Pagi upacara, Lyla bangun dengan perut terasa penuh kupu-kupu. Tala datang setelah mengetuk dan bertanya apakah Lyla siap dibantu mengenakan pakaian. Lyla mengizinkan. Mereka menggunakan pakaian ringan yang dipilih bersama, tanpa mahkota atau hiasan tanduk.
“Bagaimana rasanya?” tanya Tala.
“Nyaman. Aku masih bisa bernapas dan bergerak. Ini awal yang bagus.”
Tala tertawa. Ia membantu merapikan lengan baju setelah meminta izin, lalu mundur untuk memastikan Lyla merasa nyaman. Tidak ada yang tergesa-gesa.
Lyla memilih membawa sendiri pita yang akan dipasang saat upacara. Ia meminta Tala menyimpannya sampai waktunya, tetapi menegaskan ia dapat membatalkan simbol tersebut kapan saja.
Di taman, Aresh menunggu tanpa mahkota. Ia mengenakan pakaian resmi yang sederhana. Naran hadir di antara tamu dan berdiri bersama Liram. Ia tidak membawa amber dan tak diminta memberi restu. Saat mata mereka bertemu, Lyla menyapa dengan anggukan. Naran membalas.
Liram membuka upacara dengan menjelaskan bahwa mereka berkumpul untuk menyaksikan pilihan Lyla dan Aresh. Ia tidak menyebut misi, perjodohan, atau kewajiban kerajaan. Lalu ia bertanya kepada Aresh apakah ia bersedia menikahi Lyla atas kemauannya sendiri.
“Ya,” jawab Aresh.
Liram bertanya kepada Lyla. Ia menarik napas, melihat Aresh, lalu menjawab, “Ya. Aku memilih menikah dengannya.”
Tak ada sentuhan sebelum janji. Mereka mengucapkan kalimat yang telah mereka susun. Aresh berjanji mendengar dan menghormati batas Lyla. Lyla berjanji berbagi hidup tanpa menyerahkan dirinya sebagai milik. Mereka tidak menjanjikan kesempurnaan.
Setelah janji, Aresh bertanya apakah Lyla mengizinkannya memasangkan pita di pergelangan tangannya. Lyla melihat pita dan mengangguk. Aresh memasangnya longgar, lalu bertanya apakah nyaman. Lyla menjawab ya.
Lyla kemudian bertanya apakah Aresh mengizinkan ia memasangkan pita di tangannya. Aresh menyetujui. Lyla mengikatnya dengan longgar, menghindari tanduknya sepenuhnya. Mereka saling memandang dan tersenyum.
Liram menyatakan mereka telah menikah sesuai pilihan bersama. Tidak ada ciuman yang diwajibkan. Aresh bertanya apakah Lyla ingin memeluknya. Lyla menjawab ya, dan mereka berpelukan singkat. Saat Lyla melepaskan diri, Aresh melepaskan lebih dulu.
Para tamu memberi selamat. Tala memeluk Lyla setelah bertanya, dan Lyla menerimanya. Naran mengucapkan selamat dengan sopan. Ia tak berkata apa pun tentang cinta atau amber.
“Semoga kalian saling menjaga,” katanya.
“Terima kasih,” jawab Lyla.
Upacara sederhana itu berakhir dengan jamuan kecil di taman. Lyla makan, tertawa, dan berbicara dengan Tala. Aresh duduk di sampingnya, tetapi mereka tidak harus terus bersentuhan untuk menunjukkan bahwa mereka telah menikah.
Menjelang senja, Lyla dan Aresh kembali ke balkon perpustakaan. Mereka masih memakai pita di pergelangan tangan. Lyla memeriksa apakah ikatan pita Aresh nyaman; ia menjawab ya.
“Aku senang hari ini berlangsung seperti yang kita pilih,” kata Lyla.
“Aku juga.”
“Kita masih perlu memikirkan gelar.”
“Kita akan membicarakannya saat kau siap.”
Lyla tersenyum. Pernikahan itu tidak mengakhiri pilihannya; ia tetap memiliki suara dalam hidup yang mereka bangun. Hari itu hanya menegaskan satu keputusan yang dibuat dengan sadar.
Saat malam berakhir, Lyla melepaskan pita dari pergelangan tangannya dan bertanya apakah Aresh ingin menyimpan miliknya atau melepasnya juga. Aresh memilih melepas. Mereka menyimpan kedua pita di meja, bukan sebagai tanda putus, melainkan karena tak wajib memakainya terus.
“Aku ingin memakai lagi besok,” kata Lyla. “Tapi aku mungkin berubah pikiran.”
“Tak masalah.”
Mereka beristirahat tanpa upacara tambahan. Lyla merasa pernikahan tak menghapus kebebasannya; hari berikutnya tetap akan berisi pilihan kecil yang mereka buat bersama.
Setelah para tamu pulang, Lyla bertanya kepada Aresh apakah ia ingin melepas pita. Ia menjawab ya, dan Lyla membantu setelah meminta izin. Mereka menyimpannya di meja agar dapat memakai lagi jika mau, bukan karena wajib.
“Pernikahan kita tidak bergantung pada pita,” kata Lyla.
“Benar.”
Mereka menutup malam dengan berjalan ke balkon perpustakaan. Tak ada mahkota atau gelar baru. Hanya dua orang yang memilih menikah dan masih bebas menentukan bagaimana hari esok berjalan.
Lyla sempat merasa lelah oleh suara dan ucapan selamat. Ia meminta Tala menunjukkan jalan ke ruang baca kecil. Tala bertanya apakah ia ingin Aresh ikut; Lyla menjawab ia ingin beberapa menit sendiri. Aresh menerima dan tetap di taman bersama tamu.
Di ruang baca, Lyla melepas pita dari pergelangan tangannya dan meletakkannya di meja. Ia tak merasa perlu mengenakannya terus-menerus. Ia memandang rak buku, lalu menyadari ia masih bisa kembali ke kegiatan yang dipilihnya sendiri setelah hari pernikahan.
Tala mengetuk pintu. Lyla mempersilakannya masuk, dan mereka berbicara sebentar tentang upacara. Lyla mengatakan ia senang tak ada satu pun bagian yang membuatnya merasa harus menyerahkan kendali. Tala mengingatkan bahwa ia dapat terus memberi tahu Aresh tentang batasnya, bahkan setelah menikah.
“Aku akan melakukannya,” kata Lyla. “Menikah bukan berarti kita berhenti bertanya.”
Mereka kembali ke taman setelah Lyla siap. Aresh menyambutnya dengan pertanyaan apakah ia ingin duduk bersama atau kembali ke balkon. Lyla memilih balkon, lalu mereka pergi berdua tanpa pengiring.
Di sana, mereka melepas pita masing-masing setelah bertanya. Mereka sepakat menyimpannya di laci, bukan memakainya sebagai tanda bahwa mereka saling memiliki. Lyla berkata ia mungkin ingin memakainya lagi besok, atau tidak sama sekali.
Aresh menjawab bahwa ia akan menanyakan lagi esok hari. Lyla tertawa kecil. Hari pernikahan berakhir dengan pilihan kecil yang tetap dapat berubah.
Mereka tak menetapkan apa pun untuk pagi berikutnya selain sarapan bersama jika sama-sama menginginkannya. Lyla merasa lega bahwa bahkan sebagai pasangan, mereka tetap dapat bertanya dan memilih ulang.