Sudah tepat satu minggu Lyla menghuni kamar mewah di Menara Mawar Istana Avantera. Baginya, satu minggu ini terasa seperti setahun. Meskipun fasilitasnya luar biasa—makanan enak yang selalu tersedia, baju-baju sutra yang lembut, dan Tala yang siap melayaninya—Lyla mulai merasa otaknya berkarat karena kebosanan. Sifat sembrononya tidak dirancang untuk duduk manis sambil memandangi taman seharian.
Hari ini, Lyla memutuskan untuk melakukan sesuatu yang produktif menurut standar pemikirannya: menyelesaikan misi Orion. Ia harus mencarikan Aresh seorang istri agar ia bisa segera pulang. Dengan langkah lebar dan wajah penuh tekad, Lyla berjalan menuju ruang kerja sang Raja Naga, mengabaikan tatapan heran para pelayan yang berpapasan dengannya.
BRAK!
Lyla membuka pintu ganda ruang kerja Aresh tanpa mengetuk. Di dalam, Aresh sedang duduk di balik meja kayu hitam yang besar, dikelilingi oleh tumpukan kertas dokumen yang tingginya hampir menutupi wajahnya. Di sampingnya stands seorang pria berkacamata dengan ekspresi sangat serius, yang belakangan Lyla ketahui bernama Liram, sekretaris pribadi sang Raja.
"Aresh! Kita harus bicara!" seru Lyla sambil berjalan mendekat.
Aresh bahkan tidak mendongak. Pena bulunya terus menari di atas kertas, menandatangani dokumen satu demi satu. Keheningan yang dingin menyelimuti ruangan itu. Lyla berkacak pinggang, menanti respons, namun Aresh seolah menganggap Lyla hanyalah seekor lalat yang sedang berdengung.
"Aresh, aku serius. Aku sudah memikirkan ini selama seminggu. Aku akan membuatkan pengumuman audisi. Kita butuh mencari istri untukmu secepat mungkin. Kau tahu, tipe wanita yang lembut, yang bisa menahan emosimu yang sedingin kulkas itu..." Lyla terus mengoceh, menjelaskan kriteria istri ideal mulai dari cara bicara hingga warna rambut.
Namun, Aresh tetap diam. Ia hanya terus menatap kertas-kertas di depannya.
Lyla mulai merasa kesal. Bukan marah yang meledak-ledak, melainkan rasa gemas karena diabaikan. Ia merasa seperti sedang bicara dengan patung marmer. Dengan gerakan cepat yang tak terduga, Lyla menjangkau meja itu dan menarik pergelangan tangan Aresh, memaksa pena bulunya berhenti bergerak.
"Ayo ikut aku! Kau butuh udara segar agar otakmu tidak berubah jadi tumpukan kertas!"
Liram, sang sekretaris, hampir saja pingsan di tempat. Matanya melotot hingga kacamatanya merosot ke ujung hidung. Selama bertahun-tahun ia melayani Aresh, tidak ada satu pun makhluk di dunia ini—bahkan panglima perang terkuat sekalipun—yang berani menyentuh, apalagi menarik tangan Sang Raja Naga dengan cara kasar seperti itu.
"Nyonya! Apa yang Anda lakukan?! Lepaskan tangan Yang Mulia segera!" Liram berteriak dengan suara yang pecah karena panik. Ia segera melangkah maju untuk menghentikan Lyla.
Namun, Aresh mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar Liram diam dan tetap di tempatnya. Liram tertegun, mulutnya menganga. Ia mulai berpikir apakah rajanya telah terkena sihir hitam dari dunia lain, karena Aresh sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. Ia justru membiarkan tangannya digenggam dan ditarik oleh Lyla.
Lyla terus menarik Aresh keluar dari kursinya. "Ayo! Kau ini raja, bukan robot kantor. Dunia luar itu luas, Aresh! Ada matahari, ada bunga, ada pelayan yang takut padaku... kau harus lihat semua itu!"
Aresh menatap tangan Lyla yang memegang pergelangan tangannya. Kulit Lyla yang halus terasa sangat hangat bersentuhan dengan kulitnya yang cenderung dingin. Tanpa disadari, telinga Aresh mulai berubah warna menjadi merah padam. Bayangan tentang hari di mana Lyla pertama kali dibawa ke istana tiba-tiba melintas di pikirannya.
Saat itu, penduduk desa Suin Kadal datang dengan gemetar, membawa Lyla yang tidak sadarkan diri sebagai tumbal. Selama ini, orang-orang luar beranggapan bahwa Aresh menyantap manusia yang diberikan padanya. Padahal, Aresh selalu melepaskan mereka atau mempekerjakan mereka di istana agar mereka punya kehidupan yang layak.
Namun, Lyla berbeda. Saat pertama kali melihat Lyla terbaring tak berdaya seperti mayat di atas tandu persembahan, Aresh merasakan sebuah getaran yang sangat aneh di dadanya. Ketika ia menyentuh tangan Lyla yang dingin saat itu untuk memeriksa denyut nadinya, ia merasa seolah-olah ada percikan api yang menjalar ke jantungnya. Tangan gadis itu, meski saat itu dingin karena pengaruh obat bius suin, seolah membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kehangatan yang membuatnya memutuskan secara impulsif untuk menjadikannya "permaisuri".
Kembali ke masa sekarang, Aresh hanya bisa mengikuti tarikan Lyla. Para pelayan yang sedang membersihkan koridor seketika membeku saat melihat pemandangan langka itu. Mereka segera menundukkan kepala dalam-dalam, memberi hormat, namun mata mereka tetap melirik penasaran. Raja mereka yang agung sedang ditarik-tarik oleh seorang gadis manusia!
Di tengah lorong, mereka berpapasan dengan Tala yang sedang membawa nampan berisi teh dan kue manis untuk camilan sore sang Raja. Begitu melihat Lyla sedang menarik tangan Aresh, Tala sangat terkejut hingga tangannya gemetar.
PRANG!
Nampan itu jatuh, cangkir teh pecah berkeping-keping di lantai. Tala langsung bersujud di lantai dengan keringat dingin mengucur di dahinya. "Y-yang Mulia! Nyonya! Maafkan kelalaian saya! Saya... saya sangat terkejut..."
Lyla berhenti sejenak dan menoleh pada Tala dengan wajah bangga, seolah ia baru saja memenangkan lotre. "Tala! Pas sekali kau di sini. Aku sedang mengajak naga kaku ini jalan-jalan agar dia tidak lumutan di ruang kerja."
Tala mendongak dengan wajah pucat. "Nyonya Lyla, tolong lepaskan tangan Yang Mulia... ini sangat tidak sopan... saya mohon maafkan sikap sembrono Nyonya, Yang Mulia..."
Aresh menatap Tala sejenak, lalu suaranya yang berat memecah suasana. "Tala, pergilah. Bersihkan ini dan bawakan yang baru ke taman."
"Tapi Yang Mulia..." Tala mencoba memprotes karena khawatir, namun Lyla sudah menarik Aresh pergi lagi sebelum pelayan itu selesai bicara.
"Ayo cepat! Nanti mataharinya keburu sembunyi!" seru Lyla. "Tala! Siapkan teh dan es buah yang banyak ya! Kami akan ada di taman!"
Tala hanya bisa menatap punggung mereka dengan penuh kekhawatiran yang mendalam. Ia merasa seperti sedang melihat seorang bocah yang sedang menyeret seekor naga purba untuk bermain petak umpet.
Lyla berhasil membawa Aresh ke taman tengah istana, tempat di mana kolam angsa berada. Ia menarik Aresh menuju sebuah kursi taman yang terbuat dari marmer putih dengan ukiran bunga. Dengan gerakan yang sangat energik, Lyla menarik kursi itu ke belakang dan memberi isyarat agar Aresh duduk.
Momen itu terasa sangat lucu bagi siapa pun yang melihatnya. Seharusnya, dalam tata krama kerajaan, pihak prialah yang menarikkan kursi untuk wanita. Tapi di sini, Lyla yang bertindak seolah-olah ia adalah pengawal pribadi Aresh.
Aresh duduk dengan kaku, masih tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Lyla melihat seorang pengawal yang sedang berjaga di dekat pintu masuk taman. "Hei, kau! Sini sebentar!"
Pengawal itu tersentak, hampir menjatuhkan tombaknya. Ia berjalan mendekat dengan kaki gemetar saat melihat Rajanya duduk di sana dengan ekspresi datar. "Y-ya, Nyonya? Ada yang bisa saya bantu untuk Yang Mulia?"
"Tolong ke dapur, bilang pada mereka aku minta dibikinkan 'Es Buah'. Tahu kan? Buah dipotong-potong, kasih es yang banyak, kasih madu. Cepat ya, Rajamu ini sepertinya sedang kepanasan sampai telinganya merah begitu," perintah Lyla dengan santai.
Pengawal itu melirik Aresh dengan bingung, mencari persetujuan. Setelah Aresh memberikan anggukan kecil sebagai isyarat, pengawal itu langsung bergegas pergi secepat mungkin seolah sedang dikejar monster.
Kini tinggal mereka berdua. Lyla duduk di kursi di depan Aresh, menatap pria itu dengan intens. "Oke, sekarang kita bicara serius. Katakan padaku, Aresh. Seperti apa tipe wanita yang kau sukai? Yang tinggi? Yang pendek? Atau yang punya tanduk lebih besar darimu?"
Aresh lagi-lagi hanya diam. Ia menatap kolam angsa, lalu mengalihkan pandangannya pada Lyla. Matanya yang emas menatap wajah Lyla yang penuh semangat. Ia memperhatikan rambut Lyla yang sedikit berantakan karena angin taman—dan mungkin karena aksinya menarik Aresh tadi.
Tanpa sadar, tangan Aresh terangkat. Dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, ia merapikan helai rambut Lyla yang menutupi matanya, menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu.
Saat jari-jari Aresh yang dingin menyentuh kulit wajahnya, Lyla tertegun. Ia berhenti bicara. Keheningan yang berbeda kini menyelimuti mereka—bukan keheningan yang kaku, melainkan sesuatu yang terasa jauh lebih mendebarkan.
Begitu Aresh menyadari apa yang baru saja ia lakukan, ia segera menarik tangannya kembali seolah-olah baru saja menyentuh api. Ia memalingkan wajahnya, dan kali ini, semburat merah di telinganya menjalar hingga ke pipinya yang tegas.
Jantung Lyla tiba-tiba berdegup sangat kencang, hingga ia bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Perasaan aneh yang hangat meledak di dadanya. Namun, karena sifatnya yang menolak untuk terlihat lemah, Lyla segera memegang dadanya dan bergumam, "Duh... sepertinya aku benar-benar haus. Jantungku sampai berdetak begini karena dehidrasi. Mana sih es buahnya?!"
Aresh hanya meliriknya sekilas, lalu kembali menatap ke arah lain dengan tangan yang saling bertautan di pangkuannya. Di bawah matahari sore Avantera, sang Naga dan si Manusia Sembrono duduk bersama dalam kecanggungan yang mulai berubah menjadi sesuatu yang tak bisa lagi mereka sangkal.
To be continued.....