Lyla menghabiskan pagi dengan Tala di ruang persiapan tamu. Ia meminta daftar kebutuhan rombongan, lalu menatapnya seperti sedang menghadapi ujian yang soalnya ditulis dalam bahasa kuno.
“Berapa jenis teh yang harus disediakan?” tanyanya.
“Yang lazim untuk tamu kerajaan ada tiga.”
“Dan kalau dia tidak suka ketiganya?”
“Kita tanyakan saat beliau tiba.”
“Bagus. Aku hampir saja menyuruh dapur membuat satu kebun teh.”
Tala menahan senyum sambil memeriksa linen. “Anda tidak perlu membuat semuanya sempurna. Kita hanya perlu menyambut dengan hormat.”
“Aku tahu. Tapi kalau dia tidak nyaman, bagaimana bisa bicara soal aliansi? Kalau dia kecewa pada Aresh, bagaimana kalau—” Lyla berhenti sendiri. Ia sadar pikirannya sudah melompat jauh ke urusan yang bukan miliknya.
Tala merapikan tumpukan kain. “Anda boleh peduli pada kenyamanan tamu. Anda tidak perlu bertanggung jawab atas keputusan yang akan dibuat beliau dan Yang Mulia.”
Lyla mengangguk, lalu mencoret tiga daftar yang baru saja ditulisnya. “Baik. Satu meja, satu ruangan, makanan yang layak. Tidak perlu membuat festival penyambutan.”
Ia masih gelisah. Mengatur kamar terasa lebih mudah daripada memikirkan kemungkinan Aresh memilih perempuan lain. Saat dirinya sibuk memastikan setiap vas berada di tempat yang tepat, ia tidak harus membayangkan kehilangan tawa kaku Aresh atau kebiasaannya menunggu ocehan Lyla di perpustakaan.
Menjelang siang, Liram datang membawa lembar jadwal yang telah diperbarui.
“Konfirmasi resmi sudah tiba,” katanya. “Rombongan Putri Elf diperkirakan sampai lusa sebelum matahari terbenam. Mereka meminta penyambutan sederhana dan pertemuan awal dengan Yang Mulia.”
“Lusa,” ulang Lyla. Kata itu tiba-tiba terasa sangat dekat.
“Apakah beliau akan langsung membahas pernikahan?”
“Agenda yang dikirim hanya menyebut aliansi dan hubungan kedua kerajaan. Detail pernikahan belum disepakati.”
Lyla menaruh tangannya di meja. “Terima kasih sudah memastikan. Tolong jangan tulis aku sebagai pengatur calon istri atau semacamnya. Aku membantu sebagai penghuni istana.”
Liram mencatat. “Saya akan menyampaikan hal itu kepada Yang Mulia. Anda ingin hadir saat penyambutan?”
Lyla ragu sesaat. “Ya. Tapi aku tidak akan mengambil alih pembicaraan. Kalau mereka ingin bicara politik, biarkan mereka bicara politik.”
“Pilihan yang masuk akal.”
“Jangan terdengar terkejut. Aku juga bisa masuk akal sesekali.”
“Saya tidak terkejut, Nona Lyla. Saya hanya mencatatnya sebagai peristiwa langka.”
Lyla menyipitkan mata. Liram menunduk sopan, tetapi sudut bibirnya bergerak. Ia sudah belajar bahwa sekretaris itu punya humor yang disembunyikan di balik tumpukan dokumen.
Sore harinya, Lyla membawa daftar persiapan ke ruang kerja Aresh. Kali ini ia mengetuk. Setelah Aresh mempersilakan masuk, ia meletakkan kertas di meja.
“Jadwal kedatangan sudah dikonfirmasi. Lusa sebelum matahari terbenam.”
Aresh membaca catatan itu. “Liram sudah memberitahuku.”
“Bagus. Aku tidak mau jadi orang yang menyebarkan kabar setengah matang lagi.”
“Daftar ini terlalu panjang.”
“Isinya cuma kebutuhan kamar dan jamuan.”
“Empat belas jenis bunga?”
“Yang itu pilihan cadangan.”
“Lyla.”
“Baik, tujuh.”
Aresh mendorong kertas itu kembali. “Kita akan menyambutnya dengan hormat. Tidak perlu mengubah istana menjadi taman.”
“Setuju. Aku cuma ingin dia merasa disambut, bukan sedang mengikuti audisi yang aneh.”
“Tidak akan ada audisi.” Suara Aresh menjadi tegas. “Dia datang sebagai tamu dan utusan. Keputusan apa pun menyangkut pernikahan harus berasal dari kami berdua.”
“Kami berdua?”
“Aku dan sang putri.” Ia memandang Lyla. “Bukan kau. Bukan Liram. Bukan dewan yang menganggap keputusan itu sudah selesai sebelum kami bicara.”
Lyla terdiam. Ketegasan itu membuatnya kagum sekaligus takut. “Kau benar-benar tidak akan menerima pernikahan hanya demi aliansi?”
“Aku tidak akan menjanjikan hidupku kepada seseorang yang belum kukenal. Dan aku tidak akan meminta dia melakukan hal serupa.”
“Kalau begitu, kenapa menerima kunjungannya?”
“Karena aliansi bisa dibicarakan. Pernikahan bukan satu-satunya cara untuk membangun hubungan baik.”
Lyla merasakan bahunya turun sedikit. Mungkin ia telah membayangkan kemungkinan terburuk terlalu cepat. Tetapi rasa lega yang muncul justru membuatnya merasa bersalah.
“Aku senang kau bilang begitu,” ucapnya.
Aresh mengamati wajahnya. “Kau tampak lega.”
“Karena aku tidak ingin dia dipaksa. Itu saja.” Lyla buru-buru mengangkat daftar bunga. “Dan karena tujuh jenis bunga sudah cukup merepotkan.”
Aresh membiarkannya mengganti topik, tetapi tatapannya berkata ia tak percaya seluruh alasan itu. Ia tidak mendesak. Lyla menghargai pilihannya untuk tidak melakukannya.
Mereka meninjau jamuan bersama Liram. Pertemuan itu singkat dan praktis: kamar tamu disiapkan, penyambutan dibuat sederhana, dan pertemuan resmi menunggu keputusan kedua pihak setelah rombongan tiba.
Malamnya, Lyla kembali ke kamarnya dengan rasa gugup yang tak bisa dibereskan seperti kain meja. Lusa Putri Elf akan datang. Ia tak tahu apa yang akan berubah setelahnya. Namun sekarang ia tahu setidaknya satu hal: tak seorang pun berhak menganggap masa depan Aresh telah diputuskan untuknya.