Lyla cepat-cepat mengusap pipinya, seolah air mata itu bisa dihapus sebelum siapa pun sempat melihatnya. Bayangan di cermin tetap memperlihatkan mata merah dan senyum yang terlalu dipaksakan. Kalimatnya sendiri masih menggantung di udara: ia akan pulang, Bumi menunggunya. Tetapi sekarang kata pulang terasa seperti pintu yang harus ditutup di belakang seseorang yang ingin ia pertahankan.
Ketukan pelan terdengar dari pintu.
“Nyonya Lyla? Saya membawa teh hangat.” Suara Tala terdengar berhati-hati.
Lyla menarik napas, lalu membuka pintu. “Masuk saja. Tapi kalau kau bertanya kenapa mataku seperti habis mengupas bawang, aku akan menyalahkan lampu.”
Tala masuk membawa nampan. Telinga kucingnya menunduk prihatin. Ia meletakkan cangkir di meja tanpa mendesak Lyla menjelaskan apa pun. Sikap itu justru membuat pertahanan Lyla runtuh sedikit demi sedikit.
“Aku senang Putri Elf itu datang,” kata Lyla akhirnya. “Dia mungkin cocok untuk Aresh. Dia bisa membantunya menjalin aliansi, mungkin juga membuatnya bahagia.” Ia mengangkat cangkir, tetapi tidak segera minum. “Seharusnya aku senang karena misi ini akhirnya bisa selesai.”
“Namun Nyonya tidak merasa senang.”
“Tidak.” Lyla menatap permukaan teh. “Kalau aku pulang, aku harus meninggalkan dia. Kalau aku tinggal, berarti aku memilih kehidupan yang bahkan belum kupahami.”
Tala duduk di kursi seberang. “Nyonya tidak harus memutuskan malam ini. Sang Putri bahkan belum tiba. Kunjungan itu belum berarti pernikahan.”
“Aku tahu. Tapi aku sudah membayangkan akhirnya. Begitu ada perempuan yang pantas untuk Aresh, aku tinggal bilang misi selesai, lalu—” Lyla terhenti. “Lalu aku pulang. Kalimat itu dulu terdengar menyenangkan.”
Tala tidak menyela. Ia membiarkan hening bekerja, bukan mengisinya dengan nasihat yang tak diminta.
“Aku tidak mau menghalangi Aresh,” lanjut Lyla. “Aku juga tidak mau pura-pura tidak cemburu. Dua hal itu ternyata bisa terjadi sekaligus. Menyebalkan sekali.”
“Perasaan memang tidak selalu mengikuti rencana.”
Lyla tertawa pendek, lalu menghela napas. “Besok aku akan tetap membantu. Aku sudah menjanjikan itu. Tapi kali ini aku mau tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi, bukan langsung mengumumkan bahwa tugasku selesai.”
Tala tersenyum tipis. “Itu terdengar lebih bijaksana daripada membuat formulir audisi.”
“Formulir itu punya kolom penting.”
“Kolom apa?”
“Apakah kandidat pingsan kalau Aresh tersenyum.”
Tawa kecil Tala memecah kesunyian. Untuk sesaat, kamar itu terasa kembali seperti tempat yang aman.
Pagi berikutnya, Lyla menemui Liram di ruang kerja Aresh. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu, lalu menunggu izin masuk. Liram mengangkat alis melihat perubahan tata krama itu, tetapi tidak berkomentar.
“Aku ingin bertanya soal Putri Elf,” ujar Lyla. “Kapan tepatnya dia tiba? Aku tidak ingin menyimpulkan misi selesai hanya karena mendengar kabar dari koridor.”
Liram meletakkan pena. “Jadwal terakhir menyebutkan rombongan akan tiba dalam dua hari. Namun, Yang Mulia masih menunggu konfirmasi resmi mengenai waktu kedatangan.”
“Jadi belum ada pertunangan?”
“Tidak ada. Yang dibicarakan adalah kunjungan untuk menjajaki aliansi. Pernikahan menjadi salah satu kemungkinan yang akan dibicarakan, bukan keputusan yang telah dibuat.”
Lyla mengangguk perlahan. Penjelasan itu tak mengusir rasa cemburunya, tetapi setidaknya membuatnya berhenti membangun kesimpulan dari kabar setengah matang.
“Aku akan membantu menyambutnya. Tapi aku ingin tahu apa yang diinginkan Aresh juga, bukan hanya apa yang cocok di atas kertas.”
Liram menatapnya lebih lembut. “Saya akan memastikan Yang Mulia mengetahui bahwa Anda menanyakan jadwal, bukan membuat keputusan untuknya.”
Saat Lyla keluar, ia berpapasan dengan Aresh di koridor. Raja itu memandang wajahnya sejenak, menangkap sesuatu yang berubah.
“Kau tidur?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Matamu merah.”
“Lampunya menyebalkan.”
Aresh tidak membantah. Ia hanya berjalan di sampingnya tanpa memaksa jawaban. Lyla menyadari diamnya tidak terasa dingin seperti biasanya. Itu membuat dadanya makin sesak.
“Aku sudah bertanya kepada Liram soal jadwal Putri Elf,” katanya.
“Aku tahu.”
“Dia bilang rombongannya mungkin tiba dua hari lagi. Belum ada pertunangan, hanya pembicaraan.”
“Benar.” Aresh berhenti dekat jendela tinggi. “Dan kau tidak perlu mengurusnya sendirian.”
“Aku yang bilang akan membantu mencarikanmu istri.”
“Aku tidak meminta kau menyakiti dirimu untuk menepati janji itu.”
Lyla membeku. Jawaban ringan yang biasa ia siapkan tak kunjung keluar. Ia menunduk, menghindari mata emas Aresh.
“Aku tahu,” katanya pelan. “Aku cuma belum tahu bagaimana caranya membantu tanpa berharap sesuatu.”
Aresh tak mendekat. Ia memberi ruang, tetapi suaranya tetap hangat. “Kalau begitu, kita cari tahu perlahan.”
Mereka melanjutkan langkah ke arah ruang makan. Lyla belum menemukan jawaban. Namun untuk pertama kalinya sejak mendengar kabar Putri Elf, ia tak merasa harus berpura-pura sudah memiliki semuanya.