Lampu merah di perempatan itu rasanya lama sekali. Humaira menghitung mobil yang lewat dari arah berlawanan. Satu, dua, tiga. Sampai sepuluh, matanya masih terasa panas. Ia mengedip-ngedip, pura-pura kelilipan. Padahal jendela mobil Hanafi tertutup rapat dan AC-nya dingin sekali.
"Kelilipan?"
"Iya. Debu."
Hanafi berdeham. Ia tahu tidak ada debu. Tapi ia juga tahu kalau Humaira itu gengsinya setinggi menara rektorat. Jadi ia diam saja. Tangannya mengecilkan suara radio yang sejak tadi memutar lagu entah apa. Hal kecil yang malah membuat Humaira ingin menangis lebih kencang. Heish!
"Mama pasti seneng banget ketemu lo," tuturnya kemudian. Mengalihkan.
"Emang Tante masih inget gue? Kan baru sekali ketemu."
"Kenal lah. Gue kan suka cerita."
"Cerita apa?"
Hanafi mendadak sibuk melihat spion. Padahal tidak ada apa-apa di belakang mereka. Humaira menyipitkan mata. Mencurigakan. Tapi ia tak bertanya lagi. Hari ini ia sedang tidak punya tenaga untuk menginterogasi siapa pun.
Mobil berbelok ke sebuah kompleks yang jalannya lebar dan pohonnya rindang. Rumah Hanafi ada di ujung. Besar, bercat putih, dengan pagar hitam yang tinggi. Humaira baru dua kali ke sini, itu pun dulu bersama Saras dan anak-anak BEM MIPA untuk rapat dadakan. Waktu itu rumahnya ramai dan berisik. Sekarang, begitu turun dari mobil, yang terdengar hanya suara burung dan kipas angin dari teras tetangga.
Rumah sebesar ini, pikirnya, dan selama ini cuma dihuni satu orang.
"Assalamualaikum!" seru Hanafi begitu membuka pintu.
"Waalaikumsalam! Itu anak Mama?"
Perempuan itu muncul dari arah dapur. Rambutnya digelung asal, masih memakai daster batik, kakinya bertelanjang. Sama sekali tidak mirip sosok perempuan karier yang konon pindah-pindah kantor dari Tiongkok sampai Perancis. Ia langsung memeluk Hanafi kuat-kuat. Lama. Humaira yang berdiri di ambang pintu jadi ikut tersenyum.
"Kurus kamu. Makan apa aja selama Mama pergi?"
"Makan nasi, Ma."
"Nasi apa? Nasi bungkus depan kampus?"
Hanafi tertawa. Ketahuan. Lalu Mamanya menoleh ke arah Humaira. Matanya melebar. Senyumnya lebih lebar lagi.
"Ini Maira?"
"Iya, Tante. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Ya ampun, aslinya lebih cantik dari foto!"
Foto? Humaira melirik Hanafi. Cowok itu sudah ngacir duluan ke dapur dengan alasan mau mengambil minum. Kentara sekali menghindar. Humaira menahan tawa. Lihat saja nanti, Hanaf.
@@@
Siangnya mereka makan bertiga di meja makan yang bisa menampung dua belas orang. Mama Hanafi memasak sendiri. Sayur asem, ikan asin, sambal terasi. Katanya, selama di Paris, yang paling ia rindukan justru masakan kampung begini. Roti di sana enak, tapi lidahnya tetap lidah Indonesia.
"Hanafi dari kecil gak bisa makan kalau gak ada sambal," ceritanya. "Waktu Mama pertama kali tugas ke Shanghai, dia nangis tiap malam. Bukan kangen Mama. Kangen sambal."
"Ma!"
Humaira terbahak sampai harus menutup mulut dengan tangan. Hanafi memijat keningnya. Pasrah. Martabatnya sebagai bendahara BEM universitas runtuh di depan sepiring ikan asin.
Selesai makan, Mama mengeluarkan sebuah kotak kayu dari kamar. Kotak foto. Isinya berantakan, sebagian sudah menguning. Ada Hanafi kecil memakai seragam TK dengan gigi ompong. Ada Hanan yang masih bayi digendong kakaknya. Ada juga foto mereka bertiga di depan Menara Eiffel, di depan kuil di Kyoto, di depan entah gedung apa lagi. Selalu bertiga. Selalu di tempat yang berbeda.
"Ini kapan, Tante?"
"Itu lebaran tiga tahun lalu. Kami lebaran di Tokyo karena Hanan lagi ujian. Hanafi nyusul sendirian naik pesawat."
Humaira memandangi foto itu lama. Di sana Hanafi tersenyum lebar. Tapi entah kenapa, Humaira bisa melihat ada yang kosong di senyumnya. Senyum orang yang sudah terbiasa merayakan hari raya di bandara.
Ponsel Hanafi berdering. Panggilan video. Wajah seorang remaja berkacamata memenuhi layar. Rambutnya acak-acakan, sepertinya baru bangun.
"Kak! Mama udah sampe?"
"Udah. Nih."
Hanan melambai pada Mamanya, lalu matanya menyipit melihat sosok di sebelah kakaknya. "Eh? Itu Kak Maira ya?"
Lagi-lagi. Humaira menoleh pelan ke arah Hanafi. Telinga cowok itu sudah merah.
"Kok Hanan juga tahu gue?"
"Ya tahu lah, Kak. Kak Hanafi kalo telepon, ceritanya Kak Maira mulu. Kak Maira demo lah, Kak Maira dapet sponsor lah, Kak Maira--"
"Han, sinyal lo jelek nih. Putus-putus," potong Hanafi cepat lalu menekan tombol merah. Begitu saja.
Mama Hanafi tertawa sampai matanya berair. Humaira menunduk, berusaha keras memasang wajah biasa saja. Gagal. Pipinya panas. Ia mengambil satu foto lagi dari kotak hanya supaya tangannya punya kesibukan.
@@@
Menjelang Ashar, Hanafi pamit ke masjid kompleks. Tinggal Humaira dan Mama di ruang tengah. Kotak foto masih terbuka di antara mereka. Humaira baru selesai solat di kamar tamu dan kini duduk bersila di karpet.
"Hanafi udah cerita soal Barcelona?"
Humaira mengangguk. "Udah, Tante. Tadi di mobil."
"Kamu sedih?"
Pertanyaan itu datang begitu saja. Tanpa basa-basi. Humaira tak menyiapkan jawaban. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Mama Hanafi tersenyum. Ia merapikan foto-foto yang berserakan. "Tante gak lagi nanya-nanya buat ngegosip. Tante cuma mau kamu tahu sesuatu."
"Apa, Tante?"
"Anak Tante yang satu itu," ia mengangguk ke arah pintu, "dari kecil kalau sayang sama sesuatu, malah diem. Mainan kesayangannya gak pernah dipamerin. Disimpen di laci. Takut rusak, katanya. Sampai sekarang begitu. Kalau dia sayang sama orang, dia lebih milih diem daripada bikin orang itu repot."
Humaira terpaku. Ia memandangi karpet. Motif bunganya mendadak menarik sekali.
"Tante gak minta kamu ngapa-ngapain. Tante juga gak tahu isi hati kamu. Tapi Tante ini ibunya. Tante pernah ninggalin dia terlalu lama. Jadi sekarang Tante belajar buat lebih peka." Ia menepuk punggung tangan Humaira pelan. "Kalian berdua sama-sama anak baik. Apapun nanti jalannya, Tante doain."
"Makasih, Tante," jawabnya pelan. Hanya itu yang sanggup keluar.
Pintu depan terbuka. Hanafi pulang sambil menenteng plastik berisi es kelapa. Tiga bungkus. Ia berhenti di ambang pintu melihat dua perempuan itu duduk diam dengan mata sama-sama basah.
"Kenapa? Kok pada nangis?"
"Kelilipan," jawab Mama dan Humaira bersamaan.
Hanafi mengerutkan kening. Lalu menghela nafas. Ia tahu, untuk hari ini, lebih baik ia tidak bertanya.
Ia malah ikut duduk di karpet, membagikan es kelapa satu per satu, lalu menyedot miliknya sendiri sambil memandangi kotak foto. Humaira meliriknya diam-diam. Cowok yang di kampus selalu rapi, selalu sibuk, selalu tahu jawaban dari setiap soal Fisika itu, sekarang duduk bersila dengan kemeja kusut dan es kelapa di tangan. Persis anak kecil yang baru saja dijemput ibunya pulang sekolah.
Di dinding ruang tengah, Humaira baru sadar ada beberapa paku tanpa bingkai. Bekas foto yang sudah diturunkan. Dua kardus kosong bersandar di pojok, menunggu diisi.
Rumah ini benar-benar sedang bersiap ditinggalkan.
Humaira menyedot es kelapanya dalam-dalam. Dingin. Manis. Tapi tenggorokannya tetap terasa sesak.
@@@