Setelah makan malam privat yang penuh debaran itu, Lyla bangun dengan tekad baru yang membara. Di pikirannya, pengakuan Aresh tentang "istana yang terasa lebih hidup" hanyalah bukti bahwa Naga itu memang butuh teman hidup—tapi bukan dirinya. Lyla masih setia pada misinya dari Orion. Ia merasa harus segera menemukan wanita yang tepat untuk Aresh agar ia bisa kembali ke Bumi dan menyelamatkan nyawanya yang sedang sekarat.
Maka, dimulailah "Proyek Makcomblang Agung" versi Lyla.
Lyla meminta Tala menyiapkan sebuah ruangan khusus di sayap barat istana. Ia bahkan nekat meminta Liram, sang sekretaris kerajaan, untuk mengirimkan undangan ke berbagai klan bangsawan dan desa-desa Suin terkemuka. Isinya singkat dan sangat tidak formal: "Dicari: Calon Istri Raja Naga. Kriteria: Sabar, Cantik, dan tidak takut sisik. Lokasi: Ruang Cempaka. - Lyla."
Liram hampir saja merobek surat itu jika Aresh tidak memberikan anggukan setuju. Sang Raja Naga hanya duduk di kursinya, memperhatikan Lyla yang sibuk mengatur kursi audisi dengan ekspresi yang sulit ditebak. Aresh tidak menghentikannya. Entah karena ia ingin melihat sejauh mana Lyla beraksi, atau karena ia justru menikmati setiap detik kehadiran Lyla yang mengacaukan rutinitasnya.
Hari audisi pertama tiba. Lyla duduk di sebuah meja panjang dengan tumpukan formulir buatannya sendiri. Di sebelahnya, Aresh duduk di kursi kebesaran yang terlihat sangat kontras dengan suasana ruangan yang kini lebih mirip kantor pendaftaran sekolah.
"Oke, kandidat nomor satu! Silakan masuk!" seru Lyla dengan semangat.
Seorang gadis cantik dari klan Bangsawan Merpati masuk dengan langkah gemulai. Gaunnya sangat indah, dan wajahnya sangat anggun. Namun, begitu ia mengangkat wajah dan melihat Aresh yang duduk dengan tatapan emas yang tajam dan tangan bersedekap, lutut gadis itu langsung lemas.
"Halo! Aku Lyla. Ini Raja Aresh. Jangan tegang ya, dia tidak makan orang—kecuali kalau lapar sekali, haha!" canda Lyla, mencoba mencairkan suasana.
Bukannya tertawa, gadis itu justru semakin pucat. Ia menatap Aresh yang hanya diam membisu dengan aura dominan yang menyesakkan napas.
"Y-yang Mulia... s-saya..." Gadis itu tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Ketika Aresh sedikit mengerutkan kening karena merasa silau oleh cahaya matahari dari jendela, gadis itu mengira Aresh sedang marah. Ia langsung pingsan di tempat.
"Waduh! Tala! Bawa minyak kayu putih!" teriak Lyla panik.
Kejadian serupa terulang berkali-kali. Kandidat nomor lima, seorang prajurit wanita dari klan Serigala yang katanya pemberani, mendadak kehilangan keberaniannya saat Aresh bertanya dengan suara rendah, "Kenapa kau ingin menjadi istriku?"
Prajurit itu gemetar hebat. "S-saya... saya salah ruangan!" teriaknya sambil lari terbirit-b***t keluar.
Lyla menghela napas panjang, kepalanya jatuh ke atas meja dengan suara jedug. "Aresh! Tolonglah! Kau itu harus tersenyum sedikit! Jangan pasang muka seperti mau mengeksekusi tahanan politik!"
Aresh menoleh ke arah Lyla. "Aku sedang tidak melakukan apa pun. Aku hanya duduk."
"Itu dia masalahnya! Dudukmu saja sudah menakutkan! Coba, ikuti instruksiku. Tarik sudut bibirmu ke atas sedikit... perlahan... ya, begitu!" perintah Lyla sambil menarik-narik pipinya sendiri sebagai contoh.
Aresh mencoba mengikuti instruksi Lyla. Ia menarik sudut bibirnya ke atas. Namun, bukannya terlihat ramah, senyumnya justru terlihat seperti seringai predator yang siap memangsa korbannya.
Lyla menutup wajahnya dengan tangan. "Ya ampun... itu bukan senyum, itu ancaman kematian. Lupakan saja. Kita lanjut ke kandidat berikutnya."
Namun, hingga matahari terbenam, tidak ada satu pun wanita yang berhasil bertahan lebih dari dua menit di depan Aresh. Mereka semua kabur dengan alasan yang beragam, mulai dari "sakit perut mendadak" hingga "ingat kalau jemurannya belum diangkat".
Meskipun usahanya hari itu gagal total, Lyla tidak menyerah. Keesokan harinya, dan hari-hari berikutnya, ia tetap mencoba mencari cara. Namun tanpa disadari, kegagalan-kegagalan audisi ini justru membawa Lyla dan Aresh semakin dekat.
Karena audisi sering berakhir lebih cepat (karena semua calon istri kabur), mereka punya banyak waktu luang. Aresh, yang biasanya menghabiskan waktu dengan tumpukan dokumen, kini lebih sering terlihat berjalan-jalan di koridor istana bersama Lyla.
Mereka sering menghabiskan waktu di perpustakaan besar. Lyla yang penasaran sering bertanya tentang sejarah Avantera, sementara Aresh dengan sabar menjelaskan setiap detailnya. Kadang, Lyla menceritakan tentang dunianya—tentang gedung-gedung tinggi, tentang sepeda jengkinya, dan tentu saja, tentang kecintaannya pada kucing.
"Jadi, kau mati karena menyelamatkan makhluk kecil seperti itu?" tanya Aresh suatu sore saat mereka duduk di balkon perpustakaan.
"Iya. Konyol ya?" Lyla tertawa kecil, meski matanya menatap kejauhan dengan rindu. "Tapi aku tidak menyesal. Dia masih kecil, hidupnya masih panjang. Kalau aku... yah, setidaknya aku sempat melakukan sesuatu yang berguna."
Aresh menatap profil samping wajah Lyla. Cahaya senja menyinari wajah gadis itu, memberikan aura keemasan yang cantik. "Kau tidak konyol, Lyla. Kau... berani. Terlalu berani untuk manusia sekecilmu."
Lyla menoleh dan mendapati Aresh sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat lembut—tatapan yang tidak pernah diperlihatkan sang Raja pada siapa pun. Jantung Lyla berdesir aneh. Ia segera membuang muka, wajahnya terasa panas.
"Eh, omong-omong! Aku dengar dari Tala kalau naga itu suka menyimpan harta karun. Mana hartamu? Emas? Permata?" tanya Lyla, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan gaya sembrononya.
Aresh terdiam sejenak, lalu matanya menatap tepat ke arah mata Lyla. "Dulu, hartaku adalah wilayah kekuasaan dan emas. Tapi sekarang... sepertinya hartaku adalah sesuatu yang jauh lebih berisik dan sering menarik tanganku ke mana-mana."
Lyla mengerjapkan mata. "Hah? Apa maksudmu? Kau punya radio kuno yang bisa jalan sendiri?"
Aresh hanya mendesah pelan, menggelengkan kepalanya melihat ketidakpekaan Lyla yang luar biasa. "Lupakan saja. Kau memang lebih bodoh dari kelihatannya."
"Hei! Kau baru saja menghinaku?!" Lyla memukul lengan Aresh dengan gemas.
Mereka mulai kejar-kejaran di perpustakaan, sesuatu yang sangat tabu dilakukan di tempat suci itu. Para pelayan yang lewat hanya bisa mengintip dari balik pintu dengan wajah terkejut. Mereka melihat Raja mereka yang agung sedang tertawa—ya, benar-benar tertawa—sambil menghindari lemparan bantal sofa dari Lyla.
Hubungan mereka mengalir begitu saja. Lyla yang sembrono perlahan mulai terbiasa dengan keberadaan Aresh. Ia tidak lagi takut pada suara beratnya atau tatapan tajamnya. Baginya, Aresh kini bukan lagi "Naga Berdarah Dingin", melainkan "Naga Kaku yang Butuh Banyak Belajar Tentang Hidup".
Di sisi lain, Aresh semakin terbiasa dengan sentuhan-sentuhan spontan Lyla. Ia tidak lagi merasa risih saat Lyla menarik tangannya atau menyentuh bahunya. Malahan, ia mulai merasa ada yang kurang jika sehari saja ia tidak mendengar ocehan Lyla yang tidak masuk akal.
Namun, di tengah kedekatan yang mulai tumbuh subur itu, sebuah berita besar datang ke istana. Kabar dari kerajaan jauh menyebutkan bahwa Putri Elf yang terkenal cantik dan bijaksana akan segera datang untuk mengunjungi Avantera—dan tujuannya sangat jelas: menjalin aliansi melalui pernikahan dengan sang Raja Naga.
Lyla yang mendengar berita itu dari Tala, mendadak merasa dadanya sesak. Bukankah ini yang dia inginkan? Seorang kandidat yang sempurna, yang cantik, dan mungkin tidak akan pingsan saat melihat Aresh?
"Ini bagus, kan?" gumam Lyla pada dirinya sendiri saat ia bercermin malam itu. "Misi selesai. Aku pulang. Bumi, tunggu aku."
Namun, air mata yang tiba-tiba jatuh di pipinya menceritakan kisah yang berbeda. Lyla jatuh cinta, dan dilema terbesarnya baru saja dimulai.
To be continued.....