Beberapa hari berlalu dengan ritme yang lebih tenang. Lyla dan Aresh sesekali membaca bersama, makan, atau berjalan di taman. Mereka tidak mengumumkan hubungan dan tidak menganggap setiap pertemuan sebagai langkah menuju pernikahan. Lyla tetap berbicara dengan Tala dan menjalani kegiatannya sendiri.
Pada sore keempat, Lyla meminta Aresh berbicara di balkon perpustakaan. Ia ingin merangkum apa yang mereka sepakati sebelum ia kembali bertemu Orion.
“Aku ingin tetap mengenalmu,” katanya. “Aku mencintaimu. Tapi aku belum bisa menjanjikan bahwa aku akan tinggal.”
“Aku juga ingin mengenalmu. Aku menerima bahwa kau belum memilih.”
“Aku takut kadang kedekatan membuatku merasa bersalah karena belum membalas dengan keputusan.”
“Kalau itu terjadi, katakan. Aku akan memberi ruang.”
Lyla bertanya apakah Aresh ingin hubungan mereka punya nama. Aresh menjawab bahwa ia tak membutuhkan gelar saat ini. Ia ingin menjadi seseorang yang Lyla kenal dan pilih, bukan seorang raja yang menawarkan perlindungan sebagai imbalan.
“Kalau aku tinggal nanti, aku juga tak mau status ratu menjadi harga masuk,” ujar Lyla.
“Tidak akan.”
Mereka membicarakan kehidupan yang mungkin dijalani Lyla di Avantera. Ia ingin belajar tentang dunia ini, mungkin membantu perpustakaan atau ikut kegiatan yang menarik baginya. Ia tidak ingin diberi kewajiban hanya karena Aresh mencintainya. Aresh mengatakan ia akan mendukung pilihan itu, tetapi keputusan pekerjaan atau tempat tinggal sebaiknya dibahas setelah Lyla mengetahui apa yang akan terjadi dengan tubuhnya di Bumi.
“Setuju. Aku tak ingin menghindari pertanyaan besar dengan membuat rencana kecil.”
Aresh menatapnya dengan kagum. “Kau terdengar lebih yakin.”
“Aku yakin bahwa aku belum yakin.”
“Itu tetap kejujuran.”
Lyla mengulurkan tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuh Aresh. “Boleh aku memegang tanganmu sebentar?”
Aresh mengangguk. Lyla menggenggam jemarinya, ringan. Ia merasakan kehangatan itu dan mengingat bahwa sentuhan bukan janji. Saat ia melepaskan, Aresh tidak menahan.
“Terima kasih,” katanya.
“Kapan pun.”
Mereka lalu menyusun daftar pertanyaan bagi Orion. Lyla ingin tahu apakah masa penahanan tubuh memiliki batas yang lebih jelas, bagaimana misi dianggap selesai setelah Aresh memahami keinginannya, dan apa pilihan yang tersedia jika Lyla ingin tinggal. Aresh tidak memberi jawaban sendiri.
“Aku ingin meminta waktu setelah mendengar penjelasannya,” katanya.
“Kau berhak memintanya.”
“Walaupun Orion bilang waktunya terbatas?”
“Ya. Memahami pilihan adalah bagian dari keputusan.”
Lyla tersenyum kecil. Mereka tidak membuat janji besar tentang masa depan. Mereka hanya sepakat melanjutkan hubungan dengan jujur, meminta izin, dan memberi ruang bagi kemungkinan pulang.
Menjelang malam, Lyla pergi ke kamarnya. Ia merasa bahagia karena dapat menyebut cintanya tanpa harus menyerahkan seluruh hidupnya. Ia juga merasa takut, karena kejujuran tidak menghilangkan risiko. Namun ia memilih membawa kedua perasaan itu ke percakapan berikutnya dengan Orion.
Lyla bertanya apakah Aresh ingin menyimpan catatan tentang pertemuan-pertemuan mereka sebagai kenangan. Aresh menjawab ia tidak membutuhkan bukti tertulis, tetapi jika Lyla ingin menulis untuk dirinya sendiri, ia akan menghormatinya.
“Aku menulis supaya ingat apa yang kurasakan, bukan supaya membuat keputusan tampak lebih mudah,” katanya.
“Kalau begitu, tulislah untuk dirimu.”
Lyla mencatat bahwa ia merasa aman ketika Aresh meminta izin, dan merasa bebas ketika ia diberi pilihan untuk pulang. Ia menambahkan bahwa rasa aman itu penting, tetapi tidak otomatis menjawab pertanyaan apakah ia akan tinggal.
Tala membaca halaman itu setelah Lyla mengizinkan. Ia berkata catatan tersebut terdengar jujur. Lyla menyimpan buku, lalu memilih beristirahat. Ia tidak harus memikirkan masa depan setiap malam.
Sebelum tidur, Lyla menambahkan satu catatan: “Aku ingin dikenal sebagai diriku, bukan sebagai misi atau gelar.” Ia menyadari bahwa keinginan itu berlaku apakah ia kembali ke Bumi atau menetap di Avantera. Ia ingin keputusan akhir tumbuh dari pemahamannya, bukan dari ketakutan bahwa ia hanya pantas berada di satu dunia.
Tala bertanya apakah hari itu membuat Lyla merasa lebih dekat dengan Aresh. Lyla berkata ya, tetapi kedekatan itu tidak berarti ia sudah siap menikah. Tala menerima jawabannya dan mengingatkan bahwa keduanya bisa berjalan pada kecepatan berbeda.
Lyla menutup buku. Besok ia akan menyiapkan pertanyaan untuk Orion dan meminta kejelasan tentang masa penahanan tubuh. Ia tak akan menggunakan hubungan baru mereka untuk menghindari pembicaraan tersebut.
Pada pertemuan mereka berikutnya, Lyla memilih menghabiskan waktu di perpustakaan tanpa membaca. Ia dan Aresh duduk berdampingan di meja, tetapi masing-masing melakukan hal sendiri. Lyla menulis pertanyaan untuk Orion, sedangkan Aresh menelaah laporan kerajaan. Tak ada yang meminta perhatian penuh dari pihak lain.
Setelah beberapa lama Lyla menutup buku. “Aku senang kita bisa duduk bersama tanpa harus terus berbicara.”
“Aku juga.”
“Kalau aku perlu pergi, aku akan bilang.”
“Aku akan mendengarkan.”
Lyla berdiri dan merapikan catatannya. Sebelum berpisah, ia bertanya apakah Aresh ingin berjalan bersama sampai pintu perpustakaan. Ia mengiyakan. Mereka melangkah berdampingan, tanpa bergandengan tangan kali ini.
Di ambang pintu Lyla berkata bahwa ia ingin melanjutkan kebiasaan bertemu, tetapi tidak ingin menetapkan jadwal tetap yang terasa seperti kewajiban. Aresh setuju mereka dapat saling bertanya setiap hari, lalu menerima jawaban tanpa tersinggung.
Lyla kembali ke kamarnya dengan perasaan nyaman. Kedekatan mereka bukan janji besar; ia tumbuh dari pilihan kecil yang diperbarui setiap kali mereka bertemu. Ia bisa terus mengenal Aresh sambil tetap menyiapkan pertanyaan tentang Bumi dan masa depannya.
Ia tidak merasa perlu memberi nama pada hubungan itu sebelum benar-benar siap. Untuk sekarang, ia bersyukur dapat jujur kepada Aresh dan tetap jujur kepada dirinya sendiri. Besok, ia akan kembali menyiapkan pertanyaan untuk Orion tanpa menyamarkan rasa takutnya.