Liram menyiapkan daftar adat pernikahan naga dan menyerahkannya kepada Lyla serta Aresh untuk diperiksa. Lyla membaca setiap bagian dengan saksama. Beberapa hanya berupa ucapan, sementara satu bagian menyebut kedua pasangan saling menyentuhkan dahi sebagai simbol ikatan.
“Aku belum tentu nyaman dengan sentuhan itu,” kata Lyla.
Aresh segera menjawab, “Kita bisa menghapusnya.”
“Apakah itu penting bagi keluargamu atau kerajaan?”
“Tidak ada adat yang lebih penting daripada persetujuan kita.”
Lyla menginginkan penjelasan tentang apa yang dianggap simbol dan apa yang dapat diubah. Liram menjelaskan bahwa upacara dapat disesuaikan, selama keduanya mengucapkan janji dan menyatakan persetujuan. Tak ada kewajiban menyentuh tanduk Aresh.
“Aku juga tidak ingin ada yang menyentuh ekor atau telinga Suin sebagai bagian hiburan,” kata Lyla. “Aku tahu tidak semua tamu Suin, tapi itu bukan properti.”
Naran, yang datang untuk membahas pengamanan, mengangguk. “Terima kasih. Saya tak ingin hal itu menjadi bagian upacara.”
Lyla bertanya apakah ia bersedia hadir. Naran mengatakan ia telah memutuskan datang, tetapi sebagai panglima dan teman, bukan sebagai simbol kisah cinta yang tak terbalas. Lyla menyambut keputusannya dan memastikan ia tak akan diberi tugas untuk mengantar mempelai atau memegang amber.
“Saya akan hadir dan duduk bersama tamu,” kata Naran. “Itu yang nyaman bagi saya.”
“Baik. Terima kasih sudah memilih sendiri.”
Mereka meninjau kembali upacara. Pita akan dipasang oleh masing-masing setelah meminta izin. Lyla dapat berhenti kapan saja. Janji yang akan diucapkan tidak menyebut kepemilikan atau kewajiban tunduk; mereka akan menyatakan pilihan saling menemani dan menghormati batas.
Lyla menyusun kalimatnya sendiri: ia memilih Aresh sebagai pasangan, akan berbicara jujur, dan tetap menjadi dirinya sendiri. Ia tak berjanji tak akan pernah berubah pikiran tentang gelar, pekerjaan, atau tempat tinggal.
Aresh menulis janji yang serupa. Ia akan mencintai Lyla tanpa menganggapnya milik, mendengar batasnya, dan membangun kehidupan bersama dengan keputusan setara. Ia tak berjanji akan selalu sempurna, tetapi akan berusaha memperbaiki kesalahan.
“Kalimatmu bagus,” kata Lyla. “Tapi jangan janjikan hal yang tak bisa kau lakukan.”
“Aku akan mengubah bagian yang terdengar mutlak.”
Tala membantu Lyla mencoba pakaian yang telah dipilih. Ia meminta izin sebelum memperbaiki kerah dan menanyakan apakah kainnya nyaman. Lyla menjawab ada bagian yang terasa sesak, lalu mereka menggantinya dengan potongan lebih longgar.
Lyla menyadari cara sederhana itu membuatnya merasa tenang. Ia dapat mengatakan tidak pada pakaian, adat, atau sentuhan, dan persiapan akan menyesuaikan.
Malam hari, Aresh bertanya apakah ia ingin latihan mengucapkan janji. Lyla menolak untuk malam itu. Aresh menerima, dan mereka sepakat mencoba lagi esok hari. Tidak ada yang harus hafal semuanya agar dianggap siap.
Lyla meminta Tala menunggu di ruang persiapan sampai ia siap. Ia tak ingin diarak atau dituntun tanpa bertanya. Tala menyetujui dan bertanya apakah Lyla ingin berjalan sendiri menuju taman. Lyla menjawab ya.
Di taman, Aresh telah menunggu bersama Liram. Naran duduk di antara tamu, tanpa lambang khusus. Tak ada kerumunan besar atau delegasi politik. Mereka yang hadir adalah orang-orang istana yang dekat dengan keduanya.
Liram memulai dengan mengatakan upacara dapat dihentikan kapan saja. Ia lalu bertanya kepada Aresh apakah ia memilih menikahi Lyla atas kehendaknya sendiri. Aresh menjawab iya, lalu menambahkan bahwa ia menerima Lyla tanpa gelar yang belum dipilih.
Liram bertanya kepada Lyla. Ia berkata, “Aku memilih menikah dengan Aresh. Aku tetap Lyla, dan aku memilih ini dengan sadar.”
Mereka mengucapkan janji yang telah disusun. Aresh berjanji menghormati ruang dan pilihan Lyla. Lyla berjanji berbicara jujur dan membangun kehidupan bersamanya tanpa menyerahkan dirinya sebagai milik.
Aresh meminta izin sebelum memasangkan pita di pergelangan tangan Lyla. Ia mengiyakan. Pita itu diikat longgar, lalu Aresh bertanya apakah nyaman. Lyla mengatakan ya. Lyla kemudian meminta izin memasangkan pita pada Aresh, dan ia menyetujui.
Tak ada bagian yang melibatkan tanduk. Tidak ada sentuhan lain yang tidak disepakati. Setelah janji selesai, Aresh bertanya apakah Lyla ingin memeluknya. Lyla menjawab iya dan mereka berpelukan singkat. Saat Lyla mundur, Aresh melepaskannya tanpa menahan.
Liram menyatakan mereka telah menikah. Para tamu memberi selamat, tetapi tak ada yang memanggil Lyla permaisuri. Naran mengucapkan selamat dengan tulus dan kembali duduk. Lyla berterima kasih tanpa menyentuhnya.
Jamuan kecil berlangsung di taman. Lyla makan, berbicara dengan Tala, dan menertawakan komentar Aresh tentang roti yang terlalu manis. Ia merasa bahagia dan gugup sekaligus.
Mereka sepakat tidak membuat pengumuman kedua tentang gelar. Malam itu mereka kembali ke balkon perpustakaan sebagai pasangan yang baru menikah, tetapi masih berbicara seperti dua orang yang memilih saling mengenal.
Pagi upacara, Lyla meminta Liram membacakan urutan acara sekali lagi. Ada empat langkah: pernyataan pilihan, janji, pemasangan pita dengan izin, lalu penutupan. Jika salah satu meminta berhenti, acara berhenti.
“Apakah kita bisa memulai kembali jika hanya butuh jeda?” tanya Lyla.
“Bisa,” jawab Liram. “Tidak ada batas berapa kali.”
Lyla merasa tenang. Ia tak ingin takut bahwa berhenti berarti merusak seluruh acara. Tala membantu menyiapkan pakaiannya, meminta izin setiap kali membetulkan kain. Aresh bersiap di taman terpisah agar mereka tidak perlu mengikuti kebiasaan bertemu sebelum upacara jika Lyla tak menginginkannya.
Ketika Lyla berjalan ke taman, ia memilih sendiri jalurnya dan berhenti sebentar untuk menyapa Naran. “Terima kasih sudah datang.”
“Saya datang karena memilih,” jawab Naran. “Saya berharap Anda bahagia.”
Lyla mengangguk dan melanjutkan langkah. Ia tidak memeluk Naran atau meminta ia berdiri sebagai saksi khusus.
Di taman, Liram menyampaikan bahwa upacara tidak akan berlangsung jika salah satu pihak berubah pikiran. Ia bertanya kepada Aresh terlebih dahulu. Aresh menjawab tegas bahwa ia memilih menikah dan memahami semua batas yang disepakati.
Ketika giliran Lyla, ia berkata, “Aku siap melanjutkan. Kalau aku meminta jeda, aku ingin kita berhenti.”
Aresh menjawab, “Tentu.”
Mereka mengucapkan janji masing-masing tanpa membaca naskah panjang. Lyla berkata ia memilih berbagi hidup, tetapi tetap memiliki dirinya sendiri. Aresh berkata ia memilih mencintai tanpa memiliki dan mendengarkan tanpa memaksa.
Liram lalu menunjukkan pita dan bertanya apakah Lyla ingin melanjutkan ke bagian itu. Lyla menjawab ya. Aresh meminta izin memasang pita. Ia mengiyakan dan mengangkat pergelangan tangannya. Ikatan dibuat longgar; Lyla meminta penyesuaian sedikit dan Aresh segera melakukannya.
Lyla meminta izin memasangkan pita pada Aresh. Ia menyetujui. Lyla menghindari tanduknya dan memasang pita hanya di pergelangan tangan. Setelah itu mereka saling bertanya apakah nyaman. Keduanya menjawab ya.
Tidak ada ciuman atau sentuhan lain yang diwajibkan. Aresh bertanya apakah Lyla ingin berpelukan. Ia mengiyakan, mereka berpelukan singkat, lalu berpisah ketika Lyla melepaskan tangan.
Liram menyatakan mereka telah menikah. Para tamu memberi selamat dari jarak yang wajar. Tala memeluk Lyla setelah bertanya. Naran tetap di tempatnya dan mengucapkan selamat tanpa dijadikan simbol kisah lama.
Jamuan kecil di taman berjalan santai. Lyla memilih makanan sendiri dan duduk bersama Tala, lalu berbincang dengan Aresh ketika ia menginginkannya. Mereka tak harus selalu berdampingan.