Lyla kembali memanggil Orion sore berikutnya. Ia menyiapkan daftar pertanyaan tentang lamanya penahanan tubuh. Aresh dan Tala menemaninya di balkon, sementara Liram menjaga catatan. Lyla meminta Aresh berada di dekat pintu dan Tala duduk di kursi seberang.
Orion muncul setelah mendengar panggilan. Lyla langsung bertanya, “Apakah kau tahu kapan tubuhku tak bisa dipertahankan lagi?”
Orion menjawab bahwa ia tidak bisa memberi tanggal kalender. Penahanan itu adalah tindakan yang terus dijaga, bukan keadaan yang dapat berlangsung tanpa batas. Ia akan memberi tahu Lyla jika ada perubahan yang membuat keputusan segera diperlukan. Sampai saat itu, ia tidak akan mencabutnya mendadak.
“Berapa kali kau akan memberitahuku?”
“Setiap kali ada perubahan nyata yang perlu kau ketahui. Aku tidak akan menyembunyikan batas waktu untuk memaksamu memilih.”
Lyla meminta kepastian bahwa tidak ada syarat lain yang belum disebutkan. Orion menjawab tidak ada syarat rahasia tambahan. Pilihannya tetap: kembali ke tubuh yang sama dengan risiko luka, atau tinggal dan melepaskan hubungan dengan tubuh itu. Misi Aresh tidak mengharuskan pernikahan.
“Apakah aku boleh memilih tinggal, tapi tidak menikah?”
“Ya.”
“Boleh memilih tinggal sekarang dan berubah pikiran sebelum penahanan berakhir?”
“Selama tubuhmu masih dipertahankan, kau dapat meminta untuk kembali. Namun pilihan itu tetap memiliki risiko yang sama dan tidak menjamin tubuh pulih.”
Lyla merasa sedikit lega mendengar bahwa tinggal tidak serta-merta menutup kemungkinan pulang pada hari yang sama. Tetapi ia memahami batas penahanan akhirnya tetap ada. Ia meminta Orion menjelaskan apakah perasaan Aresh menentukan misi.
“Tidak. Misi hanya berkaitan dengan pilihan Aresh tentang hubungan dan masa depannya. Keputusan Lyla tentang Bumi tetap terpisah.”
“Kalau Aresh memilih tidak menikah?”
“Jika ia telah memahami dirinya dan memutuskan demikian secara sadar, pernikahan tidak diwajibkan. Misi tidak akan memaksanya.”
Aresh bertanya apakah ia perlu mengumumkan perasaannya kepada istana untuk memenuhi tujuan tersebut. Orion berkata tidak. Pilihan pribadi tak perlu menjadi pengumuman kerajaan.
Lyla menuliskan jawaban-jawaban itu. Ia meminta Orion mengulang poin tentang dapat meminta kembali selama penahanan berlangsung. Ia ingin mencatat bahwa pilihan tinggal bukan tombol yang langsung menghapus jalan pulang, tetapi kesempatan itu tetap memiliki akhir yang tidak bertanggal.
“Benar,” kata Orion. “Aku tidak akan menyebutnya tanpa risiko.”
Lyla memandang Aresh. Ia berkata ia belum siap menentukan kapan harus kembali atau tinggal. Orion menjawab ia tidak meminta jawaban sekarang. Ia hanya ingin memastikan Lyla memahami konsekuensi.
“Kalau begitu aku butuh waktu.”
“Kau boleh mengambilnya.”
Orion pergi setelah Lyla menyatakan cukup. Liram membaca ulang catatan dan memastikan tidak ada syarat tambahan. Lyla menyetujui penyimpanan dokumen.
Ia merasa lebih tenang, meski keputusan tetap berat. Ia tahu batas waktu tidak jelas, tetapi Orion berjanji memberi tahu jika ada perubahan nyata. Ia tak perlu memilih malam itu hanya karena takut bahwa kesempatan akan lenyap tanpa peringatan.
Lyla memutuskan tidak menulis keputusan hari itu. Sebagai gantinya, ia menulis pertanyaan yang belum bisa ia jawab: apakah ia akan merasa hidupnya utuh jika pulang, apakah ia bisa membangun kehidupan di Avantera tanpa gelar, dan bagaimana ia ingin mengenang Bumi jika memilih tinggal.
Ia memberi jarak di antara setiap pertanyaan. Tidak semua harus dijawab sekaligus. Tala membantunya memikirkan kegiatan kecil untuk esok hari, tetapi Lyla menolak menyusun jadwal panjang. Ia hanya memilih sarapan, membaca, dan mungkin berjalan.
Aresh bertanya apakah Lyla ingin ia berada di dekatnya malam itu. Lyla menjawab tidak, ia ingin sendiri. Aresh menerima dan mengucapkan selamat malam tanpa bertanya kapan ia akan berubah pikiran.
Lyla duduk lama di jendela, melihat lampu-lampu istana. Ia mengingat tubuhnya yang tertahan di Bumi dan orang-orang yang mungkin berada di dekatnya, meski tak diketahui. Ia tak bisa mengisi kekosongan itu dengan cerita. Ia hanya bisa mempertimbangkan risiko dan berharap memiliki keberanian.
Tala mengetuk sebelum masuk untuk membawa selimut. Lyla menerima bantuannya, lalu mengucapkan terima kasih. Ia menyadari dirinya tetap bisa menerima kasih sayang tanpa menjadikannya alasan tunggal untuk tinggal.
Malam itu ia tidur tanpa mencoret salah satu pilihan. Ia belum memberi jawaban, tetapi ia telah menuliskan semua hal yang penting baginya.
Lyla kemudian meminta Orion memberi waktu untuk memikirkan dampak emosional, bukan hanya mekanis, dari kepulangan. Orion mengatakan ia tak dapat mengukur kesedihan Lyla atau memilih cara terbaik baginya. Namun, ia bisa memastikan tidak ada yang mewajibkannya menyelesaikan rasa duka sebelum membuat keputusan.
“Kalau aku belum ikhlas kehilangan Bumi, apakah itu berarti aku harus pulang?”
“Tidak. Perasaan itu bukan perintah. Kau harus mempertimbangkan apa yang kau inginkan dan risiko yang bersedia kau terima.”
“Kalau aku belum siap meninggalkan Aresh?”
“Itu juga bukan perintah untuk tinggal.”
Lyla menutup buku sejenak. Jawaban itu terasa keras sekaligus membebaskan. Tidak ada perasaan yang bisa menyelesaikan pilihan sendirian. Ia harus memilih sambil membawa perasaan-perasaan itu.
Aresh mendengar tanpa meminta Orion mengubah jawabannya. Setelah Lyla menyatakan cukup, Orion menghilang. Lyla meminta waktu sendirian dan Aresh mengangguk, kemudian pergi tanpa menyentuhnya.
Ia duduk beberapa menit, lalu membuka kembali catatan dan menuliskan bahwa cinta, takut, serta rindu adalah perasaan, bukan instruksi. Ia akan mendengar semuanya, tetapi keputusan tetap miliknya.
Lyla juga menanyakan apakah waktu yang diberikan akan berubah jika ia tidak segera memutuskan tinggal atau pulang. Orion mengatakan ia akan memberi peringatan sebelum masa penahanan mendekati batas, bukan mengubah aturan diam-diam. Ia tak dapat memastikan berapa lama lagi, tetapi akan berbicara langsung dengan Lyla jika situasi berubah.
“Kalau aku perlu bertanya lagi, aku boleh memanggilmu?”
“Kau boleh mencoba menghubungiku, tetapi aku tidak menjanjikan akan selalu hadir seketika. Aku akan merespons ketika dapat.”
Lyla menyadari respons itu bukan jaminan yang sempurna, namun tidak ada cara lain yang telah dijanjikan. Ia meminta agar semuanya dicatat sebagai kemungkinan komunikasi, bukan kepastian kehadiran.
Orion setuju. Setelah itu Lyla menyatakan ia cukup untuk hari tersebut. Ia tak ingin mengambil keputusan hanya karena percakapan terasa semakin berat.