi.
Siap, Bos. Lo udah makan belum?
Ia menatap pesan itu lama sebelum akhirnya menghapus kalimat kedua. Lalu mengirim yang pertama saja.
@@@