Lyla menghabiskan hari berikutnya sendiri. Ia membaca catatan Orion dan mencoba membayangkan kedua jalan tanpa mengubahnya menjadi kisah yang indah. Jika pulang, ia akan kembali ke tubuh yang terluka, di lokasi kecelakaan, tanpa jaminan perawatan. Jika tinggal, ia akan melepaskan tubuh itu dan tak dapat kembali setelah meminta Orion mengakhiri penahanan.
Ia tidak tahu siapa yang mungkin menunggunya di Bumi. Ia tidak ingin menciptakan keluarga atau sahabat yang tak pernah disebut. Namun, ia ingat kehidupannya sendiri, kebiasaan, dan kebebasan yang pernah dimilikinya. Itu cukup untuk membuat Bumi tetap berarti.
Di sisi lain, Avantera bukan hanya Aresh. Ia punya Tala, hubungan yang perlahan pulih dengan Naran, ruang baca, buku-buku, serta kemungkinan menemukan kegiatan yang dipilihnya sendiri. Ia dapat tinggal tanpa gelar ratu, meski perasaan kepada Aresh ikut menjadi bagian dari pilihannya.
Tala bertanya apakah Lyla ingin membicarakan pilihan itu. Lyla berkata ia takut jika memilih Aresh, orang akan menganggap ia mengorbankan Bumi demi cinta.
“Apakah itu yang Anda lakukan?”
“Aku tidak tahu. Aku memilih kehidupan yang lebih ingin kujalani setelah tahu risikonya.”
“Keputusan Anda tidak harus mudah dipahami semua orang.”
Lyla mengangguk. Ia tahu cinta bukan alasan tunggal, tetapi ia tak bisa berpura-pura Aresh tidak penting. Ia juga tak ingin Aresh menjadi satu-satunya alasan tinggal. Ia akan memilih karena ia ingin membangun hidup di Avantera, dengan Aresh jika ia tetap menginginkannya.
Sore hari Aresh datang setelah mengirim pesan dan menunggu jawaban Lyla. Ia bertanya apakah ia boleh masuk. Lyla mengizinkan, tetapi meminta mereka berbicara di taman, bukan balkon tempat mereka sering mengakui perasaan.
“Aku ingin kau tahu aku tidak akan memilih tinggal hanya karena kau mencintaiku,” kata Lyla. “Aku harus menginginkan kehidupan di sini juga.”
“Aku berharap kau menemukan alasanmu sendiri.”
“Kalau aku tinggal, aku ingin belajar, bekerja di perpustakaan jika masih suka, bertemu Tala, dan tetap punya ruang. Aku tidak ingin langsung menjadi permaisuri.”
“Aku tak akan memberimu gelar tanpa persetujuanmu.”
“Dan kalau aku pulang, aku ingin kau tahu itu bukan karena kau kurang berarti.”
“Aku tahu.”
Mereka berbicara tentang apa yang akan terjadi jika Lyla memilih salah satu jalan. Aresh tak menjanjikan bahwa ia akan menunggu tanpa batas, tetapi ia berkata ia akan menerima keputusan dan berkabung dengan caranya sendiri jika Lyla pergi. Ia tak akan mengubah dukungan menjadi utang.
Lyla bertanya apakah Aresh masih ingin mengenalnya jika ia memilih tinggal. Aresh berkata ya, tetapi ia ingin hubungan mereka berkembang perlahan dan berdasarkan persetujuan, bukan karena statusnya sebagai raja.
“Aku ingin mengenalmu juga,” katanya. “Tapi aku belum ingin mengumumkan apa pun.”
“Kita tidak perlu mengumumkan.”
Mereka duduk di taman tanpa menyentuh. Lyla merasa bahwa ia bisa melihat Aresh dan Bumi sekaligus dalam pikirannya. Keputusan mungkin melukai satu sisi, tetapi ia tak bisa memilih dengan menghapus sisi yang lain.
Malam itu ia menulis bahwa ia tidak memilih karena diminta. Ia ingin memutuskan berdasarkan kehidupan yang sanggup ia bangun dan risiko yang ia terima. Ia masih memberi dirinya waktu hingga esok pagi.
Lyla bertanya kepada Naran apakah ia merasa nyaman menerima kabar itu. Naran berkata ia sedih karena Lyla tak akan kembali ke Bumi, tetapi ia juga menghormati pilihan tersebut. Ia tidak menganggap keputusan Lyla sebagai kesempatan baru baginya.
“Perasaanku kepadamu tidak berubah menjadi romantis,” kata Lyla. “Aku tak ingin kau menyangka aku tinggal untuk memberi peluang.”
“Saya tidak menyangka begitu.”
“Kalau suatu hari kau perlu menjaga jarak, katakan saja.”
“Baik. Dan Anda pun boleh menjaga jarak dari saya.”
Lyla mengangguk. Mereka sepakat tidak perlu membuat janji persahabatan yang besar. Mereka akan terus bekerja bersama, menyapa, dan membiarkan hubungan berkembang sesuai kenyamanan masing-masing.
Naran mengulangi bahwa amber tetap ia simpan. Ia mungkin kelak mengubah maknanya, tetapi tidak akan memberikannya sebagai tanda bahwa Lyla berutang. Lyla berterima kasih dan berkata ia tak akan bertanya lagi tentang liontin itu kecuali Naran memulai pembicaraan.
“Aku juga ingin minta maaf sekali lagi karena dulu tidak berhenti saat kau meminta,” katanya. “Aku tidak akan meminta maaf berulang-ulang supaya kau menghiburku. Aku hanya ingin kau tahu aku tetap menganggapnya serius.”
Naran menerima ucapannya. “Saya tahu. Tindakan Anda sekarang lebih penting daripada mengulang kalimat itu.”
Mereka mengakhiri percakapan tanpa sentuhan. Lyla pulang dengan perasaan lega bahwa ia dapat menjelaskan pilihannya tanpa menjadikan Naran musuh atau calon pasangan yang ditolak.
Tala menemuinya di koridor dan bertanya apakah ia merasa lebih siap. Lyla menjawab ya, meskipun ia masih takut. “Aku ingin memilih setelah semua orang yang perlu tahu mendengarnya langsung dariku.”
Tala berkata ia siap menemani, tetapi tak akan memutuskan untuknya.
Sebelum mengakhiri percakapan dengan Naran, Lyla bertanya apakah ia ingin menerima kabar tentang pilihan final nanti. Naran berkata ia tak memerlukannya jika Lyla ingin menjaga keputusan itu pribadi, tetapi ia akan mendengarkan bila Lyla ingin bercerita.
“Aku akan memberi tahu karena kita pernah dekat dan karena aku ingin kau mendengarnya dariku, bukan dari pengumuman.”
“Baik. Saya akan mendengarkan.”
Lyla menjelaskan lagi bahwa memilih Avantera tidak berarti memilih Naran atau menerima amber. Naran mengatakan ia paham. Ia tak akan menganggap keputusan tinggal sebagai peluang baru, dan ia tak akan mengirimkan liontin itu.
“Aku menghargai itu.”
Naran lalu berkata bahwa ia masih perlu waktu untuk menata perasaan, tetapi ia tidak membenci Lyla. Ia ingin kerja sama mereka berjalan profesional dan mungkin berteman, selama keduanya tetap jelas.
Lyla meminta maaf karena pada awalnya ia memperlakukannya tanpa mempertimbangkan batas. Ia tak meminta Naran menghibur atau memaafkan ulang. Naran menjawab bahwa ia tahu Lyla berusaha berubah, dan itu cukup untuk memulai hubungan yang lebih baik.
Sebelum pergi, Lyla bertanya apakah ia boleh menyapa lagi esok hari. Naran mengiyakan. Mereka berpisah dengan anggukan, tanpa sentuhan. Lyla merasa percakapan itu menutup masalah amber dengan cara yang tidak memaksa siapa pun menjadi tokoh jahat.
Ia berjalan menuju taman dan merasa sedikit lebih ringan. Ia telah menyampaikan pilihannya kepada Naran sebelum membuatnya final, tetapi keputusan tetap miliknya.