Pagi berikutnya, Lyla berbicara dengan Tala tentang lamaran Aresh. Ia bercerita bahwa Aresh memberi kebebasan untuk menolak atau meminta waktu, lalu menanyakan apa yang Lyla inginkan.
“Aku ingin menikah dengannya,” jawab Lyla. “Tapi aku belum tahu soal gelar. Aku juga ingin semua detail upacara dibicarakan.”
“Apakah Anda merasa aman mengatakan tidak kepadanya?”
“Ya. Itu yang membuatku lebih mudah mempertimbangkan jawaban iya.”
Tala tersenyum. “Keputusan yang lahir dari kebebasan terasa berbeda.”
Lyla tak ingin menjawab sebelum berbicara lagi dengan Aresh. Ia meminta Tala menjaga percakapan tetap pribadi. Tala berjanji tak akan menyampaikan apa pun kepada Liram atau pelayan lain.
Siang hari, Lyla mencari Aresh di perpustakaan. Ia meminta berbicara, lalu menjelaskan bahwa ia cenderung ingin menerima lamaran. Namun ia ingin memahami apakah pernikahan dapat dilakukan tanpa gelar permaisuri dan tanpa kewajiban mengikuti semua acara kerajaan.
Aresh menjawab ya. Jika Lyla menerima, mereka akan mengumumkan hubungan dan pernikahan sebagai pilihan bersama. Gelar dapat dibicarakan kemudian, bahkan mungkin tak pernah diambil. Ia tidak akan menyebut Lyla calon ratu hanya karena mereka menikah.
“Apakah kau tidak ingin seorang permaisuri?”
“Aku ingin pasangan hidup, bukan jabatan untukmu.”
“Kalau aku tak ingin menjadi simbol kerajaan?”
“Kau tidak harus.”
Lyla juga menanyakan tanggung jawab rumah tangga. Aresh mengatakan mereka dapat membagi hal-hal praktis dan meminta bantuan staf, tetapi ia tak akan menganggap Lyla wajib mengurus kediaman karena ia perempuan atau istrinya. Lyla berkata ia ingin punya pilihan untuk membantu, bukan kewajiban otomatis.
Mereka sepakat membahas upacara setelah jawaban final. Lyla ingin upacara sederhana, dengan orang-orang terdekat, dan tidak ada adat yang melibatkan sentuhan tanpa izin. Aresh menerima. Ia berkata tanduknya tetap tidak akan disentuh dan Lyla tak perlu menyentuhnya sebagai simbol apa pun.
“Terima kasih karena kau menjelaskan batasmu juga,” kata Lyla.
“Aku ingin persetujuan berlaku untuk kami berdua.”
Lyla bertanya apakah mereka dapat menunggu sampai esok sebelum mengumumkan. Ia ingin satu malam untuk memastikan jawaban itu benar-benar miliknya. Aresh setuju tanpa mengeluh.
Sore itu Lyla membaca di ruang pribadi. Ia membayangkan kehidupan bersama Aresh, bukan sebagai akhir dongeng, tetapi sebagai hari-hari yang penuh tanggung jawab, perbedaan, dan percakapan. Ia ingin itu. Ia tak berharap pernikahan menyelesaikan semua ketakutannya.
Ia menuliskan satu kalimat: “Aku ingin menikah dengannya karena aku memilih hidup bersama, bukan karena aku takut kehilangan.” Setelah itu ia menutup buku dan tidur.
Lyla kemudian meminta Aresh menyebutkan sekali lagi apa yang ia inginkan dari pernikahan. Aresh menjawab ia ingin hidup bersama, berbagi kepercayaan, dan membuat keputusan sebagai pasangan. Ia tak mengharapkan Lyla berubah menjadi orang yang selalu menyenangkan istana.
“Kalau aku marah atau takut?”
“Kau boleh mengatakannya.”
“Kalau aku ingin waktu sendiri?”
“Aku akan menghormatinya.”
“Dan kalau aku berkata tidak sebelum upacara?”
“Aku akan menerima itu.”
Lyla mendengarkan dan merasa jawaban itu konsisten dengan sikap Aresh selama ini. Ia tahu janji akan diuji dalam kehidupan sehari-hari, tetapi ia ingin mengambil langkah tersebut dengan percaya.
Ia berkata bahwa ia bersedia menikah, tetapi belum ingin menetapkan tanggal sampai mereka menyusun upacara yang nyaman. Aresh setuju. Ia juga meminta agar gelarnya tidak diumumkan dalam draf. Aresh berjanji tidak akan mencantumkannya.
Mereka menyepakati bahwa Liram boleh mulai membuat draf pengumuman, tetapi tak akan menyebarkannya sampai Lyla dan Aresh menyetujui bersama. Tala dapat membantu Lyla memilih pakaian setelah mereka memutuskan bentuk upacara. Tidak ada yang akan mengundang Naran atau orang lain atas nama Lyla tanpa bertanya.
Lyla mulai merasa senang. Ia masih takut pada perubahan, tetapi kini ketakutan itu tidak menggantikan keinginannya.
Setelah Lyla menyatakan menerima lamaran, ia dan Aresh membuat catatan bersama tentang hal-hal yang masih perlu diputuskan. Catatan itu bukan kontrak, hanya pengingat agar mereka tidak mengandalkan asumsi.
Pertama, mereka akan menentukan apakah Lyla ingin gelar permaisuri. Kedua, mereka akan memilih bentuk upacara yang menghormati batas tubuh. Ketiga, mereka akan membahas kehidupan sehari-hari dan ruang pribadi. Keempat, mereka hanya akan mengumumkan pernikahan setelah semua keputusan dibuat bersama.
“Tambahkan bahwa aku boleh mengubah pikiran,” kata Lyla.
Aresh menulisnya. “Dan aku juga boleh.”
“Benar. Persetujuan berlaku untuk kita berdua.”
Mereka membaca catatan tersebut. Tak ada tanggal atau daftar tamu. Lyla merasa lega karena pernikahan tidak berubah menjadi mesin yang berjalan sendiri begitu ia mengatakan ya.
Liram diminta menyiapkan draf pengumuman tanpa mengirimnya. Ia bertanya apakah Lyla ingin menggunakan gelar tertentu. Lyla menjawab belum, dan meminta agar draf menyebut namanya saja.
“Dipahami,” kata Liram.
Tala menawarkan untuk membantu mencari pakaian yang sederhana. Lyla mengucapkan terima kasih, tetapi meminta mereka menunggu sampai bentuk upacara diputuskan. Tala setuju.
Aresh bertanya apakah Lyla ingin memberi kabar kepada Naran. Lyla berkata ia akan melakukannya setelah mereka memutuskan upacara, dan akan menjelaskan bahwa Naran bebas hadir atau tidak.
Mereka duduk bersama di balkon. Lyla menyadari ia sedang menyusun masa depan bukan sebagai ratu yang sudah ditentukan, tetapi sebagai orang yang berhak bertanya dan mengubah pikirannya. Ia menerima lamaran, namun tetap mengatur langkah berikutnya.
Sebelum Lyla memberi jawaban final, ia meminta Aresh kembali ke balkon untuk satu percakapan lagi. Ia ingin membahas apakah ia bisa menerima lamaran namun belum memutuskan gelar. Aresh menjawab bahwa lamaran itu untuk pernikahan, bukan untuk gelar. Ia bisa menjadi istrinya tanpa menerima jabatan permaisuri.
“Apakah orang istana akan tetap menuntutku tampil di depan umum?”
“Mungkin ada harapan seperti itu, tapi aku yang akan menetapkan bahwa kau tidak wajib. Kita akan menjelaskan batasnya bersama.”
Lyla meminta agar ia tidak menjadi sumber tekanan karena mengatakan itu. Aresh setuju akan mengoreksi siapa pun yang menganggap pernikahan otomatis memberi mereka kuasa atas hidup Lyla.
Mereka kembali membahas persetujuan upacara. Lyla ingin tahu setiap sentuhan atau simbol sebelum menyetujuinya. Aresh menjelaskan bahwa ia sendiri tak nyaman jika tanduknya disentuh dan tak akan meminta Lyla melakukannya. Mereka dapat memilih tanda ikatan lain atau tidak memakai simbol tubuh sama sekali.
“Aku ingin upacara yang terasa milik kita,” kata Lyla.
“Kita akan memilih bersama.”
Aresh menegaskan ia tidak akan menjadwalkan tanggal sebelum Lyla menerima lamaran. Lyla menghargai bahwa ia tak menganggap diskusi sebagai persetujuan. Mereka menyepakati untuk menunggu jawaban setelah Lyla mempertimbangkan semuanya.
Setelah percakapan, Lyla pergi berjalan sendiri. Ia menyadari bahwa setiap kali memikirkan menikah dengan Aresh, ia merasa bahagia sekaligus gugup. Rasa gugup tak otomatis berarti tidak; ia hanya ingin memastikan kebahagiaan itu miliknya, bukan tuntutan.