Pagi berikutnya, Aresh meminta bertemu Lyla di taman. Ia tidak membawa dokumen atau meminta jawaban. Ia hanya ingin bertanya apakah Lyla ingin berbicara setelah penjelasan Orion.
“Aku ingin bicara,” jawab Lyla. “Tapi aku tak tahu apakah aku bisa menjelaskan semuanya dengan rapi.”
“Kau tidak perlu menjelaskan dengan rapi.”
Mereka duduk di bangku yang berjauhan secukupnya. Lyla menceritakan bahwa tubuh Buminya mungkin meninggal jika ia tinggal, dan pulang pun tidak menjamin ia akan selamat. Ia tak tahu siapa yang menunggu di sana atau apakah ada yang melihat kecelakaan itu.
Aresh mendengarkan tanpa memotong. Ketika Lyla berhenti, ia bertanya apakah ia ingin ia menjawab atau hanya mendengarkan.
“Dengarkan dulu.”
Aresh mengangguk.
Lyla berkata ia takut memilih tinggal karena cinta kepada Aresh, lalu menyesal karena menyerah pada Bumi. Ia juga takut memilih pulang karena merasa harus, lalu menyesal meninggalkan Avantera dan orang-orang yang ia sayangi.
“Tidak ada pilihan tanpa kehilangan,” kata Aresh.
“Aku tahu. Aku ingin pilihan yang terasa milikku, bukan pilihan yang dibuat rasa bersalah.”
Aresh berkata ia menerima bahwa Lyla mungkin pulang. Ia tak akan menganggapnya pengkhianatan atau memaksa Lyla membuktikan cinta. Ia ingin bersama Lyla, tetapi tak akan mengunci pilihan itu menjadi kewajiban.
“Aku mencintaimu,” kata Lyla. “Tapi aku belum tahu apakah cinta itu cukup untuk tinggal.”
“Aku tidak meminta itu cukup.”
“Kalau aku perlu beberapa hari untuk berpikir?”
“Ambillah.”
“Kalau aku tidak ingin membahas pernikahan dulu?”
“Kita tidak akan membahasnya.”
Lyla menatap Aresh. Ia merasa kata-kata itu memberi ruang, bukan jalan keluar. Ia bisa memilih dan tetap menanggung akibatnya. Tak seorang pun dapat membuat pilihan itu ringan.
Aresh berkata ia akan menjauh sementara jika Lyla ingin memikirkan sendiri. Lyla mengangguk. “Aku ingin satu hari tanpa pembicaraan tentang Orion atau kita.”
“Baik.”
Mereka berdiri. Aresh tak mencoba menggenggam tangannya. Lyla berterima kasih karena ia memberi ruang, lalu meminta izin untuk duduk sendiri sebentar. Aresh mengangguk dan pergi ke arah lain.
Tala datang setelah beberapa menit. Ia bertanya apakah Lyla ingin ditemani atau sendiri. Lyla memilih ditemani, tetapi tanpa membicarakan pilihan. Mereka duduk diam dan melihat taman.
Lyla tahu ia harus membuat keputusan sebelum penahanan tubuh berakhir, namun Orion berjanji akan memberi tahu jika ada perubahan yang membutuhkan keputusan segera. Ia memiliki waktu untuk berpikir, meski bukan waktu tanpa batas. Ia berhak menggunakannya untuk memahami rasa cintanya, rasa rindunya, dan kemungkinan hidup tanpa gelar.
Malam itu ia membuka tiga kolom pilihannya. Ia tidak mencoret satu pun. Ia menulis di bawahnya: “Aku akan memilih setelah memahami apa yang hilang dan apa yang tetap menjadi milikku.”
Aresh berada di perpustakaan, tetapi tidak mengajaknya bicara. Lyla melihatnya dari koridor dan merasa bersyukur ia menepati janji memberi ruang. Ia belum memilih, tetapi untuk pertama kalinya ia tak merasa harus meminta maaf karena belum tahu.
Keesokan pagi, Aresh mengirim pesan bahwa ia akan berada di ruang kerja jika Lyla ingin berbicara, tetapi ia tak akan datang mencarinya. Lyla membaca pesan itu dan tersenyum. Ia merasa diberi ruang yang nyata, bukan hanya ucapan.
Ia memilih berjalan di taman bersama Tala. Mereka berbicara tentang buku dan cuaca, lalu duduk tanpa menyebut Orion. Lyla ingin menjalani beberapa jam biasa sebelum kembali memikirkan masa depan.
Ketika ia pulang, ia membuka catatan lagi dan memastikan semua informasi penting tersimpan. Ia bisa meminta Orion menjelaskan kembali kapan pun perlu. Ia tak harus menghafal semuanya dalam satu malam.
Lyla akhirnya memutuskan akan menunggu satu hari lagi sebelum membuat keputusan apa pun. Bukan karena seseorang memintanya, melainkan karena ia sendiri belum siap. Ia akan terus mencari tahu, tetapi tak akan berpura-pura memiliki jawaban.
Sebelum tidur, Lyla membaca kembali pertanyaannya dan menyadari ia tidak perlu segera menyusun alasan yang sempurna. Ia boleh memilih tanpa membuat semua orang setuju, selama ia memahami akibatnya dan tidak mengubah pilihan orang lain.
Ia menulis bahwa Orion berjanji akan menyampaikan jika keadaan tubuh berubah. Tidak ada tanggal yang ditetapkan, tetapi ia tak akan menunda selamanya. Lyla menyimpan catatan itu dan memutuskan untuk kembali berbicara setelah satu hari istirahat.
Tala bertanya apakah ia ingin ditemani. Lyla menjawab ya, hanya untuk minum teh dan berbicara hal ringan. Mereka membicarakan buku dan tanaman sampai Lyla merasa tenang. Malam berakhir tanpa keputusan, tetapi juga tanpa rasa bahwa ia telah gagal.
Lyla lalu membawa catatan itu ke ruang baca kecil dan membandingkannya dengan apa yang ia ingat dari pertemuan pertama. Ia tak menemukan kontradiksi baru, tetapi sadar banyak hal baru dijelaskan setelah ia bertanya dengan tenang. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap meminta penjelasan jika ada kalimat yang terasa kabur.
Ia bertanya kepada Tala apakah menurutnya Lyla harus memilih Bumi. Tala menjawab bahwa ia tidak dapat memilihkan, meski akan merindukan Lyla jika ia pergi. Jawaban itu membuat Lyla lega karena Tala tak menyembunyikan perasaannya, tetapi juga tak menggunakannya sebagai tekanan.
“Kalau aku tinggal, aku tak ingin kau berpikir aku tinggal hanya demi orang-orang di sini.”
“Saya ingin Anda tinggal karena itu pilihan Anda sendiri.”
Lyla mencatat kalimat tersebut dalam pikirannya, bukan di buku. Ia tahu keputusan yang benar mungkin tetap terasa menyakitkan, tetapi ia ingin rasa sakit itu datang dari pilihan yang ia pahami, bukan dari informasi yang ditahan.
Malam itu ia meminta Aresh tidak datang menemuinya. Ia ingin sendiri. Aresh menerima pesan melalui Tala dan tak mengirim pertanyaan susulan. Lyla merasa ruang itu dihormati.
Ia menulis kembali batas yang dijelaskan Orion: waktu tubuh Bumi ditahan, luka tak disembuhkan, kemungkinan pulang berisiko, tinggal akan mengakhiri hubungan dengan tubuh, dan Orion akan memberi peringatan sebelum keadaan berubah. Ia menutup buku setelah memastikan tak ada fakta lain.