Pagi hari, Lyla meminta Tala menemaninya bertemu Aresh. Ia tak ingin jawaban finalnya diberikan di ruang kerja atau di hadapan Liram. Ia memilih balkon perpustakaan, tempat mereka sering berbicara tanpa protokol.
Aresh sudah menunggu di sana. Ia berdiri ketika Lyla datang, lalu bertanya apakah ia ingin berbicara berdua. Lyla menjawab ia ingin Tala berada dekat, tetapi tak ikut menjawab.
“Aku sudah memikirkan lamaranmu,” kata Lyla. “Aku menerima.”
Aresh tak langsung mendekat. “Kau yakin?”
“Ya. Aku ingin menikah denganmu. Tapi aku belum menerima gelar permaisuri. Aku ingin upacara sederhana dan semua adat yang menyentuh tubuh dibicarakan dulu.”
“Aku setuju.”
Lyla menambahkan bahwa ia memilih menikah bukan karena status tinggal atau misi. Ia mencintai Aresh dan ingin membangun kehidupan bersama dengannya. Ia tetap ingin mempertahankan kegiatan sendiri dan ruang pribadi.
“Aku tak akan meminta kau menyerahkan hal-hal itu,” jawab Aresh. “Kita akan membicarakan tanggung jawab sebagai pasangan tanpa menganggap gelar menentukan semuanya.”
Lyla merasa bahagia, tetapi sedikit takut. Ia menyatakan bahwa jika salah satu dari mereka berubah pikiran sebelum upacara, mereka harus bisa membicarakannya. Aresh menyetujui bahwa persetujuan harus tetap ada sampai hari pernikahan, bukan hanya saat lamaran.
“Bagus. Aku tidak mau ‘iya’ hari ini dianggap berarti ‘iya’ untuk semua hal selamanya.”
“Aku setuju.”
Lyla meminta izin menggenggam tangan Aresh. Ia mengiyakan dan mereka berpegangan sebentar. Saat Lyla melepaskan, Aresh langsung membuka tangannya.
“Terima kasih.”
“Terima kasih karena memilihku dengan jujur.”
Liram kemudian dipanggil. Aresh mengatakan Lyla menerima lamaran, tetapi meminta agar tak ada pengumuman sebelum mereka menyusun kata-katanya bersama. Liram mengangguk dan menunggu arahan.
“Kami ingin mengumumkan bahwa kami memilih menikah,” kata Lyla. “Jangan sebut aku permaisuri atau calon ratu. Aku belum menyetujui gelar.”
“Dipahami,” jawab Liram. “Saya akan menyiapkan draf untuk kalian periksa.”
Tala menawarkan membantu memilih pakaian dan menyusun upacara kecil. Lyla menerima bantuannya, tetapi berkata ia ingin ikut menentukan tiap bagian. Tala menyetujui.
Mereka membahas siapa yang akan hadir. Lyla ingin Aresh, Tala, Liram, dan Naran dapat diundang, tanpa kewajiban hadir. Aresh berkata Naran bebas menolak. Lyla juga meminta tak ada hadiah amber atau lambang yang menyiratkan dirinya dimiliki.
“Tidak akan ada simbol yang tidak kau setujui,” kata Aresh.
Liram menyiapkan draf pengumuman yang menyatakan Lyla dan Aresh telah memilih menikah setelah membicarakan tanggung jawab dan batas mereka. Draf itu tidak menyebut gelar dan belum dikirim. Lyla membacanya, mengubah satu kata agar keputusan terdengar setara, lalu mengesahkannya bersama Aresh.
Mereka sepakat pengumuman dilakukan setelah persiapan selesai dan semua pihak yang ingin mereka beri tahu secara pribadi sudah diberi kabar. Upacara sendiri akan direncanakan pada hari-hari berikutnya. Belum ada tanggal atau detail yang diputuskan.
Lyla memandang Aresh. “Aku menerima lamaranmu.”
“Aku mendengarmu.”
“Dan aku masih Lyla.”
“Selalu.”
Mereka tersenyum. Kini pernikahan bukan penyelesaian misi atau hadiah untuk raja. Itu keputusan yang mereka buat bersama, dengan kebebasan untuk menentukan bentuk hidup setelahnya.
Keesokan harinya Lyla bangun tanpa mengubah jawabannya. Ia telah memikirkan lamaran saat membaca, saat berjalan, dan saat berbicara dengan Tala. Keinginannya tetap sama: ia ingin menikah dengan Aresh, tetapi ingin hidup bersama tanpa gelar yang dipaksakan.
Ia menemui Tala dan mengatakan ia siap memberi jawaban. Tala bertanya apakah ia ingin ditemani. Lyla memilih berjalan sendiri menemui Aresh, tetapi meminta Tala menunggu di ruang baca jika ia ingin kembali berbagi kabar.
Aresh sedang di balkon perpustakaan. Lyla meminta berbicara, lalu menyampaikan bahwa ia menerima lamarannya. Ia mengulang bahwa ia belum memilih gelar permaisuri dan ingin upacara sederhana yang semua bagiannya disetujui bersama.
Aresh tidak langsung meraih tangannya. Ia bertanya apakah ia boleh mendekat. Lyla mengiyakan. Aresh berjalan beberapa langkah dan berhenti di hadapannya.
“Aku menerima karena aku ingin membangun kehidupan denganmu,” kata Lyla. “Bukan karena misi selesai, bukan karena aku tinggal, dan bukan karena takut kehilanganmu.”
“Aku mengerti.”
“Kalau aku berubah pikiran sebelum upacara, aku akan bilang. Aku juga akan mendengarkan kalau kau berubah pikiran.”
“Setuju.”
Mereka membiarkan keheningan berlangsung beberapa detik. Lyla lalu mengulurkan tangan. Aresh bertanya apakah ia ingin ia menggenggamnya; Lyla menjawab iya. Mereka berpegangan sebentar dan melepaskan ketika Lyla menginginkannya.
Tala bergabung setelah Lyla memanggilnya. Lyla menyampaikan bahwa ia telah menerima lamaran, tetapi belum ada tanggal atau gelar. Tala memeluknya setelah meminta izin. Lyla membalas pelukan itu dan tertawa kecil ketika Tala berkata ia akan membantu memilih pakaian setelah semua hal diputuskan.
Liram kemudian dipanggil untuk menyiapkan draf pengumuman pribadi. Lyla meminta setiap kalimat diperiksa oleh dirinya dan Aresh sebelum disebarkan. Tidak ada yang mengirim undangan atau mengumumkan pernikahan hari itu.
Lyla mengakhiri sore dengan duduk di balkon bersama Aresh. Ia merasa bahagia dan sedikit takut, tetapi tidak merasa terjebak. Ia telah mengatakan ya dengan sadar dan tetap memiliki hak menentukan bentuk kehidupan yang akan mereka jalani.
Lyla tak merasa perlu membuat pengumuman sendiri kepada seluruh istana. Ia ingin berbicara lebih dahulu kepada orang-orang yang dekat dengannya, lalu menyetujui draf bersama Aresh. Ia bahagia, tetapi tetap ingin berjalan perlahan.
Aresh menerima batas itu. Mereka berpisah malam tersebut dengan kesepakatan bahwa keputusan pernikahan telah dibuat, sementara tanggal, gelar, dan upacara masih akan dibicarakan bersama.
Tala dan Liram menerima instruksi untuk tidak mengumumkan apa pun sebelum draf diperiksa bersama. Lyla ingin kabar itu disampaikan sebagai keputusan dua orang, bukan sebagai penetapan raja atas seorang perempuan. Aresh menyetujui dan meminta Liram mengirim draf hanya kepada mereka berdua.
Malam itu Lyla mengucapkan selamat malam kepada Aresh dengan perasaan ringan. Ia telah menerima lamaran, tetapi masa depan mereka tetap akan dibangun melalui pilihan-pilihan berikutnya. Ia tak perlu menyerahkan semua batas untuk membuktikan cintanya.