Dua hari kemudian, Aresh meminta Lyla berjalan ke balkon perpustakaan selepas senja. Ia bertanya lebih dahulu apakah Lyla bersedia berbicara di sana. Lyla menjawab ya, tetapi meminta agar percakapan itu tetap pribadi.
Aresh mengenakan pakaian biasa, tanpa mahkota atau lambang kebesaran. Tidak ada pelayan, bunga, atau dokumen yang menunggu. Ia berdiri di dekat jendela dan meminta Lyla duduk sebelum berbicara.
“Aku ingin menanyakan sesuatu,” katanya. “Kau boleh menjawab tidak atau meminta waktu. Aku tak akan menganggap jawabanmu sebagai penghinaan.”
Lyla merasa jantungnya berdebar. “Aku mendengarkan.”
Aresh menarik napas. “Maukah kau menikah denganku, jika kita dapat menyusun kehidupan yang memberi ruang bagi pilihanmu? Aku tidak meminta kau menerima gelar permaisuri. Aku tidak meminta jawaban sekarang, dan aku tidak ingin kau berkata ya karena sudah memilih tinggal.”
Lyla terdiam. Ia melihat Aresh menunggu, tidak mengisi hening dengan alasan atau janji tambahan.
“Aku ingin tahu kenapa kau ingin menikah,” katanya.
“Aku ingin membangun hidup denganmu, bukan hanya mencintaimu dari jauh. Aku ingin berbagi hari biasa, membicarakan tanggung jawab, dan membuat keputusan bersama. Tetapi aku tahu pernikahan tidak akan menjamin kita selalu bahagia.”
“Kalau aku menolak?”
“Aku tetap akan menghormati pilihanmu. Kita bisa terus mengenal satu sama lain atau mengubah hubungan, sesuai yang kau inginkan.”
“Kalau aku meminta waktu?”
“Kau boleh mengambil waktu.”
Lyla merasakan matanya berkaca-kaca, tetapi ia tak menangis karena tertekan. Ia merasa bahwa Aresh benar-benar memberi ruang. Ia bertanya apakah lamaran itu dapat ditarik jika ia memerlukan waktu lama.
“Aku tidak akan membatalkannya hanya untuk menghukummu,” jawab Aresh. “Namun kita juga tak harus membiarkan pertanyaan ini menjadi beban. Kalau kau butuh waktu, kita akan membicarakan kapan kau ingin kembali membahasnya.”
Lyla mengangguk. Ia berkata bahwa ia ingin menikah dengan Aresh, tetapi masih ingin satu malam untuk memikirkan detail, terutama gelar dan upacara. Ia tak ingin jawabannya dibacakan sebagai persetujuan untuk semua hal.
“Aku mengerti,” katanya. “Aku menerima bahwa kau ingin menikah denganku, tapi aku belum memberikan keputusan tentang gelar dan tata cara.”
Aresh mengangguk. “Itu cukup untuk malam ini.”
Lyla bertanya apakah ia boleh menggenggam tangannya. Aresh mengulurkan tangan setelah mengiyakan. Lyla menggenggamnya, lalu melepaskannya sendiri saat siap. Aresh tidak menahan.
Mereka sepakat tak memberi tahu siapa pun sampai Lyla memberikan jawaban final. Lamaran itu tetap menjadi percakapan pribadi. Lyla ingin menjaga agar jawabannya tidak berubah menjadi desakan dari istana.
Saat berjalan kembali, Aresh bertanya apakah Lyla ingin berjalan bersamanya atau sendiri. Lyla memilih sendiri sebentar. Aresh membiarkannya pergi tanpa menganggap itu penolakan.
Lyla menghabiskan malam di ruang baca, meninjau apa yang ia inginkan dari pernikahan. Ia mencatat bahwa ia ingin tetap punya ruang, tidak diwajibkan mengambil gelar, dan semua adat yang menyangkut tubuhnya harus dimintakan izin. Ia tak menuliskan daftar tuntutan untuk Aresh, hanya kebutuhan yang harus dibicarakan bersama.
Tala juga mengingatkan bahwa menerima lamaran tak membuat Lyla wajib merasa siap untuk semua bagian pernikahan. Mereka dapat menentukan upacara setelah berbicara dengan Aresh. Lyla ingin semua tanda, pakaian, dan adat dijelaskan sebelum ia menyetujuinya.
“Kalau ada hal yang terasa tidak nyaman, aku akan bilang,” katanya.
“Dan Yang Mulia harus mendengarkan.”
“Iya. Tapi aku juga ingin mendengar batasnya.”
Mereka menuliskan pertanyaan praktis: apakah Lyla ingin gelar, siapa yang akan hadir, bagaimana upacara mengandung persetujuan, dan kapan pengumuman dilakukan. Tala tidak menyebutnya sebagai daftar kewajiban, melainkan hal yang bisa dibicarakan satu per satu.
Lyla memikirkan Naran dan bertanya apakah perlu mengundangnya. Tala mengatakan itu keputusan Lyla, tetapi ia tak perlu mengundang Naran untuk menghibur atau membuktikan bahwa semuanya baik-baik saja.
“Aku ingin dia tahu kalau dia diterima sebagai teman, tapi aku tak mau membuatnya wajib hadir.”
“Kalau begitu, Anda bisa mengundangnya tanpa tekanan.”
Lyla memutuskan belum menyampaikan apa pun sampai ia memberi jawaban final. Ia tak ingin membuat Naran merasa harus memberi restu atau menghadiri upacara karena masa lalu mereka.
Sore hari, Lyla berjalan sendirian ke perpustakaan. Ia memikirkan jika Aresh bukan raja, apakah ia tetap ingin menikah dengannya. Jawabannya ya: ia mencintai orangnya, bukan hanya kedudukan atau perlindungan yang diberikannya.
Ia juga bertanya apakah ia masih bisa memilih kehidupan di Avantera tanpa pernikahan. Jawabannya ya. Itu membuatnya yakin menerima lamaran bukan cara untuk memastikan tempat tinggal.
Malam itu ia menulis alasan menerima dan hal-hal yang masih ingin dibicarakan. Ia merasa semakin mantap, tetapi tidak memaksakan diri menjawab sebelum siap.
Lyla memikirkan juga bahwa jika ia menerima lamaran, ia tidak ingin pesta besar yang melibatkan semua kerajaan. Ia lebih nyaman dengan upacara kecil dan orang-orang yang memang dekat dengannya. Aresh berkata bentuk acara dapat disesuaikan, dan tidak perlu mengundang siapa pun hanya demi menunjukkan kekuasaan.
“Bagaimana dengan aturan bahwa raja harus mengumumkan pasangannya?”
“Tidak ada aturan yang mengharuskan kita mengumumkan sebelum siap. Jika nanti diumumkan, kita akan menyusun kata-katanya bersama.”
“Jadi aku bisa memeriksa setiap kalimat?”
“Tentu.”
Lyla merasa lega. Ia tak ingin hidupnya ditulis orang lain hanya karena ia menikah dengan raja. Ia pun tak ingin Aresh memikul semua pekerjaan sendirian; ia akan membantu jika bersedia, bukan karena status.
Tala bertanya apakah Lyla sudah merasa mantap. Lyla menjawab ia ingin menerima, tetapi masih ingin satu malam untuk memastikan tidak sedang menjawab karena suasana romantis.
“Ambillah malam itu,” kata Tala.
Lyla berterima kasih. Ia tak ingin keputusan besar dibuat sebagai reaksi terhadap momen yang hangat, meski ia tahu perasaannya kepada Aresh sudah berlangsung lama.
Aresh menjawab pertanyaan Lyla tanpa menjanjikan kehidupan sempurna. Ia berkata bahwa mereka mungkin akan berbeda pendapat, dan ia ingin tetap mendengarkan saat itu terjadi. Lyla menghargai jawaban yang realistis tersebut.
Lyla menerima bahwa tak semua jawaban dapat dipastikan sebelum mereka menjalani hidup bersama.