Pagi itu Lyla dan Aresh memeriksa pengumuman untuk terakhir kali. Liram membacakan setiap kalimat di ruang pertemuan kecil. Tak ada kata “mengambil”, “mewarisi”, atau “calon permaisuri”. Hanya tertulis bahwa Aresh dan Lyla telah memilih menikah setelah membicarakan masa depan dan batas masing-masing.
“Apakah kau siap menyampaikannya?” tanya Aresh.
Lyla mengangguk. “Aku ingin menyampaikan sendiri.”
Mereka mengundang para pejabat dan pelayan istana ke aula kecil, bukan ke ruang takhta. Aresh berdiri di samping Lyla, bukan di depan seperti orang yang mengumumkan keputusan untuknya. Tala dan Liram menunggu di dekat pintu.
Aresh memulai dengan mengatakan bahwa ia dan Lyla akan menikah. Ia menjelaskan bahwa keputusan itu dibuat bersama, dan Lyla belum memilih gelar kerajaan.
Lyla melanjutkan, “Aku memilih menikah dengan Aresh karena aku ingin membangun hidup bersamanya. Aku belum menjadi permaisuri, dan tidak ada keputusan tentang gelar hari ini. Kami akan menentukan upacara bersama.”
Beberapa pelayan saling pandang. Ada yang tersenyum, ada yang tampak terkejut. Liram meminta mereka menahan pertanyaan pribadi, dan Aresh berkata Lyla tidak wajib menjelaskan semua hal di depan umum.
Seorang pejabat bertanya apakah pernikahan akan memperkuat aliansi dengan kerajaan Elf. Aresh menjawab bahwa urusan itu tidak berkaitan. Hubungan diplomatik dilanjutkan melalui surat sesuai pilihan Putri Elf.
“Pernikahan ini bukan perjanjian politik,” kata Lyla. “Tolong jangan menulisnya begitu.”
Liram mencatat penegasan itu. Tak ada pertanyaan tentang Orion atau Bumi. Lyla merasa lega karena mereka tidak menjadikan masa lalunya sebagai pengumuman publik.
Setelah pengumuman selesai, beberapa pelayan mendekat untuk mengucapkan selamat. Lyla menerima ucapan mereka dengan senyum, tetapi meminta agar tak ada yang menyentuhnya tanpa bertanya. Seorang pelayan mengangkat tangan hendak memeluk, lalu berhenti dan bertanya. Lyla setuju menerima pelukan singkat. Ia merasa dihormati.
Tala membantu mengatur meja kecil untuk teh. Aresh tetap di sisi Lyla, tetapi tidak menyentuhnya saat ia sedang berbicara dengan orang lain. Mereka memberi ruang masing-masing.
Naran belum datang. Lyla tak menanyakan apakah ia berubah pikiran. Liram mengatakan undangan tetap terbuka sampai upacara, tetapi tak akan ada pengingat yang memaksanya menjawab.
Menjelang siang, Aresh dan Lyla kembali ke balkon. Mereka membahas bagaimana rasanya menyampaikan keputusan itu. Lyla mengatakan ia gugup, tetapi tidak merasa kehilangan kendali.
“Karena kau bicara dengan kata-katamu sendiri,” kata Aresh.
“Dan karena kau tidak berdiri di depanku seperti raja yang menyatakan sesuatu.”
“Aku tak ingin mengumumkanmu. Aku ingin kita mengumumkan pilihan bersama.”
Lyla menggenggam tangannya setelah meminta izin. Mereka berdiri sebentar menghadap taman, lalu Lyla melepaskan tangannya dan berjalan kembali. Aresh membiarkannya.
Sore itu Tala membentangkan beberapa contoh pakaian sederhana. Lyla memilih kain yang ringan dan mudah bergerak. Ia belum memilih detail lain. Mereka tak menetapkan tanggal sampai semua persiapan yang berhubungan dengan persetujuan dibicarakan.
Pengumuman telah disampaikan, tetapi pernikahan belum berlangsung. Lyla menyadari bahwa menyatakan pilihan kepada orang lain tidak menghapus haknya untuk terus membentuk keputusan berikutnya.
Lyla bertanya apakah Naran sudah memutuskan akan hadir. Liram mengatakan Naran belum menjawab undangan. Lyla meminta agar tak ada yang mengingatkannya; ia bebas datang atau tidak.
Tak lama kemudian Naran datang sendiri. Ia mengatakan bersedia hadir sebagai tamu, tetapi tak ingin diminta berdiri di samping Lyla atau memberi lambang tertentu. Lyla menyetujui.
“Terima kasih sudah memilih hadir,” katanya. “Kau tidak perlu melakukan apa pun selain menjadi tamu.”
Naran mengangguk. “Saya juga ingin memastikan tidak ada yang menjadikan saya bagian dari kisah cinta kalian.”
“Tidak akan.”
Mereka membicarakan amber sekali lagi. Naran berkata ia masih menyimpannya dan tidak akan memberikannya pada hari pernikahan. Ia tak ingin batu itu dibaca sebagai simbol persetujuan atau penolakan. Lyla berterima kasih dan tak meminta melihatnya.
Sebelum pergi, Naran menyampaikan bahwa ia telah memaafkan Lyla atas pelanggaran batas terdahulu, namun itu tidak menghapus fakta bahwa tindakannya salah. Lyla menerima ucapannya tanpa meminta ia menjelaskan lebih jauh.
Di ruang persiapan, Tala menunjukkan pakaian yang akan dipakai Lyla. Ia meminta izin setiap kali merapikan kerah atau lengan. Lyla menyetujui sentuhan itu, lalu meminta Tala berhenti saat kain terasa terlalu ketat. Mereka menggantinya dengan yang lebih nyaman.
Mereka meninjau daftar adat. Sentuhan dahi telah dihapus. Tidak ada sentuhan telinga, ekor, atau tanduk. Tanda pita hanya dipasang setelah masing-masing bertanya. Jika Lyla berubah pikiran saat upacara, prosesi akan berhenti.
Lyla meminta Liram menambahkan bahwa tak ada ciuman wajib. Liram menyetujui dan memasukkannya ke urutan acara. Aresh memastikan ia juga nyaman dengan perubahan itu.
“Aku tak butuh simbol yang membuat salah satu dari kita terpaksa,” katanya.
Lyla merasa tenang. Upacara mereka tak harus mengikuti semua kebiasaan lama. Mereka dapat memilih bagian yang bermakna dan menghapus yang tidak sesuai.
Lyla bertanya kepada Naran secara pribadi apakah ada hal yang membuatnya tak nyaman terkait kehadirannya. Naran mengatakan ia tidak ingin orang menganggap dirinya memberi restu atas hubungan mereka atau menjadi bagian simbolis upacara.
“Tidak ada yang akan menempatkanmu di dekat kami kecuali kau memilih,” kata Lyla.
“Saya datang sebagai tamu. Itu saja.”
“Baik.”
Mereka sepakat bahwa jika Naran berubah pikiran, ia boleh membatalkan tanpa menjelaskan. Lyla tak akan bertanya atau mengirim orang untuk membujuknya. Naran mengatakan ia menghargai cara Lyla menyampaikannya.
Tala membantu Lyla memilih bunga kecil untuk taman. Ia bertanya sebelum menempelkan pita di lengan baju Lyla. Lyla menyetujui, lalu meminta pita dipindah sedikit karena terasa gatal. Tala segera membetulkannya.
“Bagaimana kalau upacara terasa terlalu ramai?” tanya Tala.
“Aku akan minta jeda.”
“Dan kita akan berhenti.”
Lyla menambahkan itu ke rencana. Ia ingin ada tempat tenang di dekat taman dan tak ada musik keras. Aresh setuju agar Lyla bisa keluar kapan pun.
Mereka tidak menyiapkan acara besar. Persiapan tetap sederhana dan dapat diubah sampai hari berlangsung.