Menjelang senja, Lyla dan Aresh kembali ke balkon perpustakaan. Mereka membawa teh dan dua buku yang berbeda. Sejak misi Orion dinyatakan selesai, Lyla merasa waktu di hadapannya berubah. Tak ada tugas yang menentukan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
“Aneh rasanya,” katanya. “Dulu setiap hari kupikirkan bagaimana menyelesaikan misi. Sekarang aku bisa memilih hari esok tanpa bertanya apakah itu membantu menjodohkanmu.”
Aresh tersenyum. “Kau tidak pernah berhasil menjodohkanku.”
“Aku berhasil membuatmu berhenti pura-pura tak butuh siapa pun.”
“Itu benar.”
Lyla menyesap teh. Ia tahu keputusan tinggalnya berarti tubuh Bumi telah dilepas dan nasib akhirnya tak diketahui. Ia masih merindukan dunia asalnya, tetapi tak lagi menganggap rindu sebagai bukti bahwa ia salah memilih. Ia bisa membawa kenangan Bumi ke dalam hidupnya di Avantera.
“Apakah kau menyesal?” tanya Aresh.
“Tidak. Tapi aku mungkin akan sedih pada hari-hari tertentu. Aku mungkin akan bertanya-tanya bagaimana kalau aku pulang.”
“Kau boleh merasakan itu.”
“Dan kau tak akan menganggapnya berarti aku tidak mencintaimu?”
“Tidak.”
Lyla menatap Aresh. “Aku ingin tetap punya kegiatan sendiri. Aku akan mencoba membantu katalog lagi, tapi kalau bosan, aku akan berhenti.”
“Aku akan mendukungmu.”
“Dan aku belum mau gelar permaisuri.”
“Kau tak perlu memilihnya.”
“Kalau suatu hari aku berubah pikiran?”
“Kita bicarakan saat itu.”
Lyla tersenyum. Ia senang jawaban Aresh tidak menjadikan masa depan sebagai janji yang harus dipenuhi. Mereka akan membangun hidup dengan pertanyaan, penyesuaian, dan pilihan yang bisa diperbarui.
Mereka membicarakan cara mengelola waktu bersama. Aresh akan tetap menjalankan tugas kerajaan, sementara Lyla akan menata kegiatannya sendiri. Mereka sepakat makan bersama jika keduanya tersedia, tetapi tidak menjadikannya aturan yang membuat salah satu merasa gagal bila ada urusan lain.
“Kalau kau terlalu sibuk, aku akan mengingatkan,” kata Lyla.
“Dan jika kau membuat daftar empat belas kegiatan, aku akan mengingatkanmu untuk memilih tiga saja.”
“Tiga belas.”
“Dua.”
“Tujuh.”
“Empat.”
Lyla mengangkat cangkir sebagai tanda tawar-menawar. “Lima dan satu waktu istirahat wajib.”
Aresh tertawa. Suaranya lepas dan hangat, bukan seringai predator yang dulu membuat kandidat audisi pingsan. Lyla ikut tertawa sampai hampir menumpahkan teh.
“Aku menikahi raja yang ternyata bisa tertawa,” katanya.
“Dan aku menikahi perempuan yang dulu berniat mengadakan audisi untukku.”
“Masih bisa kuadakan kalau kau mulai menyebalkan.”
“Tidak ada kandidat yang akan datang.”
“Aku akan membuat formulirnya sendiri.”
Aresh tertawa lebih keras. Lyla menyandarkan siku di meja, memandangi pria yang dulu ia sebut naga kaku. Ia tak menyentuh tanduknya; ia tahu batas itu dan tak perlu menjadikan cinta alasan untuk melanggarnya.
Saat matahari tenggelam, mereka menutup buku. Lyla bertanya apakah Aresh ingin berjalan di taman. Ia mengiyakan. Sebelum beranjak, ia bertanya apakah Lyla ingin menggenggam tangannya. Lyla menjawab ya, lalu mereka berjalan berdampingan.
Lyla masih Lyla dari Bumi dan kini juga Lyla yang memilih tinggal di Avantera. Ia adalah istri Aresh, tetapi bukan miliknya. Misi telah selesai, tubuh di Bumi telah dilepas, dan kehidupan baru mereka dimulai bukan sebagai kewajiban, melainkan pilihan yang dibuat bersama.
Sesudah berjalan beberapa langkah di taman, mereka berhenti di dekat kolam dangkal. Beberapa ikan berwarna keemasan bergerak di bawah permukaan. Lyla bersandar pada pagar batu, sementara Aresh berdiri di sampingnya dengan jarak yang nyaman.
“Dulu aku mengira setelah memilih tinggal, semua keraguan akan hilang,” kata Lyla. “Ternyata tidak begitu. Pilihan besar tidak menghapus bagian hidup yang lain.”
“Tidak seharusnya,” jawab Aresh. “Kau tidak perlu merasa bersalah karena masih mengingat Bumi.”
“Aku ingin tetap bercerita tentang hal-hal kecil dari sana. Makanan yang kurindukan, jalan yang pernah kulewati, atau kebiasaan aneh yang mungkin tidak masuk akal di sini.”
“Aku akan mendengarkan.”
“Kalau kau bosan, bilang juga. Aku tidak ingin kenanganku berubah menjadi kewajiban untukmu.”
Aresh mengangguk. “Dan aku akan bercerita tentang hal-hal yang kusukai di Avantera, tanpa menganggap kau harus menyukainya juga.”
Lyla memandang ikan-ikan itu. Ada banyak hal yang belum ia kenal tentang tempat ini. Ia ingin mempelajarinya dengan rasa ingin tahu, bukan karena harus membayar keputusannya untuk tinggal. Ia juga ingin sesekali membiarkan dirinya tidak melakukan apa-apa.
“Bagaimana kalau suatu hari aku ingin bepergian sendirian?” tanyanya.
“Kita bicarakan tempat dan keamanannya. Aku tak akan menganggap keinginanmu pergi sejenak sebagai penolakan terhadapku.”
“Dan kalau kau perlu waktu sendiri?”
“Aku akan mengatakannya langsung, bukan menghilang di balik rapat.”
“Bagus. Aku bisa menerima kalimat ‘aku butuh waktu’, tapi tidak bisa membaca pikiran naga.”
“Bahkan naga tidak bisa membaca pikiran naga lain.”
“Berarti selama ini kau hanya menebak-nebak isi pikiranku?”
“Sering kali.”
Lyla tertawa. “Kau ternyata jauh lebih berani daripada yang kukira.”
Mereka melanjutkan perjalanan mengitari taman. Aresh bertanya apakah Lyla ingin menggenggam tangannya. Setelah Lyla menjawab iya, ia mengulurkan tangan dan menunggu sampai Lyla menyambutnya. Sentuhan itu sederhana. Justru karena diminta, Lyla bisa menerimanya tanpa merasa harus membalas dengan sesuatu yang belum ia inginkan.
Di dekat jalan setapak, Lyla melihat semak berbunga yang ia ingat dari hari-hari awalnya di istana. “Aku dulu sibuk mengatur hidupmu. Sekarang mungkin aku harus mengatur hidupku sendiri.”
“Dengan daftar?”
“Daftar itu alat yang sangat berguna.”
“Terakhir jumlahnya empat belas.”
“Itu daftar cita-cita, bukan jadwal.”
“Kalau begitu, tulis juga istirahat sebagai cita-cita.”
Lyla mengangguk seolah mempertimbangkan usul itu dengan serius. “Baik. Nomor satu: tidur siang. Nomor dua: membaca. Nomor tiga: membuat daftar baru.”
“Dan kapan kau melaksanakan nomor satu?”
“Setelah selesai menyusun daftar.”
Aresh menghela napas pura-pura pasrah, lalu tertawa. Lyla ikut tertawa, menyadari betapa jauh suara itu dari hari-hari ketika ia menganggap tawa Aresh sebagai sesuatu yang harus dipancing demi keberhasilan misi. Kini ia tidak perlu membuktikan apa pun. Mereka bisa tertawa karena leluconnya memang lucu—atau karena tidak lucu sama sekali.
Mereka kembali ke arah perpustakaan saat langit berubah jingga. Tak ada keputusan baru yang perlu diumumkan malam itu. Gelar permaisuri masih bisa dibicarakan kelak, urusan kerajaan tetap menjadi tanggung jawab Aresh, dan Lyla bebas menemukan tempatnya sendiri sedikit demi sedikit.
Di ambang pintu, Lyla menoleh kepadanya. “Besok kita buat daftar kegiatan?”
“Boleh. Tiga saja.”
“Lima.”
“Empat.”
“Lima dan satu waktu istirahat wajib.”
Aresh tertawa lagi ketika Lyla mengusulkan membuat daftar kegiatan untuk besok. Ia bilang hanya tiga. Lyla menjawab lima. Raja Naga tertawa bersama perempuan yang dahulu ingin mencarikan istri untuknya.
TAMAT