Liram mengirim draf pengumuman kepada Lyla dan Aresh sebelum tengah hari. Isinya singkat: Raja Aresh dan Lyla telah memilih untuk menikah setelah membicarakannya bersama. Tak ada gelar untuk Lyla, tanggal upacara, atau rincian tentang Orion dan Bumi.
Lyla membaca draf itu di ruang baca kecil. Ia mengganti frasa “Raja mengambil Lyla sebagai pasangan” menjadi “Aresh dan Lyla memilih menikah”.
“Aku tidak ingin terdengar seperti hadiah yang diberikan,” katanya kepada Liram.
“Perubahan itu lebih tepat,” jawab Liram.
Aresh membaca versi baru. “Aku setuju.”
Mereka memeriksa kalimat lain. Pengumuman akan disampaikan kepada istana setelah mereka berbicara dengan orang-orang terdekat. Tidak ada pernyataan bahwa Lyla telah menjadi permaisuri. Status itu masih belum ia pilih.
“Kalau ada yang bertanya tentang gelar?” tanya Lyla.
“Aku akan mengatakan belum ada keputusan,” kata Aresh. “Pernikahan tidak mengubah jawabanmu tentang gelar.”
Lyla meminta itu dicatat dalam panduan untuk para pejabat, bukan karena ia ingin membuat aturan rumit, melainkan supaya tak ada yang menganggap perkawinannya sebagai persetujuan otomatis.
Liram menambahkan bahwa pengumuman tak akan disebarkan sampai Lyla dan Aresh menyetujui naskah final. Ia tak akan mengirim salinan ke pelayan lain atau menyiapkan acara kejutan.
“Terima kasih sudah meminta persetujuanku untuk setiap tahap,” kata Lyla.
“Keputusan ini milik kalian berdua,” jawab Liram.
Mereka lalu membicarakan bentuk upacara. Lyla ingin acara kecil di taman istana, dihadiri orang-orang terdekat. Ia tak ingin upacara diplomatik atau perwakilan kerajaan luar. Aresh setuju. Ia juga tidak ingin ada sambutan panjang yang menceritakan kisah Lyla sebagai tumbal atau kisah misi Orion.
“Tidak seorang pun perlu menjadikan masa laluku sebagai hiburan,” kata Lyla.
“Setuju,” ujar Aresh.
Mereka membahas pakaian dan simbol. Lyla ingin mengenakan pakaian yang nyaman, bukan gaun berat yang membuatnya sulit bergerak. Aresh tak keberatan. Untuk tanda ikatan, mereka memilih pita sederhana yang dapat mereka pasang pada pergelangan tangan setelah sama-sama mengucapkan persetujuan.
“Apakah mengikat pita akan terasa seperti menahan?” tanya Lyla.
“Tidak jika kita memasangnya longgar dan dapat dilepas kapan saja.”
“Aku ingin memasangnya sendiri padamu, kalau kau juga setuju.”
“Aku setuju. Aku juga ingin memasangkan milikmu setelah bertanya.”
Lyla mencatat bahwa pita bukan simbol kepemilikan. Jika salah satu tidak nyaman, mereka dapat melepasnya. Tidak ada sentuhan tanduk atau ritual yang tidak mereka pahami.
Tala datang setelah Lyla mengundangnya. Lyla mengatakan ia ingin Tala membantu memilih pakaian dan mengatur bunga, tetapi tidak ingin semuanya menjadi tugas besar. Tala menerima dan bertanya warna apa yang ia suka.
“Biru lembut. Tapi jangan menyiapkan seluruh taman hanya berdasarkan jawabanku.”
“Beberapa bunga saja,” janji Tala.
Aresh meminta Liram menahan pengumuman sampai mereka menyelesaikan daftar tamu. Lyla berkata ia ingin memberi tahu Naran secara pribadi, dan Aresh setuju. Mereka tak ingin panglima itu mendengar kabar dari bisik-bisik istana.
Menjelang sore, naskah final selesai. Lyla membaca setiap kata dan menyetujui. Aresh menyetujuinya setelahnya. Pengumuman akan disampaikan esok hari, setelah mereka memberi tahu orang-orang terdekat.
Lyla merasa gugup, tetapi keputusan itu masih terasa miliknya. Ia belum menjadi ratu, belum menyelesaikan semua persoalan hidup, dan belum harus membagikan masa lalunya kepada siapa pun. Ia hanya bersiap menyampaikan bahwa ia dan Aresh memilih menikah.
Aresh meminta Liram membacakan ulang pengumuman dalam tiga versi: satu untuk para pejabat, satu untuk para pelayan, dan satu untuk disimpan dalam arsip. Lyla meminta semua versi memakai inti yang sama, bukan membuat versi yang terdengar lebih resmi dan menghapus bahwa keputusan itu milik mereka berdua.
“Jangan tulis ‘Yang Mulia telah memilih pasangan’,” katanya. “Tulis nama kami dan bahwa kami memilih bersama.”
Liram mengubah kalimat itu. “Dan apakah gelar permaisuri akan disebut?”
“Tidak,” jawab Lyla. “Aku belum memilihnya.”
Aresh menambahkan bahwa tidak ada tanggal upacara di pengumuman. Mereka belum memutuskan semuanya, jadi tak ada yang perlu disampaikan seolah sudah final.
Setelah draf selesai, Lyla meminta satu salinan dibawa ke ruang baca agar ia dapat memeriksanya sendiri. Ia membaca dengan pelan, lalu mengembalikannya kepada Aresh. Kata-katanya terasa tepat karena tak menyebut Lyla sebagai hadiah atau hasil dari tugas.
“Aku merasa gugup,” katanya.
“Apakah kau ingin menunda pengumuman?” tanya Aresh.
Lyla mempertimbangkan. “Tidak. Aku gugup karena ini penting, bukan karena ingin mundur. Tapi aku ingin memberi tahu beberapa orang dulu.”
Mereka membuat daftar orang dekat yang ingin diberi kabar secara pribadi: Tala dan Naran. Liram akan diberi tahu sebagai sekretaris, tetapi ia telah terlibat dalam draf. Tak ada kerabat baru atau pejabat luar yang ditambahkan.
Lyla kemudian meminta izin untuk menyampaikan kabar sendiri kepada Tala. Aresh menyetujui dan berkata ia akan memberi tahu Liram bahwa jadwal pengumuman menunggu percakapan itu.
Mereka sepakat tidak mengirim undangan pernikahan dulu. Pengumuman hanyalah kabar tentang pilihan mereka, bukan tanda bahwa semua persiapan telah selesai.
Lyla bertanya apakah ia ingin mengirim pengumuman terpisah kepada Putri Elf. Aresh menjawab bahwa hubungan pribadi dengan sang Putri telah ditutup dan tak ada pesan baru yang diminta. Lyla sepakat menghormati jarak itu. Ia tidak ingin mengubah kabar pernikahan menjadi alasan menghubungi seseorang yang sudah berpamitan.
Liram menyarankan agar salinan pengumuman disimpan dalam arsip kerajaan, tetapi Lyla meminta versi arsip tetap memakai kalimat yang sama. Ia tidak ingin dokumen resmi kelak mengubah keputusan bersama menjadi keputusan Aresh seorang diri.
“Bisa,” kata Liram. “Naskah arsip akan sama persis.”
Mereka membicarakan cara menangani pertanyaan para pelayan. Aresh meminta mereka tidak menjawab hal pribadi atas nama Lyla. Jika ada yang bertanya tentang gelar, jawabannya adalah belum diputuskan. Jika ada pertanyaan tentang Bumi, pertanyaan itu tidak akan dijawab.
Lyla merasa tenang karena ia tidak harus menjelaskan seluruh hidupnya demi menerima ucapan selamat.
Ia membawa draf itu ke balkon dan memeriksanya sekali lagi bersama Aresh. Mereka sepakat tidak mengubah keputusan atau gelar tanpa membicarakannya bersama.