Liram menerima surat baru dari Putri Elf tiga hari setelah pesan terakhirnya. Ia datang ke perpustakaan membawa map resmi dan meminta waktu Aresh untuk membukanya. Lyla sedang meninjau katalog, tetapi ketika mendengar asal surat, ia menutup buku dan bertanya apakah kehadirannya diperlukan.
“Tidak diperlukan,” kata Liram. “Namun surat itu juga menyertakan pesan bahwa Anda dipersilakan mendengarkan jika ingin.”
Lyla memikirkan tawaran tersebut. “Aku ingin hadir, tapi sebagai diriku sendiri. Aku tidak akan menjadi pengatur atau penerjemah maksud siapa pun.”
Aresh menyetujui. “Kau boleh duduk dan mendengarkan. Jika ingin pergi, kau boleh pergi.”
Mereka berkumpul di ruang kerja Aresh. Liram membuka surat resmi terlebih dahulu. Putri Elf meninjau rancangan kerja sama yang dikirim Avantera. Ia menyetujui prinsip pertukaran informasi tentang jalur perjalanan dan perdagangan, tetapi meminta setiap pihak menanggung penjagaan wilayahnya sendiri dan melaporkan perubahan kepada pihak lain sebelum membuat keputusan yang berdampak lintas batas.
“Usulan ini tidak mengharuskan perkawinan atau kunjungan baru,” kata Liram.
“Betul,” jawab Aresh. “Kita akan menilai poin-poinnya sebagai urusan pemerintahan.”
Lyla membaca ringkasan itu. Ia tak tahu seluruh seluk-beluk diplomasi, tetapi melihat bahwa Putri Elf memberi syarat jelas dan tidak menerima begitu saja semua yang diajukan Aresh.
“Apakah Avantera bisa menerima pembagian tanggung jawab itu?” tanyanya.
Aresh memeriksa dokumen. “Bisa dibahas. Aku ingin memastikan tidak ada pihak yang kehilangan kendali atas wilayahnya.”
Liram mencatat bahwa mereka belum menyetujui seluruh rincian. Ia menyiapkan daftar pertanyaan untuk balasan. Lyla tidak ikut menjawab, hanya mendengarkan sambil menandai kata-kata yang terasa ambigu.
Setelah urusan resmi selesai, Liram mengeluarkan surat pribadi. Putri Elf menyampaikan bahwa ia ingin mengakhiri pembicaraan romantis secara jelas agar tidak ada pihak yang merasa menunggu. Ia tak meminta Aresh mempertimbangkan lamaran, dan tak akan kembali ke Avantera untuk membahas perkawinan. Namun ia tetap ingin aliansi dilanjutkan melalui surat.
Aresh membaca bagian itu sendiri. “Aku menghormati keputusan tersebut.”
Lyla merasakan sesuatu yang sulit dinamai. Ia lega karena sang Putri menyampaikan batasnya, tetapi sedih bahwa perkenalan mereka mungkin berhenti di sana. Ia tidak ingin memaksa persahabatan tumbuh, hanya karena ingin menyukai orang yang pernah dianggap saingan.
“Apakah dia menulis sesuatu untukku?” tanya Lyla.
Liram membuka lipatan terakhir. Putri Elf mengucapkan terima kasih atas kejujuran Lyla, lalu mengatakan bahwa Lyla tak perlu membalas jika tak ingin. Ia berharap Lyla memperoleh jawaban tentang masa depannya dan memilih tanpa tekanan.
Lyla mengangguk. “Aku ingin membalas. Tapi bukan karena merasa wajib.”
Aresh menanyakan apakah ia ingin waktu pribadi untuk menulis. Lyla menjawab iya. Ia mengambil kertas dan menyusun kalimat dengan hati-hati. Ia berterima kasih atas pesan itu dan menyatakan menghormati keputusan sang Putri untuk menutup kemungkinan romantis serta tetap melanjutkan aliansi. Ia tak menyampaikan bahwa dirinya telah menang atau Aresh telah menjadi miliknya.
Sebelum menyerahkan surat, Lyla membacanya sekali lagi. “Aku ingin dia tahu aku menghargainya, tapi aku tak mau memberinya tanggung jawab atas perasaanku.”
“Suratmu sudah mengatakan itu,” ujar Tala yang menunggu di pintu.
Lyla menyegel suratnya sendiri, lalu meminta Liram mengirimkannya sebagai pesan pribadi. Ia tidak ikut mengubah agenda aliansi. Ia hanya memilih untuk hadir dan mendengar hasilnya karena itu bermakna baginya.
Lyla meminta Liram membaca ulang isi resmi dan pribadi secara terpisah. Ia ingin memastikan tak ada satu kalimat pun yang membuat sang Putri terlihat meminta bantuan Lyla atau menyerahkan keputusan kepadanya. Liram memastikan isi surat resmi hanya membicarakan kerja sama, sedangkan pesan pribadinya hanya berisi ucapan terima kasih dan salam.
“Aku bisa membalas bagian pribadi, tapi tidak akan mengubah bagian resmi,” kata Lyla.
“Benar,” jawab Aresh. “Keduanya punya tujuan berbeda.”
Mereka merinci usulan sang Putri. Informasi perjalanan hanya akan dibagikan jika berkaitan dengan jalur perdagangan. Catatan warga tak akan ikut dikirim. Jika satu pihak mengubah rute, pihak lainnya akan diberi tahu, tetapi tak akan memiliki hak untuk mengatur wilayah tetangganya.
Lyla tidak berusaha menilai apakah semua ketentuan itu tepat. Ia bertanya siapa yang akan meninjau perubahan dan bagaimana mencegah salah tafsir. Liram mengatakan kedua pihak akan menyimpan salinan yang sama dan mengirim pertanyaan jika ada bagian yang kabur.
“Jadi tidak ada kesepakatan lisan yang dianggap final?”
“Tidak,” jawab Liram. “Setiap hal penting akan dicatat dan disetujui terpisah.”
Lyla merasa jelasnya prosedur mencegah tekanan. Ia ingat bagaimana audisi calon istri pernah ia atur dengan kriteria sembarangan. Kini ia tahu betapa mudahnya orang lain menganggap rancangan sebagai keputusan.
Setelah bagian resmi dibahas, Lyla menulis balasan pribadi untuk Putri Elf. Ia mengucapkan terima kasih karena sang Putri memisahkan hubungan pribadi dari urusan aliansi. Ia juga berkata percakapan mereka membantu Lyla melihat bahwa mencintai seseorang tak berarti menentukan jalan untuknya.
Lyla membaca surat itu kepada Tala, lalu meminta pendapat apakah kalimat tersebut terdengar seperti meminta sang Putri terus membalas. Tala mengatakan tidak, tetapi Lyla memutuskan menambahkan bahwa tak ada kewajiban menjawab. Ia ingin salamnya menjadi penutup, bukan tali yang mengikat.
Sebelum pulang ke kamarnya, Lyla bertanya apakah kehadirannya di ruang kerja akan dicatat sebagai bagian dari delegasi. Liram menjawab tidak; ia hanya hadir sebagai tamu yang menerima izin untuk mendengarkan. Lyla meminta agar namanya tidak ditulis dalam daftar pihak yang menyetujui rancangan.
“Pendapatku tentang kejelasan kata-kata bukan persetujuan kerajaan,” katanya.
“Benar,” jawab Aresh. “Keputusan diplomatik tanggung jawabku dan Liram.”
Lyla merasa penting untuk menyebutkannya. Ia tak ingin kedekatannya dengan Aresh membuat orang menganggap ia memiliki kuasa resmi. Setelah memastikan hal itu, ia kembali ke ruang baca dan menyelesaikan beberapa halaman buku yang tadi ditinggalkan.
Ia menulis di catatan pribadi bahwa sang Putri telah menetapkan batas hubungan romantis dan memilih melanjutkan aliansi lewat surat. Ia tak menulis tafsir tentang apakah Putri Elf masih menyayangi Aresh. Itu bukan informasi yang ia miliki.