Pagi kedua di Istana Avantera disambut Lyla dengan antusiasme yang agak berlebihan. Setelah insiden "cengkeraman telinga harimau" kemarin, Lyla merasa istana ini adalah tempat bermain paling seru yang pernah ia kunjungi—jauh lebih menarik daripada taman safari mana pun di Bumi. Baginya, setiap sudut koridor adalah petualangan baru, dan setiap pelayan adalah koleksi makhluk fantasi yang ingin ia ajak berteman.
Tala, pelayan kucing hitam yang setia, kembali bertugas menemani Lyla. Hari ini, misinya adalah memperkenalkan Lyla pada struktur organisasi istana secara lebih mendalam.
"Nyonya, hari ini kita akan berkeliling ke sayap timur dan dapur utama. Saya akan memperkenalkan Anda pada para kepala pelayan agar ke depannya Anda lebih mudah jika membutuhkan sesuatu," jelas Tala sambil merapikan gaun Lyla yang selalu tampak agak berantakan karena cara jalan Lyla yang tidak bisa santai.
"Ide bagus, Tala! Ayo berangkat!" seru Lyla semangat.
Namun, ada sesuatu yang aneh saat mereka mulai berjalan menyusuri koridor utama. Biasanya, lorong itu dipenuhi dengan pelayan yang berlalu-lalang dengan telinga dan ekor yang bergerak lincah. Tapi hari ini, pemandangannya berbeda.
Lyla melihat koki suin babi hutan yang biasanya membiarkan ekor pendeknya terlihat, kini mengenakan celemek panjang yang menutupi bagian belakangnya rapat-rapat. Pelayan suin kelinci yang kemarin telinganya sempat dipegang Lyla, kini mengenakan topi kerudung besar yang menyembunyikan telinga panjangnya. Bahkan pelayan suin rubah tampak mengenakan jubah yang sangat tebal meski cuaca sedang hangat.
Setiap kali Lyla mendekat, mereka akan menunduk dalam-dalam dan bergegas pergi seolah-olah Lyla adalah pemungut pajak yang sedang membawa surat sita.
"Tala," Lyla berhenti dan berkacak pinggang. "Kenapa hari ini sepi sekali? Maksudku, ke mana perginya semua telinga dan ekor itu? Kenapa mereka semua memakai topi dan baju tertutup?"
Tala menghela napas panjang, telinganya sendiri sedikit berkedut cemas. "Nyonya Lyla... sejak kejadian kemarin, berita tentang 'Nyonya Manusia Penarik Telinga' sudah menyebar ke seluruh istana. Para pelayan suin sekarang merasa... waspada."
"Waspada? Aku kan cuma bilang mereka lucu!" protes Lyla.
"Nyonya," Tala merendahkan suaranya, "bagi ras Suin, telinga dan ekor adalah bagian tubuh yang sangat sensitif. Menyentuhnya tanpa izin dianggap sebagai tindakan yang sangat pribadi, bahkan intim. Mereka malu jika bagian itu disentuh secara sembarangan, apalagi oleh orang asing. Itu sebabnya mereka memilih untuk menyembunyikannya agar tidak menjadi korban 'serangan' Anda berikutnya."
Lyla melongo. "Intim? Ya ampun, aku tidak tahu! Aku kan cuma gemas. Baiklah, aku akan menahan diri sedikit." Lyla terdiam sejenak, lalu matanya berbinar lagi. "Eh, omong-omong, bagaimana dengan Aresh? Apakah dia juga punya telinga naga yang bisa bergerak-gerak?"
Tala menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Nyonya. Ras Naga murni tidak memiliki telinga atau ekor hewan seperti kami. Mereka memiliki wujud manusia yang hampir sempurna, namun mereka memiliki tanduk naga yang agung di kepala mereka. Tanduk itu adalah simbol kekuasaan, kekuatan sihir, dan martabat tertinggi."
Mendengar kata "tanduk", sebuah senyuman licik perlahan merekah di wajah Lyla. Bayangan tentang tanduk naga yang keras namun mungkin memiliki tekstur unik mulai menari-nari di kepalanya.
Tala, yang sepertinya sudah mulai bisa membaca jalan pikiran majikannya yang sembrono itu, langsung memasang wajah serius. "Nyonya, saya mohon dengan sangat. Jangan pernah berpikir untuk menyentuh tanduk Yang Mulia Raja. Itu adalah pelanggaran berat. Tanduk naga adalah bagian paling suci bagi mereka. Menyentuhnya berarti menantang otoritas raja, atau... atau sesuatu yang jauh lebih memalukan bagi beliau."
Lyla berdecak sambil memutar bola matanya. "Ck, kau ini seperti bisa membaca pikiranku saja, Tala," gumamnya kesal. Padahal aku baru saja mau membayangkan bagaimana rasanya mengetuk tanduk itu seperti mengetuk pintu.
Mereka terus berjalan hingga sampai ke area latihan prajurit lagi. Entah kenapa, kaki Lyla seolah memiliki magnet yang selalu menariknya ke tempat di mana para pria berotot berlatih. Dan tentu saja, di tengah lapangan itu, sosok Panglima Naran sedang berdiri dengan gagah.
"Panglima Naran!" sapa Lyla dengan lambaian tangan yang sangat santai, seolah menyapa teman lama di warung kopi.
Naran yang sedang memberikan komando, seketika berhenti. Ia berbalik dan melihat Lyla. Berbeda dengan kemarin yang tampak sangat waspada, hari ini ekspresi Naran terlihat lebih lunak, meski pipinya masih menunjukkan semburat merah tipis saat melihat gadis itu mendekat.
Naran melangkah menghampiri Lyla dan membungkuk hormat. "Nyonya Lyla. Saya minta maaf atas sikap kasar saya kemarin. Saya tidak tahu jika Anda adalah... tamu istimewa yang dipilih secara pribadi oleh Yang Mulia Raja."
Lyla tertawa renyah sambil menepuk bahu Naran—tindakan yang membuat Tala hampir pingsan di tempat. "Ah, jangan dipikirkan! Lagipula aku yang mulai duluan dengan memegang telingamu. Tidak masalah, Naran!"
Wajah Naran semakin memerah. Tatapannya pada Lyla kini tampak berbeda; ada kekaguman yang tersirat di matanya yang tajam. Sepertinya, sang panglima harimau ini telah jatuh hati pada keberanian dan keceriaan gadis manusia yang aneh ini.
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Nyonya," ucap Naran lembut.
"Eh, tunggu," Lyla mengerutkan kening. "Jangan panggil aku Nyonya. Rasanya seperti aku ini ibu-ibu pejabat. Dan soal 'dipilih raja' itu, aku belum menyetujuinya, tahu! Belum ada pengumuman resmi, dan aku tidak berencana menikah dengan naga es itu. Panggil saja aku Lyla."
"Tapi... itu tidak sopan, Nyo—maksud saya, Nona Lyla," Tala menyela dengan panik. "Status Anda di sini sangat tinggi."
Lyla menggeleng tegas. "Sejak awal aku bukan siapa-siapa di sini. Aku hanyalah Lyla dari... tempat yang jauh. Aku tidak mau dikekang oleh status 'calon permaisuri' yang bahkan tidak kuinginkan. Jadi, panggil aku Lyla, oke Naran?"
Naran tertegun. Ia telah melayani banyak bangsawan wanita di istana ini, dan biasanya mereka sangat gila hormat, sombong, dan menolak bicara padanya meskipun pangkatnya tinggi—hanya karena ia adalah seorang Suin. Namun gadis di depannya ini tidak memandang kasta sedikit pun. Ia melihat Naran bukan sebagai alat perang, melainkan sebagai seorang individu.
"Baiklah... Lyla," ucap Naran dengan nada yang sangat hormat namun terasa lebih akrab. "Terima kasih karena Anda begitu baik. Jika Anda butuh bantuan apa pun, atau jika ada pelayan yang berani tidak sopan pada Anda, tolong datanglah padaku. Aku akan melindungimu."
Lyla tersenyum manis. "Wah, makasih ya, Panglima! Kau benar-benar harimau yang baik hati."
Setelah berbincang sebentar, Lyla pun pamit untuk melanjutkan turnya. Namun, saat ia baru berjalan beberapa langkah, langkahnya terhenti. Ia merasakan sebuah tatapan tajam yang menusuk punggungnya. Lyla menoleh ke arah balkon lantai atas istana yang menghadap ke lapangan.
Di sana, Aresh berdiri diam. Jubah hitamnya berkibar pelan. Ia hanya menatap Lyla dari kejauhan dengan ekspresi yang sulit dibaca. Matanya yang emas tampak meredup. Aresh tidak turun, tidak menyapa, dan tidak memberikan isyarat apa pun. Ia hanya membiarkan Lyla berkeliaran bebas di istananya seolah sedang melakukan eksperimen sosial.
Lyla merasa heran. "Kenapa dia cuma menonton dari sana? Kalau ada masalah, kenapa tidak langsung turun saja? Aneh sekali naga itu."
Mereka kembali berjalan masuk ke dalam istana. Lyla yang penasaran mulai bertanya-tanya tentang latar belakang sang raja. "Tala, di mana keluarga Aresh? Maksudku, apakah dia punya orang tua atau saudara yang tinggal di sini? Kenapa istana ini terasa begitu... sepi dari keluarga kerajaan?"
Tala merendahkan suaranya saat mereka melewati lorong yang agak sunyi. "Yang Mulia Raja Aresh adalah penguasa tunggal di Avantera saat ini, Nyonya. Keluarga beliau, termasuk Ibu Suri dan saudara-saudaranya, tinggal di Kerajaan Selatan. Itu adalah tanah leluhur ras Naga yang lebih hangat. Yang Mulia Aresh memilih memimpin di sini karena Avantera adalah benteng pertahanan utama kerajaan dari ancaman luar. Beliau memikul beban itu sendirian selama bertahun-tahun."
Lyla terdiam. Penjelasan itu memberikan sedikit gambaran tentang mengapa Aresh menjadi begitu dingin dan kaku. Jadi dia sendirian di sini menjaga perbatasan? Pantesan jadi kaku seperti kerupuk masuk angin, pikirnya.
Namun, di lubuk hatinya yang terdalam, Lyla mulai merasa dilema. Orion memberikan misi untuk mencarikan Aresh istri, tapi Aresh sudah memilihnya. Sementara itu, Panglima Naran memberikan perhatian yang tulus padanya. Dan di atas sana, sang Raja Naga terus mengawasinya dengan cara yang misterius.
"Dunia ini benar-benar rumit," gumam Lyla pelan.
To be Continued.....