Lyla datang ke ruang kerja Liram dengan selembar kertas kosong. Ia tidak membawa lamaran kerja atau daftar tugas; ia hanya ingin bertanya apa saja yang bisa dilakukan di istana tanpa menjadi permaisuri.
Liram membaca wajahnya sebelum membaca kertas. “Apakah Anda ingin memiliki kegiatan tetap?”
“Aku ingin mencoba beberapa hal. Tapi aku tidak mau diberi jabatan hanya supaya semua orang bisa berkata aku berguna.”
“Dipahami. Saya dapat menunjukkan pekerjaan yang bersifat sukarela dan tidak mengikat.”
Tala ikut menemani. Mereka memeriksa perpustakaan, ruang arsip, dan taman. Lyla tertarik pada perpustakaan karena ia suka membaca dan bertanya tentang sejarah. Namun ia tak ingin mengubah minat itu menjadi pekerjaan penuh waktu sebelum tahu apakah ia menyukainya.
“Boleh aku mencoba membantu merapikan beberapa buku selama beberapa jam?” tanyanya kepada Liram.
“Bisa. Tidak ada tenggat dan Anda dapat berhenti kapan saja.”
“Aku juga tidak ingin pekerjaan itu dianggap bagian dari persiapan menjadi ratu.”
“Tidak akan saya catat demikian.”
Lyla mengangguk. Ia merasa lega karena bisa memilih kegiatan tanpa harus mendefinisikan masa depannya. Tala bertanya apakah ia ingin mencoba hari itu juga. Lyla menjawab ya, tetapi hanya sampai makan siang.
Di perpustakaan, Liram menunjukkan rak yang memerlukan penataan. Lyla belajar bahwa katalog istana memakai nomor dan tanda wilayah. Ia mengira buku sejarah berada dalam satu bagian, ternyata beberapa disusun berdasarkan periode dan beberapa lagi berdasarkan asal naskah. Ia mengembalikan satu buku ke rak yang salah sebelum menyadarinya.
“Kalau aku jadi pustakawan, perpustakaan ini akan berubah jadi labirin,” katanya.
“Perpustakaan memang sudah terasa seperti labirin bagi Anda,” ujar Tala.
“Aku sedang membangun konsistensi.”
Mereka bekerja tanpa terburu-buru. Lyla meminta petunjuk sebelum memindahkan buku-buku yang berat. Ia bertanya kepada pelayan yang sedang bertugas apakah ia boleh melewati area kerja. Ketika pelayan itu mengangguk, ia berjalan tanpa menyentuh telinga atau ekornya yang bergerak saat mengangkat kotak.
Menjelang tengah hari, Lyla menyadari ia menikmati kegiatan itu. Bukan karena ada orang yang memujinya atau karena Aresh akan senang, melainkan karena ia menyukai menemukan keteraturan dalam tumpukan buku.
“Apakah Anda ingin melanjutkan besok?” tanya Tala.
“Mungkin. Tapi aku ingin mencoba beberapa kegiatan dulu sebelum memutuskan.”
Liram datang memeriksa hasilnya. Ia tidak memberi penilaian seperti atasan, hanya memastikan buku-buku penting kembali di tempat semestinya. “Anda dapat kembali kapan pun. Jika tidak ingin, rak tetap ada besok.”
“Bagus. Aku suka pekerjaan yang tidak kabur kalau aku istirahat.”
Sore harinya, Lyla berbicara dengan Aresh di balkon. Ia menceritakan percobaan menata perpustakaan. Aresh bertanya apakah ia menyukainya, bukan apakah ia akan menjadikannya tugas tetap.
“Aku suka. Tapi aku belum mau menyebutnya peran.”
“Kalau begitu, tak perlu.”
Lyla merasa aman dengan jawaban itu. Ia belum memilih tinggal, namun ia bisa mencoba mengenal kehidupan Avantera tanpa menyamakan kegiatan dengan janji. Ia meminta Aresh tidak mengumumkan apa pun kepada istana.
“Tidak akan,” jawabnya.
Malam itu, Lyla menulis bahwa ia menyukai membaca dan menyusun buku, tetapi belum menentukan apakah itu akan menjadi bagian tetap dalam hidupnya. Ia tidak menuliskan “calon pustakawan” atau “tugas permaisuri”. Untuk sekarang, ia hanya Lyla yang mencoba sesuatu karena ingin.
Lyla meminta Tala mengamati saat ia bekerja, tetapi bukan untuk menilai apakah ia cocok menjadi pustakawan. Ia ingin pendapat tentang cara menyusun buku agar pembaca lain lebih mudah menemukan judul. Tala menyarankan agar Lyla menandai kategori yang sering membingungkan dan menuliskan usulnya untuk Liram.
“Aku suka membuat catatan,” kata Lyla. “Asal tidak berubah jadi daftar kewajiban.”
“Buatlah catatan untuk membantu, bukan untuk mengikat diri Anda.”
Lyla mulai mencatat beberapa bagian katalog yang sulit dipahami. Ia tidak mengubah susunan buku tanpa izin, dan bertanya kepada Liram sebelum menandai buku yang perlu diperbaiki. Liram menerima usulnya, tetapi mengatakan ia akan meninjau sebelum menerapkannya.
“Bagus. Aku tidak ingin semua ideku langsung jadi aturan.”
“Banyak perubahan perlu diperiksa dahulu,” jawab Liram.
Lyla menyukai proses itu. Ia dapat menyumbang pendapat tanpa menganggap dirinya ahli. Ia juga bebas berhenti ketika waktunya habis.
Saat beristirahat, Tala bertanya apakah kegiatan itu membuat Lyla merasa berharga. Lyla menjawab bahwa ia memang merasa senang, tetapi tak ingin nilai dirinya bergantung pada produktivitas.
“Aku masih ingin merasa punya tempat, tapi bukan karena aku bekerja tanpa henti.”
“Anda sudah memiliki tempat sebagai diri Anda.”
Lyla belum sepenuhnya percaya, tetapi ia menyimpan kalimat itu. Hari itu ia mengakhiri pekerjaan sesuai batas waktu, meski satu rak masih belum selesai. Ia tak merasa perlu meminta maaf karena berhenti.
Lyla bertanya kepada Liram apakah perpustakaan membutuhkan seseorang untuk meninjau katalog lama. Liram menjawab ada beberapa label yang sulit dipahami pembaca, tetapi belum ada tugas resmi. Lyla mengusulkan mencoba memperbaiki daftar istilah selama satu jam, kemudian berhenti dan menilai apakah ia ingin melanjutkan.
“Jangan tulis namaku sebagai penanggung jawab,” katanya. “Aku baru mencoba.”
“Saya akan mencatatnya sebagai usulan sukarela.”
Lyla bekerja dengan Tala di meja dekat jendela. Ia mengelompokkan kata-kata yang sering muncul dan menandai bagian yang memerlukan penjelasan. Ia tak mengubah katalog utama tanpa persetujuan Liram. Saat menemukan istilah yang tidak dimengerti, ia bertanya, bukan menebak.
Pekerjaan itu berjalan lambat, tetapi menyenangkan. Lyla merasa puas ketika satu bagian mulai lebih mudah dibaca. Ia juga belajar menerima bahwa ada istilah yang tetap sulit dan tidak semuanya harus ia pecahkan hari itu.
Ketika waktu satu jam habis, Liram bertanya apakah ia ingin melanjutkan. Lyla menjawab cukup untuk hari ini. Ia tak meminta maaf karena berhenti dan tak menambahkan tugas lain supaya terlihat rajin.
Di luar perpustakaan, Tala bertanya apakah Lyla merasa tugas itu memberinya alasan untuk tinggal. Lyla berkata tidak. “Aku hanya suka melakukannya. Kalau aku pulang, aku tetap pernah menikmatinya.”
Tala mengangguk. Lyla merasa lega bisa membedakan minat dari kewajiban.