Keesokan pagi, Lyla meminta waktu berbicara dengan Naran. Ia bertanya kepada seorang prajurit apakah Panglima sedang bebas, lalu menunggu di luar area latihan sampai mendapat izin masuk. Ia tidak mendekat ketika Naran sedang memberi komando.
Naran menyelesaikan latihan dan menghampirinya setelah para prajurit beristirahat. “Anda ingin membicarakan sesuatu?”
“Kalau kau punya waktu. Soal liontin amber, dan juga soal batas yang dulu kulanggar.”
Naran memilih bangku di tepi lapangan. Lyla menunggu sampai ia duduk lebih dahulu, lalu mengambil tempat beberapa langkah darinya.
“Saya sudah memikirkan hadiah itu,” kata Naran. “Saya tidak akan memberikannya kepada Anda.”
Lyla menelan ludah. “Apakah karena aku mengatakan aku tidak mencintaimu?”
“Sebagian. Saya sadar selama ini saya menyimpan harapan yang tidak Anda balas. Memberikan amber akan membuat saya terus berharap, dan mungkin membuat Anda merasa berutang.”
“Aku tak mau kau menahan hidupmu karena aku.”
“Saya tidak. Saya memilih menyimpan batu itu sebagai milik saya, bukan sebagai pesan untuk Anda. Saya akan memutuskan nanti apakah akan menggunakannya untuk hal lain.”
Lyla merasa lega sekaligus sedih. “Terima kasih sudah mengatakan langsung. Aku tidak menginginkan liontin itu sebagai hadiah romantis, tapi aku juga tidak ingin kau merasa harus membuangnya karena aku.”
Naran mengangguk. Ia berkata bahwa amber itu punya makna pribadi baginya, tetapi ia tak ingin mempertahankan makna lama hanya karena takut menerima penolakan. Ia perlu mengubah hubungannya dengan benda itu menurut pilihannya sendiri.
Lyla tidak meminta melihatnya. “Kau tidak perlu menunjukkannya atau menjelaskan lebih jauh kalau tidak nyaman.”
“Saya menghargai itu.”
Ia lalu mengangkat kembali pembicaraan tentang telinganya. Naran mengakui ia masih ingat betapa Lyla mengabaikan permintaannya untuk melepaskan. Ia menerima permintaan maaf Lyla, tetapi sesekali masih merasa waspada jika ia mendekat terlalu cepat.
“Aku akan menjaga jarak. Kalau aku lupa atau terlalu dekat, katakan saja. Aku tak akan membantah.”
“Baik. Saya juga akan mencoba menyampaikan batas dengan jelas.”
Lyla bertanya apakah Naran ingin hubungan mereka hanya sebatas kenalan untuk sementara. Naran menjawab ia masih menyayangi Lyla, tetapi tak meminta balasan atau peluang di masa depan. Ia memilih menjaga hubungan kerja mereka dengan baik dan memberi ruang bagi perasaannya untuk berubah.
“Aku senang kau jujur,” kata Lyla. “Aku juga ingin kita bisa berbicara tanpa berpura-pura.”
Mereka berdiri setelah percakapan selesai. Lyla memastikan tidak menawarkan sentuhan sebagai tanda damai. Ia hanya mengangguk dan berkata, “Terima kasih sudah meluangkan waktu.”
Naran membalas anggukannya. “Sama-sama. Dan terima kasih karena tidak meminta saya segera merasa baik.”
Ketika Lyla kembali ke koridor, Tala menunggu tanpa menanyakan isi pembicaraan sampai Lyla sendiri bercerita. Lyla menjelaskan bahwa Naran memilih menyimpan amber dan tidak lagi menganggapnya hadiah untuknya.
“Apakah Anda kecewa?”
“Tidak. Itu pilihannya. Aku cuma berharap dia baik-baik saja.”
Tala berkata bahwa ia bisa mendoakan kebaikan Naran tanpa menjadi penanggung jawab perasaannya. Lyla menyetujui. Ia belajar bahwa menghormati pilihan seseorang juga berarti membiarkannya menyelesaikan perasaannya dengan cara sendiri.
Lyla lalu bertanya kepada Naran apakah ia merasa nyaman jika mereka berpapasan dan berbicara biasa. Naran mengatakan ya, selama ia dapat menyampaikan bila membutuhkan ruang. Lyla setuju bahwa ia tak akan mengejar atau menuntut percakapan ketika Naran sedang bekerja.
“Aku ingin memastikan kamu tidak mengira keramahan berarti aku berubah pikiran tentang hubungan romantis,” katanya.
“Saya tidak mengira begitu. Anda sudah menjelaskannya dengan terang.”
“Kalau suatu saat aku tidak sengaja memberi kesan berbeda, tanyakan langsung.”
“Saya akan melakukannya.”
Naran lalu menjelaskan bahwa ia memilih menyimpan amber itu di ruang pribadinya, bukan untuk menunggu Lyla, melainkan karena ia belum ingin mengubah maknanya. Ia tidak tahu apakah kelak benda itu tetap menjadi kenangan atau hanya batu biasa. Ia tak perlu membuat keputusan hari ini.
Lyla bertanya apakah ia ingin menunjukkan liontin itu kepadanya. Naran menjawab tidak, dan Lyla menerima jawabannya tanpa kecewa. Ia merasa lega dapat menghormati batas tanpa menjadikan rasa ingin tahu sebagai alasan untuk mendesak.
“Terima kasih,” kata Naran. “Saya tidak ingin pembicaraan ini membuat Anda merasa harus menghibur saya.”
“Aku juga tidak ingin itu. Aku bisa meminta maaf dan tetap menerima bahwa perasaanmu milikmu.”
Mereka berbincang sebentar tentang jadwal latihan, lalu berpisah. Lyla tidak menyentuh lengan Naran atau telinganya. Ia menyadari bahwa ia bisa menunjukkan kehangatan melalui kata-kata, senyum, dan menghormati jarak.
Ketika Tala bertanya bagaimana perasaannya, Lyla menjawab ia sedikit sedih, tetapi tidak terbebani. Naran telah membuat keputusan untuk dirinya sendiri dan Lyla tidak harus memperbaiki semuanya.
Saat Lyla melihat Naran lagi, ia tidak lagi merasa harus menyelesaikan segala sesuatu dalam satu percakapan. Ia bertanya apakah Naran sedang sibuk. Naran menjawab ia punya waktu sebentar setelah menyelesaikan laporan. Lyla menunggu di tempat yang ia tunjuk, bukan mengikuti ke ruangannya.
Mereka berbicara tentang kegiatan Lyla di perpustakaan. Naran berkata ia senang Lyla menemukan sesuatu yang disukai. Lyla mengucapkan terima kasih, lalu bertanya bagaimana kabar amber yang ia simpan.
“Saya tidak ingin membicarakannya panjang,” jawab Naran. “Saya sudah memutuskan untuk menyimpannya sebagai milik saya. Itu bukan pesan untuk Anda.”
“Baik. Aku tak akan bertanya lagi kecuali kamu ingin menceritakannya.”
Naran berkata ia menghargai sikap itu. Ia juga menyampaikan bahwa perasaannya belum hilang seluruhnya, namun ia tidak meminta Lyla menunggu atau membalas. Ia ingin menjalani tugasnya tanpa mengubah rasa sayang menjadi tuntutan.
Lyla menjawab bahwa ia tak dapat mencintainya secara romantis, tetapi tetap menghormatinya. Ia tidak akan membalas dengan keramahan berlebihan karena takut melukai, dan tidak akan mendadak menghindar hanya untuk membuat batas terlihat jelas.
“Kalau suatu saat saya membutuhkan jarak, saya akan mengatakannya,” kata Naran.
“Aku akan menerimanya.”
Mereka kemudian membicarakan latihan dan jadwal patroli. Percakapan kembali terasa biasa. Lyla tidak menyentuh bahunya atau telinganya. Saat Naran pamit, ia mengucapkan terima kasih dan membiarkannya pergi.