"A'ak mau ke tempat sampah lagi?"
Adel berdiri di ujung tangga dengan piyama bergambar kelinci. Rambutnya masih awut-awutan. Tangannya sudah berkacak pinggang, seperti biasa. Agha yang sedang memakai sepatu di teras langsung tertawa.
"Bukan ke tempat sampah, Teh. Ke rumah belajar."
"Sama aja! Dulu pulang dari situ A'ak bau. Mobilnya juga bau. Adel gak mau disamperin sampe A'ak mandi tiga kali!"
"Oke, my queen. Tiga kali."
Adel mengangguk puas lalu berlari ke dalam, berteriak memanggil Umminya. Agha geleng-geleng kepala. Minggu pagi begini, rumah sudah ramai. Sementara ia harus berangkat sebelum jalanan ke Bekasi berubah jadi lautan mobil.
Semalam rembukan dengan tim berlangsung sampai jam sebelas. Hasilnya, Agha berangkat berempat. Masayu tentu saja, karena dia yang selama ini berhubungan dengan Amri. Bani ikut karena ia satu-satunya yang paham seluk-beluk UI Depok. Lalu Lia, supaya Masayu tidak menjadi satu-satunya perempuan di mobil. Agha memang begitu. Urusan kecil semacam ini selalu ia pikirkan.
"Lo bawa apa aja, Yu?" tanya Agha begitu Masayu masuk mobil di depan Stasiun Cikini.
"Map cadangan, proker versi ringkas, daftar prestasi lo--"
"Itu gak usah."
"Hah?"
"Daftar prestasi gue gak usah dikeluarin. Kemarin udah. Dia gak tertarik sama itu."
Masayu cemberut tapi menurut. Ia memasukkan kembali satu map ke dalam tas. Bani yang duduk di belakang terkekeh. "Terus kita ke sana bawa apa? Muka doang?"
"Kuping," jawab Agha santai. "Hari ini kita dengerin dia."
@@@
Rumah panggung itu tampak lebih hidup di hari Minggu. Halaman depannya dipenuhi anak-anak yang sedang memilah botol plastik ke dalam karung-karung berwarna. Yudi berdiri di tengah mereka, memberi aba-aba seperti komandan upacara. Begitu melihat mobil hitam itu parkir di pinggir jalan, ia langsung masuk ke dalam rumah. Tak lama, Amri keluar. Kaus oblong, celana training, sandal jepit. Tangannya masih kotor tanah.
"Assalamualaikum," sapa Agha lebih dulu.
"Waalaikumsalam." Amri melirik ke arah mobil, lalu ke arah tangan mereka. "Gak bawa kamera?"
"Enggak."
"Spanduk?"
"Enggak juga."
Amri berdeham. Ia membalik badan. "Ikut gue ke belakang."
Ternyata di belakang rumah panggung itu ada lahan yang jauh lebih luas dari dugaan mereka. Tiga rumah kaca berjajar rapi. Di sampingnya ada kandang ayam, kolam terpal kecil, dan sebuah tabung besar berwarna biru dengan pipa-pipa yang menjalar ke dapur. Bani bersiul pelan. Lia sampai lupa menutup mulut.
"Ini... di Bantargebang?" gumam Masayu.
"Di Bantargebang," jawab Amri tanpa menoleh. Ia membuka pintu rumah kaca pertama. Udara di dalamnya sejuk dan lembap. Daun selada berderet hijau. Di ujung, paprika merah dan kuning bergelantungan. "Orang kira tanah di sini cuma bisa ditanami sampah. Gue pengen anak-anak di sini tahu kalau itu gak bener."
Agha menyentuh salah satu daun. Ia jarang terkesan pada sesuatu. Tapi kali ini ia benar-benar terkesan.
"Lo bikin sendiri semua ini?"
"Sama anak-anak. Bertahun-tahun." Amri memetik satu paprika yang sudah matang, menimbangnya di tangan. "Dan gak ada satu pun pejabat yang pernah dateng ke sini. Kecuali waktu mau pemilu."
Nadanya datar. Tapi Agha bisa merasakan ada sesuatu yang panjang di balik kalimat itu. Jadi ia diam. Menunggu.
Amri akhirnya bercerita. Tentang ayahnya yang dulu dikenal satu kabupaten karena suka menolong orang. Tentang teman lama ayahnya yang mencalonkan diri jadi bupati dan menjanjikan beasiswa untuk Amri dan dua temannya yang menang lomba teknologi lingkungan di Malaysia. Tentang ayahnya yang berkeliling kampung mempromosikan sahabatnya itu, dari masjid ke masjid, dari pos ronda ke pos ronda.
"Bupatinya menang. Telak," tuturnya. "Pas ditagih, dia bilang, santai lah Abdul, kursinya belum panas. Setahun. Dua tahun. Beasiswa gak ada. Lapangan bola gak jadi. Masjid gak direnovasi. Yang ada malah orang-orang kampung nyalahin bapak gue. Dibilang tukang ngibul. Bapak gue meninggal dengan nama yang udah rusak di kampungnya sendiri."
Hening. Hanya terdengar suara kipas kecil di sudut rumah kaca. Lia menunduk. Masayu menggigit bibir. Bani yang biasanya paling berisik pun mendadak sibuk memandangi paprika.
"Jadi kalau lo nanya kenapa gue benci politikus," Amri menatap Agha lurus, "itu jawabannya."
Agha tidak langsung membela diri. Ia menarik nafas.
"Gue gak akan bilang gue beda," katanya pelan. "Semua orang yang pernah ngecewain bapak lo juga pasti pernah bilang begitu."
Amri mengangkat sebelah alis.
"Gue cuma mau bilang, gue turut berduka. Buat bapak lo, dan buat namanya."
Untuk pertama kalinya, raut wajah Amri berubah. Sedikit saja. Lalu ia membuang muka dan keluar dari rumah kaca.
@@@
Mereka duduk di teras rumah panggung. Yudi menyuguhkan teh tawar dan singkong rebus. Anak-anak masih memilah sampah di halaman sambil sesekali mencuri pandang ke arah tamu-tamu dari kampus itu.
"Sebelum demo kemarin, ada yang dateng juga," kata Amri tiba-tiba. "Ke kampus. Nyegat gue di depan perpus."
Masayu dan Bani saling pandang.
"Andros?" tebak Agha.
"Iya. Ngomongin Firaun." Amri menyeruput tehnya. "Pinter ngomong. Kayak lo."
Bani tertawa tertahan. Masayu menyikutnya.
"Terus lo jawab apa?"
"Sama kayak ke lo. Gak minat." Amri meletakkan gelasnya. "Tapi lo bilang proposal kemarin itu proposal ta'aruf kan?"
Agha mengangguk.
"Ta'aruf itu kenalan. Gue belum kenal lo. Gue cuma kenal map." Ia menunjuk ke dalam rumah, ke arah meja yang di atasnya tergeletak map biru pemberian Agha minggu lalu. "Map bisa ditulis siapa aja."
"Terus gimana caranya biar lo kenal gue?"
Amri diam sebentar. Lalu ia berkata, "Rabu. Dateng ke sini. Sendirian. Gak usah bawa dia," ia menunjuk Masayu, "gak usah bawa dia," lalu Bani. "Gak usah bawa kamera, gak usah bawa anak BEM. Bantuin kita seharian. Abis itu baru kita ngobrol."
Masayu langsung membuka mulut hendak protes. Rabu itu jadwal kuliah Agha padat. Belum lagi rapat. Tapi Agha sudah lebih dulu menjawab.
"Oke. Rabu."
Amri menatapnya lama. Seolah ingin memastikan kalau jawaban itu bukan basa-basi. Lalu ia berdiri, menepuk-nepuk celana trainingnya.
"Dateng sebelum jam delapan. Anak-anak mulai kerja jam segitu."
Dalam perjalanan pulang, Masayu tak berhenti mengomel. Soal kuliah, soal jadwal, soal pendaftaran yang tinggal hitungan hari. Agha mendengarkan semuanya sambil menyetir. Ia baru menjawab ketika mobil sudah masuk tol.
"Yu, kalau orang yang udah dibohongin seumur hidup masih mau ngasih kesempatan sekali lagi, itu bukan hal kecil."
Masayu terdiam. Ia memandangi Agha dari samping. Lagi-lagi, laki-laki ini membuatnya kagum dengan cara yang menyakitkan. Karena ia tahu, kekaguman itu hanya akan berakhir di dalam dadanya sendiri.
@@@