Hari ketiga setelah pengakuan itu, Lyla dan Aresh bertemu lagi di perpustakaan. Kali ini Lyla membawa pertanyaan tentang batas. Ia ingin memastikan mereka memahami “saling mengenal” dengan cara yang sama, bukan membiarkannya berubah menjadi asumsi.
“Aku ingin membicarakan hal yang mungkin terdengar kaku,” katanya.
“Aku akan mendengarkan.”
“Kalau aku bilang boleh untuk satu hal, itu tidak berarti boleh untuk hal lain. Kalau aku berubah pikiran, aku ingin bisa berhenti tanpa harus menjelaskan panjang lebar.”
Aresh mengangguk. “Aku setuju.”
“Dan kau juga berhak menyampaikan batasmu. Aku tidak ingin menganggap semua sentuhan atau kedekatan otomatis nyaman bagimu.”
Aresh tampak lega mendengar itu. Ia menjelaskan bahwa ia tak keberatan Lyla duduk dekat atau memegang tangannya jika ia lebih dahulu mengizinkan, tetapi ia tidak nyaman jika tanduknya disentuh. Tanduk naga adalah bagian yang sangat pribadi dan terkait martabatnya. Lyla mengingat peringatan Tala sejak awal dan merasa malu pernah menjadikannya bahan lelucon.
“Aku tak akan menyentuh tandukmu,” katanya. “Aku juga minta maaf pernah menganggapnya seperti benda untuk diketuk.”
“Aku tahu kau tidak jadi melakukannya.”
“Tetap saja, niat itu tidak pantas. Terima kasih sudah menjelaskan batasmu.”
Aresh menerima permintaan maaf itu tanpa meminta Lyla merasa bersalah lebih lama. Mereka lalu menyusun beberapa kesepakatan sederhana: bertanya sebelum menyentuh, menerima jawaban tanpa membujuk, menjaga hubungan mereka tetap pribadi sampai mereka berdua setuju mengumumkannya, dan tidak menganggap kedekatan sebagai janji pernikahan.
“Kalau suatu saat salah satu dari kita ingin lebih dekat, kita bicara dulu,” kata Lyla.
“Dan jika salah satu ingin mundur, kita juga bicara.”
“Tidak ada hukuman diam-diam?”
“Tidak.”
Lyla tersenyum. “Kau membuat daftar yang lebih baik daripada milikku.”
“Daftar ini tidak memiliki empat belas jenis bunga.”
“Itu daftar yang berbeda.”
Mereka tertawa. Percakapan itu meredakan kecemasan Lyla. Ia tahu dirinya bisa ceroboh, dan Aresh bisa terlalu diam. Dengan aturan yang jelas, mereka tidak perlu berharap satu sama lain membaca pikiran.
Setelah itu mereka berjalan menyusuri koridor. Aresh bertanya apakah Lyla ingin bergandengan tangan. Lyla berpikir sejenak sebelum menjawab, “Boleh, sampai kita tiba di ruang makan.”
Aresh mengulurkan tangan, menunggu Lyla menyambutnya. Mereka berjalan bergandengan dengan ringan. Lyla merasa nyaman, meski ada rasa gugup yang membuat telapak tangannya sedikit berkeringat.
Saat tiba di ruang makan, Lyla melepaskan tangan. Aresh langsung membiarkannya. Tak ada pertanyaan mengapa ia berhenti atau desakan untuk melanjutkan.
“Terima kasih,” katanya.
“Aku senang kau mengatakannya dengan jelas.”
Mereka makan bersama Tala dan Liram. Tak seorang pun menggoda mereka atau mengumumkan hubungan. Lyla menyadari ia bisa menikmati kedekatan kecil tanpa membiarkannya mengubah semua keputusan besar.
Sore harinya, ia menulis batas-batas yang mereka sepakati di buku catatan—bukan sebagai kontrak, hanya pengingat. Ia menambahkan bahwa persetujuan dapat berubah kapan saja. Ia tak ingin melupakan pelajaran yang pernah ia abaikan kepada Naran.
Tala datang membawa beberapa pilihan pakaian untuk hari berikutnya. Ia bertanya apakah Lyla ingin memakai sesuatu yang lebih formal karena akan berjalan bersama Aresh. Lyla memilih pakaian sederhana.
“Aku tak ingin orang menganggap ini acara resmi,” katanya.
“Tidak akan ada pengumuman,” jawab Tala. “Yang Mulia meminta agar tidak ada protokol khusus.”
Lyla berterima kasih. Ia tak ingin hubungan yang baru mereka sepakati berubah menjadi bahan pembicaraan istana. Ia juga tak ingin menyembunyikannya dengan rasa malu. Untuk sementara, mereka hanya menjaga hal itu sebagai urusan pribadi, dan Lyla dapat mengubah keputusan ketika siap.
Keesokan harinya, Aresh mengajaknya berjalan di sepanjang taman. Ia bertanya terlebih dahulu apakah Lyla nyaman berjalan berdua. Lyla mengiyakan. Mereka berjalan dengan jarak dekat, tetapi tanpa bersentuhan sampai Lyla sendiri menawarkan lengan untuk berjalan beriringan. Aresh menerima setelah meminta konfirmasi.
Mereka berbicara tentang makanan, buku, dan kebiasaan masing-masing. Lyla bercerita bahwa ia sering membuat keputusan spontan, sementara Aresh menjelaskan bahwa ia cenderung mempertimbangkan terlalu banyak hal. Mereka sepakat bahwa perbedaan itu kadang membantu, kadang membuat mereka kesal.
“Aku tak mau kau selalu menuruti idemu sendiri karena aku lebih berhati-hati,” kata Aresh.
“Aku juga tidak mau kau menyebut semua yang spontan sebagai kesalahan.”
“Kalau begitu, kita perlu bertanya satu sama lain.”
Mereka tertawa. Di tengah perjalanan, seorang pelayan memanggil Aresh tentang urusan kerja. Aresh bertanya kepada Lyla apakah ia ingin menunggu atau kembali sendiri. Lyla memilih kembali bersama Tala, yang sedang berada tidak jauh.
Aresh menerima keputusan itu tanpa kecewa. Ia meminta izin untuk menyentuh punggung tangan Lyla sebagai salam perpisahan, dan Lyla mengizinkan. Sentuhan itu singkat. Saat Lyla menarik tangan, ia langsung melepaskan.
Lyla lalu berjalan bersama Tala dan menyadari bahwa ia bisa menikmati kebersamaan tanpa mengorbankan kebebasan. Ia juga dapat mengatakan tidak atau pergi, dan Aresh akan menerima.
Malamnya, ia menulis batas yang telah mereka sepakati. Ia menambahkan pengalaman bersama hari itu, termasuk bahwa Aresh bertanya sebelum menyentuh. Ia tidak menuliskannya sebagai bukti bahwa hubungan pasti berhasil. Itu hanya tindakan baik yang ia hargai.
Mereka juga menetapkan bahwa jika bertemu di ruang publik, Lyla akan memilih sendiri apakah ingin berdiri di samping Aresh atau tidak. Aresh tidak akan memperkenalkannya sebagai pasangan tanpa izin. Jika ada orang bertanya, ia akan menjawab bahwa hubungan mereka belum diumumkan dan keputusan itu milik mereka berdua.
Lyla bertanya apakah Aresh keberatan bila ia ingin tetap tinggal di Menara Mawar meski mereka saling mengenal. Aresh berkata itu kamar Lyla selama ia menghendakinya, bukan hadiah yang harus dibayar dengan kedekatan.
“Dan kalau aku ingin pindah ke tempat lain?”
“Kita akan membicarakan pilihan tempat yang aman dan nyaman. Kau tidak harus tinggal dekat kamarku.”
Jawaban itu membuat Lyla merasa bahwa ia memiliki ruang, bukan hanya tempat yang disediakan oleh raja. Ia mengatakan hal itu penting baginya. Aresh berjanji tidak akan menganggap kedekatan fisik sebagai kewajiban.
Mereka berlatih menyatakan batas dalam kalimat sederhana. Lyla berkata “aku ingin sendiri” dan Aresh langsung mundur. Aresh berkata “aku belum siap membicarakan itu” saat Lyla menanyakan masa kecilnya, dan Lyla mengganti topik tanpa mendesak.
Keduanya tertawa karena latihan itu terdengar kaku, tetapi mereka sepakat kaku lebih baik daripada salah paham yang menyakitkan.