Tiga hari setelah percakapan dengan Naran, Lyla meminta Tala duduk bersamanya di taman. Ia ingin memikirkan apa saja yang ia sukai di Avantera, bukan hanya apa yang bisa membuat Aresh atau istana senang.
“Aku suka perpustakaan,” katanya. “Aku suka belajar tentang dunia ini. Aku juga suka berjalan di taman dan ngobrol denganmu.”
Tala mendengarkan sambil menyiram tanaman. “Apakah Anda ingin mengubah itu menjadi pekerjaan?”
“Belum tahu. Aku ingin mencoba lebih lama, tapi tidak ingin menyebutnya tugas permaisuri. Aku juga ingin melihat kegiatan lain sebelum memilih.”
“Tidak ada yang mengharuskan Anda segera memilih.”
Lyla menuliskan minat-minatnya tanpa memberi nama jabatan. Ia lalu membicarakan Naran. Ia merasa lega bahwa Naran memilih sendiri untuk menahan amber dan tak memaksa hubungan mereka berubah menjadi romansa. Ia juga menyadari bahwa meminta maaf bukan berarti ia dapat mengatur kapan Naran pulih dari rasa sakit.
“Kalau dia perlu jarak, aku akan menghormati. Kalau dia ingin bicara, aku akan mendengarkan selama aku juga nyaman.”
“Itu batas yang baik,” ujar Tala.
Aresh menemui mereka setelah tugas kerajaan selesai. Ia bertanya apakah Lyla ingin berjalan ke balkon perpustakaan. Lyla menjawab iya. Mereka berjalan tanpa bergandengan tangan.
“Aku mulai merasa bisa punya kehidupan di sini yang bukan hanya tentangmu,” kata Lyla.
Aresh mengangguk. “Aku senang mendengarnya.”
“Bukan berarti aku sudah memilih tinggal.”
“Aku tahu.”
“Aku ingin mencoba kegiatan perpustakaan dan belajar lebih banyak. Kalau nanti aku pergi, kegiatan itu tetap berarti bagiku.”
“Benar. Sesuatu tidak harus berlangsung selamanya agar berarti.”
Lyla mengulang kalimat itu dalam pikirannya. Ia mulai melihat bahwa pengalaman di Avantera tak akan menjadi sia-sia jika ia kembali ke Bumi. Demikian juga, mencintai Aresh tidak berarti ia harus menghapus masa lalunya.
Aresh bertanya apakah ia ingin membicarakan pengakuan cintanya lagi. Lyla berkata tidak malam itu. Ia ingin menghabiskan waktu dengan membaca bersama. Aresh menerima tanpa kecewa.
Mereka duduk bersebelahan di perpustakaan dan membaca buku masing-masing. Lyla menemukan satu bagian yang menarik lalu membacakannya keras-keras. Aresh mendengarkan, kemudian menjelaskan konteksnya. Mereka berdebat ringan tentang apakah penguasa lama membuat keputusan bijak atau hanya beruntung.
“Kalau kau yang memimpin saat itu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Lyla.
“Aku akan mencari informasi lebih dahulu.”
“Jawaban khas raja.”
“Apa jawabanmu?”
“Aku mungkin membuat daftar.”
“Daftar berapa halaman?”
“Jangan menantangku.”
Mereka tertawa. Lyla merasa hari itu menjadi bagian hidupnya sendiri, bukan ujian untuk membuktikan bahwa ia cocok menjadi ratu.
Sebelum pulang ke kamar, ia bertemu Naran di koridor. Ia bertanya apakah ia punya waktu untuk berbicara, dan Naran menjawab ia sedang menuju pertemuan. Lyla berkata semoga pertemuannya lancar dan membiarkannya pergi. Tidak ada kekecewaan atau tuntutan. Ia menghormati waktunya.
Tala memperhatikan dari kejauhan. “Anda tidak mengejarnya.”
“Dia bilang sedang sibuk. Aku percaya.”
“Bagus.”
Lyla mengakhiri malam dengan menulis bahwa ia ingin terus mengenal Avantera, tetapi belum membuat janji tinggal. Ia juga menuliskan bahwa amber adalah keputusan Naran, bukan tugasnya. Catatannya sederhana, tetapi membuatnya merasa lebih dekat dengan pilihan yang benar-benar miliknya.
Sore hari, Lyla dan Aresh membicarakan kegiatan perpustakaan. Aresh bertanya apakah Lyla ingin menyampaikan usul katalog kepada dewan istana. Lyla menjawab belum. Ia ingin mencoba lebih dulu, bukan membuat presentasi atau menerima jabatan.
“Aku ingin tahu apakah aku tetap menyukainya setelah beberapa kali datang,” katanya.
“Masuk akal.”
“Kalau suatu saat aku memilih pulang, aku tetap ingin mengingat kegiatan itu dengan senang, bukan merasa kegiatan itu adalah bagian dari kewajiban tinggal.”
Aresh menyetujui. Ia tak meminta Lyla membuktikan minatnya dengan datang setiap hari. Mereka sepakat ia dapat memilih waktunya sendiri.
Lyla juga bertanya tentang Naran. Aresh menjawab ia senang mereka dapat menjaga hubungan dengan hormat, tetapi ia tidak akan menilai atau mengatur kedekatan mereka. Lyla berkata ia ingin tetap menyapa Naran, namun akan menerima jika panglima itu memerlukan jarak.
“Kalau kau cemburu, katakan. Jangan menjadikan diam sebagai hukuman,” ujar Lyla.
“Aku akan berusaha.”
“Dan aku juga. Aku tak akan menyembunyikan perasaan di balik daftar pekerjaan.”
Mereka tertawa kecil. Lyla merasa percakapan itu menguatkan cara mereka saling mengenal tanpa gelar. Ia belum memilih tinggal, dan Aresh tidak meminta kepastian.
Malamnya ia menulis bahwa minat pada perpustakaan adalah sesuatu yang ia pilih untuk dicoba, bukan bukti bahwa ia telah membuat rumah di Avantera. Ia menulis juga bahwa ia dapat menyayangi Naran sebagai teman sambil menerima bahwa ia tak membalas perasaan romantisnya.
Sebelum tidur, Lyla menulis dua hal dalam buku hariannya. Ia menikmati katalog perpustakaan dan ingin mencobanya lagi. Ia juga belajar bahwa Naran menentukan sendiri arti amber, dan ia tak perlu mengubah keputusannya.
Ia tak menuliskan bahwa dirinya sudah menemukan tempat tinggal. Ia belum tahu apakah akan pulang ke Bumi, dan belum memahami berapa lama tubuhnya dapat ditahan. Ia hanya menuliskan apa yang benar hari ini.
Tala bertanya apakah Lyla ingin ditemani ke perpustakaan esok hari. Lyla menjawab mungkin, lalu menambahkan bahwa ia ingin memutuskan setelah bangun. Tala menerima jawaban itu tanpa meminta kepastian.
Lyla memadamkan lampu. Ia merasa kehidupannya di Avantera mulai memiliki ruang yang tidak ditentukan oleh misi atau gelar. Ruang itu kecil, tetapi ia memilihnya sendiri.
Ia menerima bahwa rasa sayang pada Naran tidak membuatnya wajib menjadi pasangan, dan rasa sayang kepada Aresh belum menentukan tempat tinggalnya. Untuk hari ini, ia hanya memilih kegiatan yang disukainya dan cara memperlakukan orang lain dengan lebih baik.
Ia juga menyimpan ruang bagi dirinya sendiri untuk berubah pikiran. Minat hari ini tidak harus menjadi rencana hidup selamanya; pilihan esok bisa berbeda, dan ia tetap boleh menentukannya sendiri.
Ia mengakhiri malam dengan tenang, tanpa menganggap kesenangan kecil sebagai keputusan untuk tinggal. Esok ia masih boleh bertanya, belajar, dan memilih lagi.