Lyla meminta Tala menemani dirinya menemui Naran. Ia tak ingin membicarakan kabar pernikahan di lapangan latihan atau saat Naran bekerja. Liram membantu mencari waktu ketika panglima itu telah menyelesaikan tugas hariannya.
Naran menyambut mereka di taman kecil dekat ruang latihan. Lyla bertanya apakah ia bersedia mendengar kabar pribadi. Naran menjawab ya dan meminta Tala tetap tinggal, sebab ia nyaman berbicara di hadapan mereka berdua.
“Aku menerima lamaran Aresh,” kata Lyla. “Kami akan menikah, tapi belum ada gelar permaisuri atau tanggal yang diumumkan.”
Naran terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Terima kasih sudah memberi tahu saya langsung.”
“Aku tidak ingin kau mendengar dari orang lain. Tapi aku juga tidak ingin kau merasa harus hadir.”
“Saya akan memikirkan apakah ingin datang. Anda tidak perlu mengundang saya hanya karena merasa bersalah.”
“Aku mengundangmu karena kau penting sebagai teman dan panglima yang pernah membantu. Tapi kau bebas menolak.”
Naran berkata ia menghargai undangan itu, namun masih perlu memproses perasaannya. Ia tak ingin hari pernikahan menjadi tempat orang lain membicarakan kisah lamanya dengan Lyla. Lyla setuju. Jika Naran hadir, ia akan menjadi tamu, bukan simbol pengorbanan atau “pesaing yang kalah”.
“Aku tak akan menjadikanmu bagian dari cerita yang bukan pilihanmu,” katanya.
Naran tersenyum tipis. “Itu cukup.”
Lyla lalu menyampaikan sekali lagi permintaan maafnya karena pernah mengabaikan batas telinga Naran. “Aku tahu sudah meminta maaf, dan aku tak ingin membuatmu harus terus menenangkanku. Aku hanya ingin memastikan aku tidak pernah menganggap kau harus hadir atau memaafkan karena aku menikah.”
“Saya menerima permintaan maaf Anda. Dan saya tidak akan datang karena merasa berutang.”
Mereka berbincang sebentar tentang jadwal pengamanan istana selama persiapan. Naran mengatakan ia akan mengatur penjagaan agar tamu tidak terganggu, tanpa menganggap dirinya harus memberi restu secara resmi.
“Undanganmu cukup sebagai undangan,” katanya. “Bukan permintaan restu.”
Lyla mengangguk. “Betul.”
Ia bertanya kepada Naran apakah ia nyaman jika dirinya menyapa di kemudian hari. Naran berkata ya, selama Lyla tetap menjaga jarak dan bertanya sebelum menyentuh. Lyla menerima batas itu.
“Dan amber?” tanya Lyla, lalu segera menambahkan, “Kau tak perlu menjawab kalau tidak ingin.”
Naran menjawab liontin itu tetap miliknya dan tidak akan menjadi hadiah pernikahan. Lyla berterima kasih karena ia telah menyatakan batas dengan jelas. Mereka tidak membahasnya lebih jauh.
Sebelum pergi, Lyla mengucapkan terima kasih telah mendengarkan. Ia tak memeluk Naran atau menyentuhnya. Naran berdiri dan memberi salam kecil. Tala menemani Lyla berjalan kembali.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Tala.
“Sedih sedikit, tapi lega. Dia punya pilihan sendiri. Aku tak ingin kebahagiaanku meminta dia berpura-pura tidak pernah terluka.”
Aresh menunggu di dekat ruang baca. Lyla mengatakan ia telah mengundang Naran, tanpa tekanan. Aresh menyetujui. Ia tak bertanya apakah Naran menerima atau apakah Lyla masih punya perasaan lain.
Malam itu mereka menyiapkan pesan untuk orang-orang istana. Pengumuman akan disampaikan esok hari setelah tamu dekat diberi tahu. Lyla meminta kata-katanya tetap sama: mereka memilih menikah bersama, belum menentukan gelar.
Lyla juga meminta agar pengumuman tidak disampaikan di ruang takhta. Ia tak ingin suasana membuat jawabannya terasa seperti keputusan raja yang tidak bisa dipertanyakan. Aresh mengusulkan aula kecil agar para pelayan yang perlu tahu dapat mendengar langsung.
“Apakah aku bisa bicara sendiri?” tanya Lyla.
“Tentu. Kita bisa bergantian, atau kau bisa menyampaikan semua bagianmu.”
“Aku ingin bicara setelahmu. Aku ingin memastikan mereka mendengar bahwa ini pilihanku.”
Mereka menyusun urutan pengumuman: Aresh menyatakan mereka memilih menikah; Lyla menyampaikan bahwa ia menerima secara sukarela dan belum memilih gelar. Liram hanya akan memberi informasi praktis setelah keduanya bicara.
Lyla bertanya apakah para pejabat boleh mengajukan pertanyaan. Aresh berkata pertanyaan tentang administrasi dapat dijawab, tetapi pertanyaan pribadi tak wajib dijawab.
“Kalau mereka menanyakan Bumi?”
“Kita akan mengatakan itu urusan pribadimu dan tidak termasuk pengumuman.”
“Bagus.”
Mereka berlatih tanpa membaca naskah. Aresh berbicara terlalu resmi dan Lyla mengingatkannya agar tidak terdengar seperti membacakan peraturan. Ia mencoba lagi dengan kalimat lebih sederhana. Lyla tertawa saat Aresh berhenti dan bertanya apakah terdengar cukup manusiawi.
“Lebih manusiawi dari sebelumnya.”
“Aku menerima pujian itu.”
Lyla kemudian mencoba mengatakan bagiannya. Ia sempat tersendat ketika menyebut kata menikah, lalu menarik napas dan mengulanginya. Aresh tidak menyela atau menyelesaikan kalimatnya.
“Aku ingin kalimatku tetap terdengar seperti aku,” katanya.
“Memang harus begitu.”
Mereka mengirim pemberitahuan bahwa pengumuman akan disampaikan esok pagi. Tidak ada perayaan atau pakaian khusus. Lyla memilih pakaian sederhana yang nyaman dan meminta Tala membantu hanya jika ia menginginkan.
Menjelang malam, Lyla memeriksa naskah sekali lagi. Ia merasa gugup, tetapi tidak lagi ingin menghindari pengumuman. Ia tahu ia bisa berkata tidak kapan pun, namun saat ini ia memang ingin menikah dengan Aresh.
Sebelum pengumuman, Lyla meminta waktu beberapa menit sendirian. Ia menatap taman melalui jendela dan mengingat bahwa ia masih bisa menghentikan acara. Tidak ada yang akan mengunci pintu atau memaksanya tampil. Setelah menarik napas, ia sendiri memilih kembali ke aula.
Aresh tak menanyainya berulang kali. Ia hanya bertanya, “Siap?”
“Siap menyampaikan. Bukan siap menjawab semua pertanyaan.”
“Itu cukup.”
Liram mengatur agar orang-orang berdiri tidak terlalu dekat. Lyla dapat melihat jalan keluar dan Tala menunggu di sisi ruangan. Susunan itu membuatnya merasa lebih aman.
Setelah ucapan mereka, seorang pelayan bertanya apakah Lyla akan pindah ke kamar kerajaan. Lyla menjawab belum memutuskan. Aresh menegaskan ia bebas memilih tempat tinggal.
Pertanyaan lain menyinggung upacara. Liram menjawab bahwa detailnya belum disusun. Tidak ada tanggal yang diumumkan dan tidak ada undangan yang disebarkan.
Lyla merasa lega mereka tidak membuat masa depan tampak lebih pasti daripada kenyataannya. Setelah beberapa ucapan selamat, ia meminta izin untuk kembali ke perpustakaan. Aresh ikut setelah menanyakan apakah ia ingin ditemani.
“Aku mau ditemani sampai pintu, lalu sendiri,” jawabnya.
Aresh mengikuti persis permintaan itu.