Lyla melewati lapangan latihan dua hari kemudian. Ia melihat Naran berdiskusi dengan para prajurit dan tidak langsung menyapanya. Ia menunggu sampai ia selesai, lalu melambaikan tangan dari jarak yang wajar.
Naran membalas lambaian itu. Setelah memberi komando terakhir, ia berjalan menghampiri Lyla. “Selamat pagi.”
“Pagi. Apa aku mengganggu?”
“Tidak. Latihan sudah selesai.”
Lyla menanyakan apakah ia boleh duduk di bangku dekat lapangan. Naran mengatakan boleh. Mereka berbincang tentang hal biasa: keadaan cuaca, kegiatan Lyla di perpustakaan, dan jadwal latihan. Tidak ada yang memaksa percakapan kembali ke amber.
“Aku mulai merapikan buku,” kata Lyla. “Sepertinya aku menyukai pekerjaannya.”
“Bagus. Anda selalu tampak senang saat menemukan sesuatu untuk dibaca.”
“Aku belum memutuskan apakah akan melanjutkan.”
“Anda tidak harus memutuskan sekarang.”
Lyla tersenyum. “Kau mulai terdengar seperti Tala.”
“Apakah itu pujian?”
“Belum kupastikan.”
Mereka tertawa ringan. Setelah beberapa menit, Naran berkata ia ingin menjelaskan satu hal tentang perasaannya. Lyla bertanya apakah ia nyaman membicarakannya, dan Naran mengangguk.
“Saya masih memiliki rasa sayang,” katanya. “Tapi saya tidak akan menjadikan itu tugas Anda. Saya tidak sedang menunggu Anda memilih saya. Saya hanya perlu waktu menata perasaan saya sendiri.”
“Terima kasih karena menyampaikannya. Aku tetap tidak bisa membalas sebagai kekasih, tapi aku ingin memperlakukanmu dengan hormat.”
“Saya tahu.”
Lyla memastikan bahwa jika ia menyapanya atau berbicara, Naran tidak merasa itu janji tersembunyi. Naran menjawab bahwa ia dapat membedakan keramahan dari komitmen, selama Lyla tetap jujur dan tidak sengaja memberi harapan.
“Aku akan berusaha. Kalau aku membuatmu bingung, kamu boleh bertanya.”
Naran tersenyum kecil. “Saya juga akan melakukan hal yang sama.”
Mereka tak membahas hadiah lagi. Amber bukan urusan Lyla untuk diselesaikan. Ia tidak perlu tahu apakah Naran akan menyimpan, menjual, atau memberikan batu itu kepada orang lain. Keputusan itu milik Naran.
Seorang prajurit memanggil Naran. Ia berdiri dan meminta izin mengakhiri percakapan. Lyla mengangguk. Sebelum pergi, ia bertanya apakah mereka bisa tetap menyapa satu sama lain seperti biasa. Naran mengatakan ya, tetapi ia mungkin memerlukan jarak pada hari-hari tertentu.
“Aku akan menghormatinya.”
Naran kembali ke lapangan. Lyla tidak menganggap perpisahan itu sebagai penolakan atau kemenangan. Ia duduk beberapa saat, kemudian berdiri untuk kembali ke perpustakaan.
Di koridor ia bertemu Tala dan menceritakan bahwa Naran masih memiliki perasaan, tetapi tidak menuntut balasan. Tala bertanya bagaimana Lyla merasakannya.
“Sedih sedikit. Aku tak mau dia terluka. Tapi aku tahu aku tak bisa mencegahnya merasa sedih dengan berpura-pura.”
“Itu pemahaman yang matang.”
“Jangan bilang aku matang. Aku masih bisa tersandung karpet.”
Lyla berjalan dengan lebih hati-hati setelah berkata demikian. Ia mulai membiasakan diri bertanya sebelum menyentuh, dan lebih memilih menyapa dengan kata-kata daripada gerakan spontan. Kebiasaan itu terasa canggung pada awalnya, tetapi semakin alami.
Lyla menyiapkan cara sederhana untuk bertanya sebelum membantu orang lain. Ia tidak ingin mengubahnya menjadi aturan kaku yang membuat semua percakapan terasa seperti formulir. Ia hanya ingin berhenti menganggap tubuh atau waktu orang lain bisa ia ambil sesuka hati.
Di perpustakaan, ia bertanya kepada seorang pelayan Suin apakah ia boleh memindahkan kotak yang menghalangi lorong. Pelayan itu menjawab ya dan menunjukkan sisi yang aman untuk diangkat. Lyla mengikuti arahan, lalu meletakkan kotak di tempat yang ditunjuk.
“Terima kasih sudah bertanya,” kata pelayan itu.
“Aku masih belajar. Kalau aku melakukan sesuatu yang mengganggu, bilang saja.”
Lyla tidak meminta pelayan tersebut meyakinkannya bahwa ia sudah dimaafkan atas semua kesalahan masa lalu. Ia hanya menerima informasi yang diberikan dan melanjutkan pekerjaan.
Tala melihatnya dari dekat rak. “Anda tidak perlu menyiksa diri setiap kali mengingat kesalahan.”
“Aku tahu. Aku hanya tidak mau mengulanginya.”
“Belajar bukan berarti mengawasi diri sampai takut bergerak.”
Lyla menyadari Tala benar. Ia tak ingin berubah dari impulsif menjadi kaku dan ketakutan. Ia bisa tetap ramah, hanya perlu memperhatikan jawaban orang lain.
Seorang pelayan kelinci tertawa karena Lyla membaca judul buku dengan salah. Lyla ingin menepuk bahunya, tetapi mengurungkan diri dan tertawa bersama tanpa menyentuh. Mereka berbincang tentang judul yang rumit, lalu kembali bekerja.
Lyla merasa interaksi itu tetap hangat. Meminta izin tidak mengambil keakraban; justru membuat orang lain bebas memilih.
Lyla menjelaskan kepada Tala bahwa dirinya tak ingin menjadikan permintaan izin sebagai formalitas yang diucapkan sambil tetap melakukan apa yang ia mau. Ia ingin menunggu jawaban dan menghormatinya. Tala mengingatkan bahwa hal itu juga berarti tidak bertanya berulang kali jika orang sudah berkata tidak.
“Kalau orang bilang tidak, aku tidak boleh mencoba mengubahnya jadi mungkin,” ujar Lyla.
“Benar.”
Di perpustakaan, Lyla bertemu seorang pelayan Suin yang sedang membawa kotak. Ia bertanya apakah boleh membantu. Pelayan itu menjawab tidak perlu karena sudah ada orang lain yang akan menolong. Lyla mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya sendiri. Ia tak merasa ditolak sebagai pribadi.
Kemudian seorang pelayan lain meminta bantuan memindahkan beberapa buku. Lyla bertanya buku mana yang boleh diangkat dan ke mana harus diletakkan. Ia mengikuti arahan, tidak meraih barang dari tangan orang itu tanpa pemberitahuan. Ketika pekerjaan selesai, ia mengucapkan terima kasih kepada semua yang membantu.
Tala memperhatikan bahwa Lyla tidak membuat lelucon tentang telinga atau ekor mereka. Lyla berkata ia tetap menganggap Suin menarik, tetapi kini ia berusaha memandang mereka sebagai orang, bukan hiasan lucu.
“Kalau aku ingin tahu tentang adat atau tubuh seseorang, aku bisa bertanya dengan sopan. Kalau mereka tidak ingin menjelaskan, aku harus berhenti.”
“Ya.”
Lyla menulis satu catatan kecil di samping daftar katalog: “Ruang pribadi bukan undangan.” Ia menyimpannya untuk dirinya sendiri. Ia tidak mengumumkan bahwa dirinya telah berubah; ia hanya mencoba bertindak lebih baik setiap hari.
Sebelum pulang, ia mengembalikan alat tulis ke meja dan bertanya kepada Liram apakah ia boleh menyimpan catatan istilahnya. Liram mengizinkan. Lyla mengucapkan terima kasih dan keluar tanpa menganggap pekerjaannya harus diteruskan esok hari.