Lyla bangun dengan catatan di samping bantal. Ia tidak membaca semuanya lagi. Ia tahu isi pilihan itu: kembali ke tubuh Bumi yang terluka dengan hasil yang tak terjamin, atau tinggal di Avantera dan mengakhiri hubungan dengan tubuh tersebut. Orion berjanji memberi tahu jika masa penahanan mendekati batas, tetapi tak ada tanggal pasti.
Ia meminta Tala menemaninya berjalan di taman. “Aku ingin tahu apa yang kuinginkan saat tidak ada yang sedang menungguku menjawab.”
“Kalau begitu, kita tidak akan membicarakan keputusan,” kata Tala.
Mereka berjalan melewati kolam dan duduk di bangku. Lyla bercerita tentang hal sederhana dari Bumi—bukan sebagai pembelaan untuk pulang, hanya sebagai kenangan. Ia mengingat trotoar, toko kecil, dan kucing-kucing yang pernah ditemuinya. Ia berkata ia tak tahu siapa yang berada di dekat tubuhnya saat kecelakaan.
“Aku ingin kembali karena itu rumahku,” katanya. “Tapi aku juga takut. Luka itu serius. Aku tidak tahu apakah akan ada yang menolong.”
Tala mendengarkan. “Anda tidak perlu membuktikan bahwa Bumi masih penting dengan memilih pulang.”
Lyla memandangi permukaan kolam. “Dan aku tak perlu membuktikan cintaku pada Aresh dengan tinggal.”
“Benar.”
Kalimat itu membuatnya menoleh. Ia sadar selama ini mencoba menjadikan pilihan sebagai bukti: pulang berarti setia pada masa lalu, tinggal berarti setia pada Aresh. Padahal ia mencintai keduanya dengan cara berbeda. Pilihan itu harus berdasarkan kehidupan yang sanggup ia jalani, bukan penilaian orang lain tentang kesetiaan.
Siang hari, ia menemui Liram untuk melihat catatan Orion. Ia meminta agar seluruh jawaban dibacakan ulang. Liram melakukannya tanpa menyimpulkan. Lyla menandai kalimat tentang tubuh berada di tempat kecelakaan, waktu ditahan, luka belum disembuhkan, dan pemulihan tak terjamin.
“Tidak ada informasi baru tentang siapa yang menolongku?” tanyanya.
“Tidak,” jawab Liram. “Orion tidak mengetahui keadaan sekitar tubuh Anda setelah pemindahan.”
Lyla mengangguk. Ia tak meminta Liram mencari-cari orang yang mungkin ada di Bumi. Tidak ada bukti yang bisa dipakai untuk itu.
Aresh menunggunya di balkon perpustakaan setelah ia selesai. Ia bertanya apakah Lyla ingin berbicara. Lyla menjawab ingin, tetapi tidak mau mendengar Aresh membujuknya untuk tinggal.
“Aku tidak akan membujukmu,” kata Aresh. “Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu, jika kau ingin menceritakannya.”
Lyla berkata ia belum memutuskan. Aresh mengangguk dan bertanya apakah ia ingin ia pergi agar punya ruang. Lyla memilih ditemani, tetapi meminta mereka membicarakan hal lain.
Mereka membaca buku bersama selama beberapa waktu. Aresh memilih kisah sejarah, Lyla memilih cerita petualangan. Sesekali mereka membahas isi buku, tetapi tidak menyinggung Bumi. Kehadiran Aresh menenangkan tanpa menjadi jawaban.
Menjelang senja, Lyla menulis tiga kata di buku catatan: “rindu”, “takut”, “ingin”. Ia belum memberi tahu kata mana yang akan memutuskan. Ia menyadari keputusan itu tidak akan menghapus ketiganya.
Lyla kemudian mengunjungi ruang baca kecil. Ia memilih sebuah buku yang sudah dibacanya sebagian dan melanjutkan dari halaman terakhir. Ia sengaja melakukan sesuatu yang tidak berhubungan dengan misi. Setelah beberapa lama, ia menyadari dirinya membaca tanpa terus menghitung risiko pulang.
Saat Tala datang, Lyla menutup buku. “Aku takut kehilangan Bumi, tapi aku juga menyadari selama ini aku hanya mengingat bagian yang ingin kurindukan. Aku tidak tahu bagaimana hidupku akan berlangsung setelah kembali.”
“Tidak ada pilihan yang memberi tahu seluruh masa depan,” jawab Tala.
“Aku tahu. Aku hanya ingin alasan untuk memilih tinggal yang bukan semata-mata Aresh.”
“Apakah Anda merasa punya alasan lain?”
Lyla melihat sekeliling ruangan: rak-rak buku, cahaya dari jendela, dan tempat yang mulai terasa akrab. Ia juga memikirkan Tala, kegiatannya di perpustakaan, dan kesempatan belajar hidup di dunia yang baru. “Ada. Aku ingin tahu siapa diriku di sini. Aku ingin mencoba menjalani hari-hari yang belum pernah kumiliki.”
Tala tidak mengatakan bahwa itu alasan yang benar. Ia hanya mengangguk dan bertanya apakah Lyla ingin teh. Lyla menjawab ya. Mereka duduk bersama, membicarakan hal biasa, sementara pilihan besar tetap belum ditetapkan.
Lyla merasa keputusan dapat menunggu sampai ia selesai menimbang, tetapi ia tak perlu menunda karena belum menemukan kalimat yang sempurna. Ia menulis di buku bahwa ia boleh memilih kehidupan baru tanpa meremehkan kehidupan lama.
Lyla menghabiskan siang dengan mengunjungi ruang baca kecil yang ia pilih sebagai tempat pribadinya. Ia tak membawa catatan misi. Ia membaca cerita yang belum selesai dan membiarkan dirinya memikirkan hal lain. Tokoh dalam buku itu membuat keputusan tergesa-gesa, dan Lyla mengomel pelan pada halaman.
Tala tertawa ketika mendengarnya. “Anda ingin memberi tokoh itu nasihat?”
“Aku ingin menyuruhnya tidur dulu sebelum mengubah hidupnya.”
“Apakah Anda akan mengikuti nasihat itu?”
“Mungkin.”
Mereka membaca beberapa halaman bersama. Lyla merasakan bahwa ia tidak harus mencari makna besar dalam setiap kegiatan. Ia bisa memilih hal yang menyenangkan tanpa harus menjadikannya bukti bahwa ia cocok tinggal.
Sore harinya, ia berjalan melewati taman dan mendapati Aresh sedang berbicara dengan Liram. Ia tidak mendekat hingga rapat kecil itu selesai. Aresh kemudian bertanya apakah Lyla ingin ditemani. Lyla menjawab tidak dulu, ia ingin duduk sendirian. Aresh menerima dan pergi ke ruang kerja.
Lyla duduk di bangku, memandang bunga-bunga dan mengingat bagaimana ia merasa ketika pertama kali diselamatkan dari persembahan. Ia takut, marah, dan ingin pulang. Kini ia merasa punya pilihan, meskipun berat. Ia tak perlu membenci keadaan awal untuk menerima bahwa hidupnya telah berkembang.
Ia memikirkan Bumi dan mengucapkan salam dalam hati. Ia tidak tahu siapa yang mungkin mendengar, dan tidak berpura-pura bahwa ada jawaban. Namun, ia merasa perlu mengakui bahwa ia akan merindukan dunia itu.
Ia menutup hari dengan berjanji tidak akan menganggap kesedihan sebagai bukti bahwa pilihannya keliru. Ia boleh berduka atas Bumi dan tetap memilih kehidupan di Avantera.
Ia minum teh bersama Tala dan tak membahas pilihan lagi sampai malam tiba. Menunggu esok bukan berarti menarik kembali pertimbangannya; ia hanya ingin beristirahat sebelum membuat keputusan final.