Sisa sore di taman setelah insiden "merapikan rambut" itu menyisakan kecanggungan yang lebih berat daripada zirah perunggu milik Naran. Lyla menghabiskan es buahnya dengan kecepatan yang tidak wajar, sesekali mencuri pandang ke arah Aresh yang masih betah menatap kolam seolah ada jawaban misteri alam semesta di dalam riak airnya.
Malam pun tiba. Lyla baru saja hendak merebahkan dirinya di kasur empuknya—berencana untuk melakukan ritual meditasi (baca: tidur awal)—ketika pintu kamarnya diketuk dengan sopan. Tala masuk dengan wajah yang jauh lebih cerah daripada biasanya. Tangannya membawa sebuah kotak besar yang dibungkus kain beludru merah.
"Nyonya Lyla! Kabar gembira! Yang Mulia Raja Aresh mengundang Anda untuk makan malam privat di ruang perjamuan utama malam ini," ucap Tala dengan nada yang bergetar karena senang.
Lyla mengucek matanya yang sudah setengah terpejam. "Makan malam? Sekarang? Duh, Tala, aku sudah pakai baju tidur. Bilang padanya aku sudah kenyang makan es buah tadi."
Tala hampir saja menjatuhkan kotak yang dibawanya. "Nyonya! Ini adalah undangan makan malam pertama Yang Mulia dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir! Anda tidak bisa menolaknya. Ini adalah kehormatan besar. Dan lihat, beliau bahkan mengirimkan gaun baru untuk Anda."
Lyla mendesah panjang. "Naga itu benar-benar... dia tidak tahu ya kalau aku ini butuh jam tidur yang cukup agar tidak cepat tua?" Meskipun mulutnya mengomel, Lyla bangkit juga. Sifat sembrononya memang membuatnya malas dengan protokol, tapi rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya direncanakan naga kaku itu.
Proses dandan malam itu adalah sebuah perjuangan. Tala memaksa Lyla memakai gaun berwarna biru malam yang dihiasi butiran kristal kecil yang tampak seperti bintang. Lyla menggerutu saat Tala mencoba menyisir rambutnya yang selalu berantakan.
"Tala, pelan-pelan! Kepalaku ini bukan karpet yang perlu disikat!"
"Maaf, Nyonya, tapi rambut Anda benar-benar seperti sarang burung setelah lari-larian di taman tadi!"
Setelah satu jam yang melelahkan, Lyla akhirnya siap. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Harus ia akui, gaun itu sangat pas di tubuhnya. Biru yang dalam membuat kulitnya tampak bercahaya. Ia tampak seperti seorang ratu sejati, meskipun ekspresi wajahnya lebih mirip orang yang baru kehilangan dompet.
Sementara itu, di sisi lain istana, di lapangan latihan yang kini sudah mulai gelap, sosok Panglima Naran masih berdiri diam. Ia baru saja selesai membersihkan pedangnya. Pikirannya melayang pada kejadian siang tadi—tentang bagaimana Lyla memegang telinganya dengan begitu santai, dan bagaimana gadis itu meminta dipanggil "Lyla" tanpa memedulikan kasta.
Naran meraba telinganya yang masih terasa sedikit hangat setiap kali ia mengingat sentuhan tangan Lyla. Di tangannya, ia memegang sebuah kalung kecil dengan liontin batu amber yang ia temukan di pasar kemarin. Ia berniat memberikannya pada Lyla sebagai tanda terima kasih atas keramahannya.
Langkah kaki seorang prajurit pengawal mendekatinya. "Panglima, Anda belum kembali ke barak?"
"Sebentar lagi. Aku ada sedikit urusan," jawab Naran singkat.
"Ah, jika Anda mencari Nyonya Lyla, sepertinya akan sulit sekarang. Seluruh pelayan sedang sibuk menyiapkan ruang perjamuan utama. Kudengar Yang Mulia Raja mengundang Nyonya untuk makan malam berdua saja malam ini."
Tangan Naran yang memegang kalung itu seketika menegang. Jantungnya terasa seperti dihantam oleh palu godam. Perasaan perih yang tajam menjalar di dadanya. Ia adalah seorang harimau, penguasa hutan, panglima yang paling kuat. Namun di depan perasaan cinta, ia merasa seperti anak kucing yang terpojok.
"Makan malam privat?" tanya Naran, suaranya terdengar lebih parau dari biasanya.
"Benar, Panglima. Ini kejadian langka. Seluruh istana sedang membicarakannya. Sepertinya kabar bahwa Nyonya Lyla adalah calon permaisuri bukan sekadar rumor belaka. Yang Mulia Raja terlihat sangat... berbeda saat bersamanya."
Naran terdiam. Ia menatap kalung di tangannya, lalu perlahan mengepalkan jemarinya hingga liontin amber itu tersembunyi. Ia tahu posisinya. Ia adalah abdi setia Raja Aresh. Namun, ia tidak bisa membohongi hatinya sendiri. Melihat gadis yang ia sukai—gadis yang tidak memandangnya dengan hinaan meskipun ia seorang Suin—sedang menjalin kasih dengan tuannya sendiri, adalah luka yang tak berdarah namun sangat menyakitkan.
"Begitu ya... syukurlah kalau Yang Mulia senang," gumam Naran pelan. Ia berbalik dan berjalan menjauh dari lapangan latihan, langkahnya terasa jauh lebih berat dari biasanya. Telinganya layu ke bawah, mencerminkan hatinya yang hancur berkeping-keping.
Lyla dipandu oleh dua pengawal menuju ruang perjamuan utama. Begitu pintu dibuka, ia terpukau. Ruangan itu sangat luas dengan meja panjang yang terbuat dari marmer hitam di tengahnya. Lilin-lilin kristal menerangi ruangan dengan cahaya keemasan.
Di ujung meja, Aresh sudah duduk. Ia mengenakan pakaian formal yang sangat mewah, namun tanpa mahkotanya. Rambut hitamnya tertata rapi. Begitu melihat Lyla masuk, Aresh berdiri. Gerakannya yang kaku terlihat sangat jelas, ia seolah-olah sedang menghafal setiap gerakan protokol agar tidak melakukan kesalahan.
Lyla berjalan mendekat, suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu. "Wow... ini terlalu berlebihan untuk sekadar makan malam, Aresh. Kau mau makan atau mau sidang paripurna?"
Aresh tidak menjawab candaan itu. Ia hanya menatap Lyla dengan pandangan yang tidak berkedip. "Kau... terlihat berbeda."
"Berbeda bagus atau berbeda aneh? Gaun ini agak sesak di bagian perut, kalau kau mau tahu," keluh Lyla sambil menarik kursinya sendiri sebelum pelayan sempat membantunya.
Aresh tertegun sejenak melihat kemandirian Lyla yang lagi-lagi melanggar aturan, namun ia hanya memberi isyarat agar makanan disajikan. Pelayan mulai berdatangan membawakan hidangan-hidangan yang aromanya sangat menggugah selera: sup krim jamur salju, daging naga laut panggang, dan berbagai hidangan penutup yang belum pernah Lyla lihat di bumi.
Suasana makan malam itu sangat sunyi. Aresh makan dengan gaya yang sangat anggun dan kaku, sementara Lyla makan dengan lahap, sesekali mengeluarkan suara "Nyam!" yang membuat para pelayan menahan tawa.
"Aresh," Lyla memecah keheningan setelah menghabiskan supnya. "Kenapa kau mengundangku makan di sini? Apa ini bagian dari rencanamu untuk membuatku setuju jadi istrimu?"
Aresh meletakkan pisau dan garpunya dengan pelan. Ia menatap Lyla, matanya yang emas berkilau di bawah cahaya lilin. "Aku hanya berpikir... kau mungkin bosan di kamarmu. Dan aku ingin berterima kasih karena kau sudah membawaku ke taman sore tadi."
Lyla tersenyum licik. "Oh, jadi naga es ini mulai tahu cara berterima kasih ya? Itu kemajuan besar!"
"Lyla," Aresh memanggil namanya dengan nada yang lebih serius. "Aku tahu kau tidak menyukai status ini. Aku tahu kau ingin mencarikan aku istri lain agar kau bisa kembali ke duniamu."
Lyla terdiam. Rasa hangat es buah tadi sore seolah kembali lagi.
"Tapi," lanjut Aresh, suaranya sedikit bergetar. "Selama ratusan tahun aku hidup, istana ini selalu terasa dingin. Bahkan api naga sekalipun tidak bisa menghangatkannya. Namun sejak kau datang... keributanmu, caramu menarik tanganku, bahkan caramu menghina aku sebagai 'tua bangka'... semuanya membuat tempat ini terasa lebih hidup."
Jantung Lyla berdebar kencang. Ini adalah pernyataan paling jujur yang pernah ia dengar dari pria sedingin Aresh. "Aresh, aku... aku juga merasa kau tidak seburuk itu. Tapi duniamu dan duniaku berbeda. Aku di sini karena misi Orion."
"Aku tidak peduli pada Orion," sela Aresh, kali ini ia menatap Lyla dengan intensitas yang membuat Lyla merinding. "Aku adalah raja di dunia ini. Dan di duniaku, apa yang kupilih, akan tetap menjadi milikku. Tapi... aku tidak akan memaksamu. Aku akan membuatmu memilihku atas kemauanmu sendiri."
Lyla menelan ludah. "Tantangan yang sulit, Yang Mulia. Aku ini gadis yang sangat pemilih."
"Aku suka tantangan," balas Aresh dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat, namun sangat mematikan bagi kewarasan Lyla.
Makan malam itu berlanjut dengan percakapan yang lebih ringan, meskipun Aresh tetap kaku seperti biasanya. Namun bagi Lyla, kekakuan itu kini terasa menggemaskan.
Di luar jendela ruang perjamuan, dari kejauhan, Naran berdiri di bawah bayang-bayang pohon besar. Ia melihat cahaya lilin dari dalam ruangan, membayangkan tawa Lyla yang memenuhi ruangan itu. Ia tahu, perjuangannya akan jauh lebih sulit daripada berperang melawan seribu prajurit. Lawannya bukan hanya seorang raja, tapi takdir yang sepertinya sudah mulai mengikat Lyla dan Aresh.
Naran menghela napas panjang, melepaskan kalung amber itu ke dalam saku zirahnya. "Jika kau bahagia, Lyla... itu sudah cukup bagiku. Tapi jangan salahkan aku jika aku tetap menjagamu dari jauh."
Malam di Avantera terasa panjang, dengan satu hati yang mulai mekar dan satu hati yang harus belajar untuk merelakan.
To be continued.....