Mobil Rangga baru datang menjelang Magrib. Lelaki itu turun dengan kemeja yang sudah lusuh, rambut acak-acakan, dan wajah yang jelas-jelas belum tidur sejak kemarin. Ia menyalami Mama Hanafi dengan sopan, berbasa-basi sebentar soal Perancis, lalu berterima kasih pada Hanafi karena sudah menjaga adiknya.
"Hati-hati di jalan, Mas," pesan Hanafi.
"Iya. Makasih, Naf."
Humaira melambaikan tangan dari balik kaca. Hanafi membalas. Mama Hanafi juga. Keduanya masih berdiri di depan pagar sampai mobil itu berbelok di ujung kompleks. Lalu, begitu rumah putih itu hilang dari pandangan, Humaira menyandarkan kepalanya ke jendela.
Dan tangisnya pecah.
Rangga hampir menginjak rem. Ia melirik adiknya dengan panik. "Mai? Kenapa? Ada yang jahatin kamu?"
Humaira menggeleng sambil sesenggukan.
"Mamanya Hanafi ngomong yang enggak-enggak?"
Menggeleng lagi.
"Terus kenapa?"
"Hanafi mau pindah, Maaas," jawabnya di sela isak. "Ke Barca. Abis wisuda. Rumahnya mau dijual. Dia gak balik lagi."
Rangga terdiam. Ia menepikan mobil di depan sebuah minimarket, mematikan mesin, lalu menyodorkan sekotak tisu dari dasbor. Humaira menyambarnya. Menghabiskan lima lembar sekaligus. Hidungnya merah. Matanya bengkak. Benar-benar jauh dari citra orator garang yang beberapa hari lalu berani melotot ke polisi.
"Kamu sayang sama dia?"
Humaira tidak menjawab. Tapi diamnya sudah cukup jadi jawaban.
Rangga menghela nafas panjang. Sudah lama ia menduga. Sejak Hanafi datang ke kantornya beberapa bulan lalu, menceritakan rencana-rencananya dengan sangat rapi, dari wisuda sampai pekerjaan. Waktu itu Rangga sempat bertanya kenapa Hanafi repot-repot menceritakan semua itu padanya. Hanafi hanya tersenyum. Sekarang Rangga paham. Anak itu sedang pamit, dengan caranya sendiri.
"Dia pernah bilang sesuatu ke kamu?"
"Enggak."
"Kamu?"
"Ya enggak lah! Masa Maira duluan!"
Rangga hampir tertawa melihat adiknya masih sempat galak di tengah tangis. Ia mengelus kepala Humaira. Kali ini tidak ditepis.
"Mai, Mas gak bisa bilang apa-apa yang bikin kamu gak sedih. Itu bohong. Tapi Mas mau kamu inget satu hal."
"Apa?"
"Orang yang baik itu gak selalu harus kita pegang. Kadang dia cuma dititipin lewat. Biar kita belajar." Rangga menyalakan mesin lagi. "Kalau dia memang buat kamu, Allah punya seribu jalan. Kalau bukan, Allah juga punya seribu cara buat ngelapangin dada kamu."
Humaira memandangi lampu-lampu jalan yang mulai menyala. Ia tahu kata-kata itu benar. Ia hanya belum siap menerimanya malam ini.
"Mas."
"Hm?"
"Jangan bilang siapa-siapa Maira nangis."
"Termasuk Mbak Kiya?"
"TERUTAMA Mbak Kiya!"
Rangga terbahak. Humaira melemparinya dengan gumpalan tisu.
Sampai di kontrakan, Bi Inah sudah menyiapkan teh jahe. Humaira meminumnya sambil duduk di depan laptop yang sejak pagi belum dibuka. Di layar, dua berkas masih terbuka berdampingan. Kiri, visi-misi Andros yang dikirim sahabatnya itu lewat pesan, lengkap dengan stiker kadal. Kanan, ringkasan visi-misi Agha yang diteruskan Bani. Hanya ringkasan. Ia sendiri yang dulu menolak membaca lebih jauh sebelum resmi bergabung.
Jumat tinggal lima hari lagi.
Ia menatap kedua berkas itu bergantian sampai matanya perih. Lalu menutup laptop. Malam ini ia tak sanggup memutuskan apa-apa. Malam ini ia hanya ingin tidur, dan berharap besok pagi dadanya tak lagi sesesak ini.
@@@
Rumah keluarga Agha sudah sepi ketika ia pulang. Adik-adiknya sudah tidur. Hanya lampu dapur yang masih menyala. Umminya sedang menghangatkan sop, seperti biasa. Abinya duduk di meja makan sambil membaca sesuatu di tablet.
"Udah tiga kali mandinya, Ak?" tanya Akib tanpa mengangkat kepala.
Agha tertawa. "Adel ngadu ya, Bi?"
"Adel bikin pengumuman ke seluruh rumah."
Agha mencium tangan kedua orangtuanya lalu duduk. Ia makan dengan lahap. Seharian ini perutnya hanya diisi singkong rebus di Bantargebang. Airin duduk di seberangnya, memperhatikan anak sulungnya yang tampak jauh lebih lelah dari biasanya. Bukan lelah badan. Lelah yang lain.
"Ada yang mau diomongin, Ak?"
Ummi memang selalu tahu. Agha meletakkan sendoknya. Ia menimbang sebentar. Lalu akhirnya bercerita. Tentang Shiren. Tentang tradisi keluarganya. Tentang tamu dari keluarga calon yang, kata Retno, akan datang dalam waktu dekat. Dan tentang pertanyaan yang Shiren ajukan padanya di lobi fakultas kemarin sore.
Akib meletakkan tabletnya. Airin menarik nafas pelan.
"Terus kamu jawab apa?"
"Agha bilang butuh mikir panjang, Bi."
"Bagus."
Agha mengerutkan kening. Ia kira akan diomeli karena menggantung anak orang.
"Bagus karena kamu gak buru-buru jawab iya," lanjut Akib. "Coba Abi tanya. Kalau kamu bilang iya ke Shiren sekarang, terus apa?"
Agha terdiam.
"Kamu siap datang ke rumahnya minggu ini? Ngadep orangtuanya? Ngelawan tradisi yang udah dijaga turun-temurun? Kamu siap nikah tahun ini, Ak? Sambil ngurus BEM, sambil koas nanti, sambil belajar megang rumah sakit Om Fadlan?"
Agha tidak bisa menjawab. Karena jawabannya jelas. Belum.
"Kalau belum siap, terus kamu bilang iya, yang kamu kasih ke Shiren itu bukan janji. Itu harapan kosong." Suara Akib pelan tapi tegas. "Dan yang nanggung akibatnya bukan kamu, tapi dia. Dia yang harus ngelawan keluarganya. Dia yang mungkin dikucilkan. Sementara kamu masih sibuk ngejar kursi BEM."
Kalimat itu menampar. Lebih keras dari yang Agha kira.
Airin menyentuh lengan suaminya, isyarat agar tidak terlalu keras. Lalu ia sendiri yang bicara. "A'ak, Ummi tahu kamu sayang sama Shiren. Dari SMA. Ummi juga suka sama anak itu. Tapi coba tanya hati kamu baik-baik. Yang kamu sayang itu Shiren yang sekarang, atau kenangan kalian waktu SMA?"
Agha menunduk lama.
Ia teringat bagaimana belakangan ini ia jarang sekali memikirkan Shiren. Tidak saat orasi. Tidak saat berlari menembus kerumunan di Senayan. Tidak saat keluar-masuk rutan sampai tengah malam. Ia hanya teringat Shiren ketika gadis itu muncul di depannya. Selebihnya, yang ia rasakan setiap kali melihat Shiren adalah rasa bersalah karena pernah memutuskannya dulu. Dan rasa bersalah, ia baru sadar, bukan cinta.
"Abi pernah bilang, cinta pertama kesannya manis," gumamnya. "Tapi yang bertahan itu cinta terakhir."
Akib tersenyum tipis. "Abi gak nyuruh kamu ninggalin dia. Abi cuma nyuruh kamu jujur. Sama dia, sama diri kamu sendiri."
"Jujur bisa nyakitin, Bi."
"Bohong lebih nyakitin, Ak. Cuma datengnya belakangan."
Agha mengangguk pelan. Malam itu ia tidak langsung tidur. Ia solat dua rakaat lebih lama dari biasanya. Lalu duduk di atas sajadah, menatap jendela kamar yang gelap. Di grup tim sukses, pesan Masayu soal jadwal Rabu terus berdatangan. Ia membacanya satu per satu, membalas seperlunya, lalu meletakkan ponsel.
Besok ia harus bicara dengan Shiren. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Agha takut pada sebuah percakapan.
@@@