Lyla mengusulkan agar mereka menghabiskan satu hari tanpa membahas misi, Orion, atau urusan kerajaan. Ia ingin tahu apakah ia bisa bersama Aresh tanpa setiap percakapan berubah menjadi keputusan masa depan.
Aresh bertanya apa yang ingin ia lakukan. Lyla menjawab ia ingin melihat dapur istana dan belajar membuat makanan yang biasa dimakan naga. Tala menyarankan agar mereka meminta izin kepada kepala dapur, bukan langsung menerobos seperti kebiasaan Lyla.
“Aku sudah belajar mengetuk pintu,” kata Lyla.
“Dan menunggu jawaban,” tambah Tala.
Mereka meminta izin dan diterima. Aresh mengenakan celemek sederhana setelah Lyla memberikannya, tetapi ia bertanya apakah boleh mengikat tali celemek di belakangnya sendiri. Lyla langsung menyerahkan tali itu tanpa mencoba membantu.
“Lihat, aku belajar,” ujarnya.
“Aku memperhatikan,” kata Aresh.
Mereka mencoba menyiapkan roti hangat dengan isian buah. Aresh mengikuti resep dengan ketelitian berlebihan, sementara Lyla menambahkan bumbu berdasarkan perkiraan. Hasilnya terlalu asam, tetapi masih dapat dimakan.
“Ini resep yang menyegarkan,” kata Lyla.
“Ini rasa buah yang dipaksa meminta maaf,” jawab Aresh.
Tala tertawa sampai hampir menumpahkan adonan. Mereka membuat satu porsi lagi dengan takaran yang lebih tepat. Lyla membiarkan Aresh mengukur bahan, dan Aresh membiarkan Lyla memilih bentuk roti. Tidak ada yang memaksa pihak lain mengikuti caranya.
Sambil menunggu roti matang, Lyla bertanya tentang hal yang disukai Aresh sebelum menjadi raja. Ia bercerita bahwa ia senang membaca, tetapi tak pernah punya cukup waktu. Ia juga menyukai musik, meski tak pernah belajar memainkan alat.
“Kenapa tak pernah?” tanya Lyla.
“Aku menganggapnya tidak penting.”
“Kalau kau menyukainya, itu penting untukmu.”
Aresh tampak memikirkan kalimat itu. Ia mengatakan mungkin akan mencoba kembali membaca sesuatu yang bukan laporan. Lyla menyarankan buku petualangan, tetapi Aresh memilih sejarah. Mereka berdebat sebentar soal pilihan tersebut, lalu sepakat membaca halaman pertama masing-masing dan menukar buku jika bosan.
Roti matang. Mereka membaginya dengan Tala dan Liram, yang kebetulan lewat. Semua orang mencicipi dan setuju bahwa batch kedua jauh lebih baik. Lyla mengakui ia tidak perlu membuat hidangan sempurna agar hari itu menyenangkan.
Setelah makan, Lyla dan Aresh berjalan ke taman. Aresh bertanya apakah ia boleh duduk dekat. Lyla mengizinkan, lalu mereka duduk tanpa bersentuhan. Mereka berbicara tentang masa kecil Aresh secara umum, bukan rahasia kerajaan. Lyla tak memaksa ketika ia memilih melewatkan beberapa bagian.
“Aku ingin belajar kapan harus bertanya dan kapan berhenti,” kata Lyla.
“Aku ingin belajar mengatakan kalau aku tak siap menjawab.”
“Kesepakatan yang bagus.”
Mereka melihat matahari turun. Lyla merasa hari biasa itu memberinya sesuatu yang tak didapat dari janji: bukti kecil bahwa mereka bisa bersenang-senang, berbeda pendapat, dan tetap menghormati batas.
Ketika kembali ke istana, Lyla berkata ia menikmati hari itu. Aresh menjawab ia juga. Ia tak menanyakan apakah itu berarti Lyla memilih tinggal. Lyla berterima kasih karena ia tidak bertanya.
Lyla meminta Aresh menjelaskan apakah ia berharap suatu hari menikah. Aresh menjawab bahwa ia terbuka terhadap kemungkinan itu, tetapi tidak menganggapnya sebagai akhir yang wajib. Ia ingin membangun kehidupan yang mereka pilih bersama, bukan menyelesaikan cerita dengan upacara.
“Kalau aku tinggal dan tidak ingin menikah?”
“Aku akan mendengarkan alasanmu. Aku tidak akan memaksamu menerima gelar.”
“Kalau aku ingin kembali ke Bumi?”
“Aku akan menghormatinya.”
Lyla melihat bahwa Aresh tidak mencoba memilih jawaban mana yang paling menguntungkan baginya. Ia merasa lega, tetapi juga takut karena kebebasan itu berarti keputusan ada di tangannya.
Mereka merencanakan cara bertemu Orion untuk membahas sisa pertanyaan. Lyla ingin mengerti apa yang dimaksud tinggal, berapa lama tubuhnya dapat dipertahankan, dan apa yang diperlukan untuk menuntaskan misi. Aresh meminta agar ia menentukan kapan siap, lalu menyiapkan pertanyaan sendiri.
“Aku akan menemani, tapi tidak menjawab untukmu,” katanya.
“Dan kalau aku meminta jeda?”
“Kita berhenti.”
Lyla menulis rencana itu di halaman baru. Ia memberi judul “Pertanyaan yang belum kujawab”, bukan “Keputusan”. Ia ingin mengingat bahwa persiapan tidak mengharuskannya sudah tahu akhir.
Sebelum tidur, ia memikirkan bagaimana rasanya ketika Aresh menggenggam tangannya. Ia merasa nyaman, tetapi ia juga tahu persetujuan untuk satu sentuhan tidak mencakup sentuhan lain. Ia ingin terus mengatakan batas dengan jelas dan memastikan Aresh melakukan hal yang sama.
Hari-hari itu memberinya bukti bahwa mereka bisa saling mengenal tanpa menjadikan gelar sebagai pusat. Namun ia juga tidak akan membiarkan kenyamanan saat ini menghapus risiko kepulangan. Ia mencintai Aresh dan masih merindukan Bumi. Keduanya tetap bagian dari dirinya.
Lyla juga meminta Aresh menjelaskan apakah ia berharap kelak mempunyai anak atau keluarga besar. Aresh berkata ia belum pernah memikirkan hal tersebut secara sungguh-sungguh, dan ia tidak akan menganggap itu sebagai bagian otomatis dari hubungan mereka. Lyla mengucapkan terima kasih karena ia tidak menganggap pernikahan memiliki satu bentuk wajib.
“Kalau kita tetap bersama, hal-hal seperti itu harus dibicarakan saat waktunya tepat,” kata Aresh. “Bukan diputuskan sekarang karena orang lain menganggapnya bagian dari gelar ratu.”
“Aku juga belum tahu apakah aku ingin hidup seperti itu.”
“Tidak apa-apa.”
Mereka lalu berbicara tentang kehidupan sehari-hari. Aresh bertanya apakah Lyla ingin punya waktu untuk membaca sendiri, bertemu Tala, atau berjalan ke taman tanpa pengawal mengikuti setiap langkahnya. Lyla mengatakan ia ingin privasi, tetapi juga ingin merasa aman. Mereka sepakat Liram dapat mengatur pengawalan seperlunya, tanpa menjadikannya pengawasan.
“Kalau aku merasa diawasi, aku akan bilang,” kata Lyla.
“Dan aku akan meninjau pengaturan itu.”
“Jangan menyelesaikannya untukku sebelum bertanya.”
“Aku akan bertanya.”
Lyla merasa percakapan itu menjelaskan bahwa hubungan bukan hanya tentang perasaan atau gelar. Cara hidup mereka pun harus memberi ruang bagi kedua pihak. Ia ingin Aresh mengenal bagian dirinya yang bebas, dan ingin mengenal raja itu di luar kewajiban kerajaan.
Aresh bertanya apakah Lyla ingin memanggilnya dengan nama saja saat mereka berdua. Lyla tertawa. “Aku memang selalu memanggilmu Aresh.”
“Benar. Aku bertanya apakah kau ingin aku memanggilmu tanpa gelar di hadapan orang lain juga.”
“Untuk sekarang, Lyla saja saat kita berdua. Di depan istana, aku belum tahu. Jangan umumkan apa-apa dulu.”
“Baik.”
Mereka tidak membuat kesepakatan resmi. Lyla menuliskan beberapa hal sebagai pengingat pribadi, lalu menutup buku. Ia ingin keputusan tentang tinggal dan misi datang setelah penjelasan Orion, bukan dari daftar hubungan.
Saat hendak berpisah, Aresh bertanya apakah Lyla ingin bertemu esok hari. Lyla menjawab iya, tetapi mungkin hanya sebentar jika ia perlu berpikir sendiri. Aresh menerima itu tanpa meminta durasi tertentu.
Lyla kembali ke kamarnya dengan perasaan hangat dan tetap cemas. Ia tidak menipu dirinya bahwa cinta membuat pilihan menjadi mudah. Namun, ia mulai melihat bahwa mereka dapat saling menyayangi tanpa saling memiliki.