Lyla terbangun ketika cahaya pagi masuk melalui jendela. Pita yang dipakai saat upacara terletak di meja samping ranjang, dilipat rapi. Ia menatapnya beberapa saat, lalu menyadari bahwa ia sudah menikah dengan Aresh. Tidak ada suara terompet atau perubahan mendadak di istana. Hanya pagi biasa setelah hari yang penting.
Ia bangkit dan mengenakan pakaian nyaman. Sebelum keluar, ia bertanya kepada Tala melalui pintu apakah ia sedang punya waktu. Tala menjawab ya. Lyla membuka pintu dan bertanya apakah sarapan sudah disiapkan.
“Sudah, tapi Anda boleh makan di mana saja,” kata Tala.
“Boleh aku sarapan denganmu?”
Tala tersenyum. “Tentu.”
Mereka duduk di ruang makan kecil. Lyla memilih roti dan buah, lalu bertanya tentang pekerjaan Tala hari itu. Tak ada yang memperlakukan Lyla seperti ratu atau menunggu perintahnya. Keadaan itu membuatnya tenang.
“Aku senang tak ada yang berubah hanya karena aku menikah,” katanya.
“Beberapa hal memang akan berubah seiring waktu,” jawab Tala. “Namun Anda tetap boleh menentukan perubahan yang Anda inginkan.”
Lyla mengangguk. Ia tak ingin berpura-pura bahwa pernikahan tidak mengubah apa pun. Ia kini berbagi hidup dengan Aresh, tetapi tetap memiliki kehendak dan ruang sendiri.
Aresh mengirim pesan bahwa ia berada di balkon perpustakaan. Ia bertanya apakah Lyla ingin bergabung untuk sarapan kedua atau hanya duduk berbincang. Lyla menjawab ingin bertemu, tetapi tak perlu menyiapkan makanan lagi. Ia sudah sarapan.
Di balkon, Aresh berdiri ketika Lyla datang. “Selamat pagi, istriku,” katanya, lalu berhenti sejenak. “Apakah kau nyaman dengan sapaan itu?”
Lyla tersenyum. “Nyaman. Tapi jangan gunakan di rapat kerajaan.”
“Aku tidak akan.”
Mereka duduk berdampingan, tanpa pita dan tanpa protokol. Lyla bertanya apakah Aresh tidur nyenyak. Ia menjawab cukup baik, meskipun bangun lebih awal dari biasa. Mereka membicarakan jalannya upacara, makanan yang disajikan, dan bagaimana Naran hadir sebagai tamu tanpa harus menyampaikan restu atau membawa simbol apa pun.
“Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya,” kata Lyla. “Tapi aku tak mau memaksa percakapan.”
“Kau bisa menulis pesan singkat. Ia bebas membalas atau tidak.”
Lyla menulis pesan sederhana: terima kasih telah hadir sebagai teman, dan ia menghormati keputusan Naran tentang amber. Ia meminta Aresh tidak menyertakan pesan itu dalam urusan istana. Setelah membaca ulang, ia mengirimkannya melalui jalur pribadi.
Tak lama kemudian, Naran membalas singkat bahwa ia senang Lyla dan Aresh menjalani pilihan mereka dengan jujur. Ia tetap menyimpan amber, bukan sebagai tanda kepada Lyla, melainkan sebagai benda yang masih ingin ia simpan. Lyla menghargai jawabannya dan tidak menanyakan lebih lanjut.
Setelah pesan itu, Lyla mengingat Orion. Misi telah mengirimnya ke Avantera, tubuhnya di Bumi telah dilepaskan dari penahanan, dan ia telah memilih tinggal. Namun ia ingin tahu apakah bantuan yang ia berikan kepada Aresh memenuhi tujuan awal.
“Aku ingin menghubungi Orion sekali lagi,” katanya. “Bukan untuk mengubah pilihanku. Aku ingin menutup pertanyaan tentang misi.”
Aresh bertanya apakah ia ingin ditemani. Lyla menjawab ya, tetapi ia sendiri yang akan bicara. Mereka memanggil Orion dari balkon, menggunakan cara yang sama seperti sebelumnya. Setelah jeda, sosok Orion muncul.
Lyla bertanya, “Apakah misiku selesai? Aresh memilih hubungan yang ia inginkan dengan bebas, dan aku juga memilih hidupku dengan sadar.”
Orion menjawab ya. Tujuan misi telah tercapai: Aresh telah menghadapi keinginannya dan memilih untuk membangun hubungan tanpa paksaan. Pernikahan mereka bukan syarat, tetapi pilihan bebas keduanya menutup tugas itu.
“Apakah ada tugas berikutnya?”
“Tidak. Misi itu selesai.”
Lyla mengembuskan napas. Ia tak meminta penjelasan lain. “Terima kasih. Aku ingin hidup tanpa misi untuk sementara.”
Orion tersenyum tipis. “Itu pilihanmu.”
Setelah ia pergi, Lyla menatap halaman. Ia merasa ringan dan sedih sekaligus. Misi yang dulu menjadi alasan keberadaannya kini telah selesai. Ia tetap berada di Avantera bukan karena tugas, melainkan karena ia memilih hidup di sana.
Aresh bertanya apakah ia ingin berbicara tentang pernikahan atau misi. Lyla menjawab, “Nanti. Sekarang aku ingin membaca.”
“Baik.”
Mereka kembali ke perpustakaan. Lyla memilih buku yang ia sukai, dan Aresh membuka laporan kerajaan. Hari setelah pernikahan berjalan dengan cara yang sederhana, dan Lyla menyukainya.
Sebelum Aresh membuka laporannya, Lyla menyelesaikan tehnya dan mengamati rak-rak di seberang balkon. Ia sudah sering duduk di sana, tetapi pagi itu tempat tersebut terasa berbeda. Tidak karena kini ia istri raja, melainkan karena tidak ada jadwal misi yang menunggu untuk mengisi setiap jamnya.
“Aku mau kembali membantu katalog,” katanya. “Bukan karena harus membuktikan diri pantas tinggal di istana. Aku memang suka membaca dan merapikan daftar buku.”
Aresh menutup laporan. “Kalau suatu hari kau tidak suka lagi, kau boleh berhenti.”
“Dan kalau aku hanya ingin membaca tanpa menyusun apa pun?”
“Perpustakaan tetap mengizinkan pengunjung duduk.”
“Bagus. Aku akan memakai hak istimewaku sebagai pengunjung biasa.”
Mereka tertawa kecil. Lyla menjelaskan bahwa ia juga ingin berjalan-jalan di kota, mempelajari kebiasaan Avantera lebih jauh, dan sesekali menghabiskan waktu sendiri. Ia belum tahu kegiatan mana yang akan bertahan lama. Untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu tidak terasa seperti kegagalan.
Aresh mendengarkan tanpa menyela. Ia tidak menawarkan jabatan atau membicarakan apa yang seharusnya dilakukan seorang istri raja. Setelah Lyla selesai, ia berkata bahwa ia dapat membantu mengatur jadwal bila diminta, tetapi tidak akan mengisi hari-harinya tanpa persetujuan.
“Aku ingin kita bertanya sebelum membuat rencana atas nama satu sama lain,” ujar Lyla.
“Sepakat.”
“Termasuk makan malam?”
“Terutama makan malam. Aku tak mau kau mengira harus menungguku jika rapatku terlambat.”
Lyla menyukai jawaban itu. Hal-hal kecil seperti makan bersama pun bisa menjadi pilihan yang menyenangkan selama tidak berubah menjadi kewajiban diam-diam. Mereka sepakat akan saling memberi kabar, lalu mencari waktu lain jika salah satu sedang sibuk.
Ketika Aresh kembali membaca laporan, Lyla berjalan ke sisi balkon dan membuka jendela lebar-lebar. Udara pagi membawa aroma daun basah dari taman. Ada kesedihan yang sesekali masih datang saat ia membayangkan Bumi, tetapi ia tak perlu mengusirnya agar bisa menikmati hari ini.
Ia mengambil sebuah buku dari rak dekat pintu. “Aku akan mulai dari sini. Kalau ceritanya buruk, aku menyalahkanmu karena memilihkan rak.”
“Aku tidak memilihkan apa pun.”
“Justru itu. Rak ini kurang pengawasan.”
Kali ini Aresh tersenyum sambil membaca. Lyla duduk tak jauh darinya dan mulai membuka halaman pertama. Tak ada misi, janji besar, atau jawaban akhir yang harus dicari. Pagi itu, membaca satu bab saja sudah cukup.