Lyla kembali ke perpustakaan untuk membantu merapikan rak. Kali ini ia datang tanpa menganggap tugas itu sebagai pekerjaan tetap. Liram menunjukkan bagian yang perlu ditata, lalu membiarkannya memilih berapa lama akan membantu.
“Kalau aku selesai sebelum makan siang, boleh aku pergi?”
“Tentu,” kata Liram. “Tidak ada kewajiban untuk tinggal.”
Tala ikut membantu mengelompokkan buku. Mereka bekerja bersama beberapa pelayan Suin. Lyla berusaha lebih memperhatikan jarak. Saat ingin mengambil buku dari rak yang sedang dirapikan seorang pelayan kelinci, ia bertanya, “Boleh aku lewat di belakangmu?”
Pelayan itu mengangguk dan memberi ruang. Lyla lewat tanpa menyentuh telinga panjangnya yang tertutup sebagian kain.
“Aku dulu pasti langsung menerobos,” kata Lyla kepada Tala.
“Sekarang Anda bertanya.”
“Lebih baik daripada membuat orang menghindariku.”
Tala tersenyum. Lyla tidak meminta pujian, tetapi ia merasa lebih tenang karena tindakan kecil itu menghormati pilihan orang lain.
Seorang pelayan Suin rubah membawa tumpukan buku dan hampir menjatuhkannya. Lyla ingin membantu secara refleks, tetapi ia bertanya dulu apakah pelayan tersebut ingin dibantu. Setelah mendapat persetujuan, ia mengambil sebagian buku dari sisi yang disodorkan, bukan meraih tubuh atau ekornya.
“Terima kasih, Nona Lyla,” kata pelayan itu.
“Sama-sama. Beri tahu kalau aku mengambil terlalu banyak.”
Mereka melanjutkan pekerjaan. Lyla belajar bahwa meminta izin tidak membuat bantuan menjadi dingin atau berlebihan. Justru orang yang dibantu dapat menentukan apa yang nyaman bagi mereka.
Saat istirahat, Liram membawa teh. Lyla bertanya apakah ia boleh menuangkan untuk Tala. Tala mengangguk, lalu Lyla menuangkan tanpa menepuk telinganya atau menyentuh bahunya. Hal kecil itu membuat Tala tersenyum.
“Apakah aku selalu harus bertanya untuk semua hal?” tanya Lyla.
“Tidak semua hal. Tetapi untuk sentuhan atau hal yang menyangkut ruang pribadi, bertanya adalah cara yang baik.”
Lyla mengangguk. Ia tidak ingin berubah menjadi orang yang takut berinteraksi. Ia hanya ingin berhenti menganggap keakraban sebagai izin otomatis.
Menjelang makan siang, ia menyelesaikan bagian rak yang dipilihnya. Liram bertanya apakah ia ingin datang lagi. Lyla menjawab ia ingin mencoba satu hari lagi minggu depan, tetapi belum akan berkomitmen setiap hari.
“Baik. Saya akan mengosongkan waktu itu tanpa mengubahnya menjadi jadwal wajib.”
“Terima kasih.”
Aresh datang menjemput dokumen, lalu bertanya apakah Lyla ingin berjalan bersama ke ruang makan. Ia juga bertanya apakah ia boleh menawarkan lengannya. Lyla menjawab ya, dan mereka berjalan berdampingan. Saat mereka tiba, Lyla melepaskan lengan Aresh. Ia tidak merasa harus memberi alasan.
“Kau nyaman?” tanya Aresh.
“Ya. Aku hanya ingin tanganku bebas saat makan.”
Aresh mengangguk. Tak ada komentar yang membuatnya malu. Lyla menyadari bahwa kedekatan yang sehat tidak selalu berarti terus bersentuhan. Ia bisa berkata ya untuk satu momen dan tidak untuk momen berikutnya.
Setelah makan, ia kembali ke kamar dan menulis catatan tentang kegiatan perpustakaan. Ia menyukai pekerjaan itu, tetapi belum tahu apakah akan menjadikannya bagian dari hidup di Avantera. Ia menegaskan bahwa kalau ia memilih tinggal, ia ingin memilih kegiatan tanpa kewajiban gelar.
Aresh kemudian bertanya bagaimana Lyla ingin menanggapi jika pejabat istana kembali menyebutnya calon permaisuri. Lyla menjawab ia ingin Aresh segera mengoreksi anggapan itu, tetapi tidak perlu mengumumkan bahwa mereka saling mencintai.
“Bisa kau katakan bahwa belum ada keputusan dan statusku bukan urusan rapat?”
“Aku akan mengatakan itu.”
Lyla menambahkan bahwa ia ingin Aresh tetap bicara jujur tentang perasaannya kepadanya secara pribadi, bukan menghapusnya hanya karena belum ada gelar. Aresh menyanggupi. Mereka sepakat bahwa privasi bukan berarti menyangkal hubungan, melainkan menjaga agar keduanya dapat memilih kapan membagikannya.
Mereka kemudian berjalan ke perpustakaan. Lyla menunjukkan daftar istilah yang ia rapikan dan meminta Aresh tidak menyebutnya sebagai pekerjaan kerajaan. Aresh mengatakan ia hanya akan menyebutnya sebagai sesuatu yang Lyla pilih untuk dicoba.
Lyla merasa lega. Ia ingin memiliki kegiatan yang tak berubah menjadi kewajiban hanya karena ia dekat dengan raja. Aresh memahami hal itu dan tak menawarkan jabatan baru.
Sore itu mereka membaca bersama. Lyla beberapa kali bertanya tentang sejarah, sementara Aresh berusaha menjawab tanpa berubah menjadi kuliah panjang. Ketika Lyla meminta jeda, mereka berhenti dan memandang taman.
“Ini hari yang baik,” kata Lyla.
“Karena kau bekerja?”
“Bukan. Karena aku bisa memilih kapan bekerja dan kapan berhenti.”
Sebelum menutup hari, Lyla meninjau ulang caranya bekerja bersama Tala dan para pelayan. Ia menyadari bahwa perubahan bukan hanya soal tidak menyentuh telinga atau ekor; ia juga belajar meminta persetujuan sebelum memakai waktu orang lain, menerima jawaban tidak, dan berhenti saat seseorang sedang sibuk.
“Aku tetap ingin menjadi orang yang ramah,” katanya kepada Tala. “Aku cuma tidak mau keramahan berarti semua orang harus menerima caraku.”
Tala berkata bahwa Lyla dapat tetap spontan selama ia bersedia memperhatikan dampaknya dan memperbaiki kesalahan. Lyla mengangguk. Ia tak perlu mematikan sifatnya, hanya belajar memberi orang lain pilihan.
Lyla lalu menyimpan catatan katalog dan mengembalikan kunci ruang baca kepada Liram. Ia meminta kunci itu lagi hanya jika ingin menggunakan ruangan, bukan menyimpannya sebagai tanda bahwa tempat tersebut miliknya. Liram mengatakan ia bisa meminjam kapan saja.
Kebebasan kecil itu cukup. Lyla merasa ia sedang belajar hidup bersama orang lain, bukan sekadar tinggal di istana.
Saat hendak keluar, Lyla menemukan bahwa satu buku yang ia catat ternyata sudah berada di rak yang benar. Ia menghapus tanda perbaikan dan meminta maaf kepada Liram karena hampir memindahkannya. Liram mengatakan itu bukan masalah, tetapi Lyla tetap merasa lebih baik mengakui kekeliruannya daripada menyembunyikannya.
“Kalau aku belum yakin, aku akan bertanya dulu,” katanya.
“Dan kalau saya tak tahu jawabannya, kita akan mencarinya,” jawab Liram.
Mereka menyusun cara sederhana untuk menandai katalog: hanya buku yang telah diperiksa yang akan diberi tanda, dan perubahan baru diterapkan setelah ditinjau. Lyla menyukai aturan itu karena mencegah kesalahan kecil menyebar ke seluruh rak.
Ia juga meminta Tala mengingatkannya untuk tidak mengerjakan semuanya sekaligus. Tala menjawab ia akan mengingatkan, tetapi Lyla tetap bertanggung jawab memilih kapan berhenti. Lyla menerima itu. Ia ingin bantuan, bukan seseorang yang mengambil alih kendalinya.
Setelah menyelesaikan satu bagian, Lyla menutup buku kerja dan pergi makan siang. Ia tak menunggu pujian atau laporan hasil. Ia menikmati kegiatan itu karena memang menyukainya, dan itu sudah cukup.