Keesokan paginya, Liram mendatangi Lyla dengan sebuah undangan resmi untuk jamuan kecil. Ia menjelaskan bahwa beberapa pejabat ingin mengetahui apakah Raja telah memilih calon permaisuri setelah audisi ditutup.
“Aku tidak ingin menghadiri acara yang membuat orang menebak-nebak statusku,” kata Lyla.
“Yang Mulia juga tidak ingin mengumumkan apa pun tanpa persetujuan Anda,” jawab Liram. “Saya hanya menyampaikan permintaan mereka.”
Lyla meminta waktu berpikir, lalu mendatangi Aresh. Mereka bertemu di ruang kerja setelah Aresh menyelesaikan dokumen. Lyla mengatakan ia ingin menolak jamuan itu, bukan karena malu pada hubungan mereka, tetapi karena belum ada sesuatu yang perlu diumumkan.
“Aku tak ingin orang menyebutku calon ratu saat aku sendiri belum tahu apakah akan tinggal.”
Aresh langsung menyetujui. “Liram akan menjawab bahwa tidak ada pengumuman mengenai pasangan atau calon permaisuri.”
“Jangan katakan bahwa aku menolakmu.”
“Aku tidak akan menyebutmu sama sekali.”
Lyla merasa lega. Ia tak ingin perasaannya diubah menjadi berita istana, baik sebagai kisah cinta maupun penolakan. Ia hanya ingin beberapa hari untuk memahami Aresh sebagai pribadi.
Mereka kemudian pergi ke perpustakaan. Aresh mengusulkan mereka melakukan sesuatu yang biasa: memilih buku dan membacanya bersama. Lyla setuju, tetapi memperingatkan bahwa ia bisa mengomentari isi buku dengan keras.
“Aku sudah terbiasa.”
“Itu bukan berarti kau tidak bisa terkejut.”
Mereka memilih buku tentang tanaman di Avantera. Lyla membaca satu halaman lalu bertanya mengapa tanaman berbunga hanya saat udara dingin. Aresh menjelaskan bahwa beberapa tanaman menyimpan energi sebelum musim dingin. Lyla menanggapi bahwa tanaman itu lebih pandai merencanakan hidup daripada dirinya.
“Tanaman tak perlu memutuskan apakah ia akan kembali ke Bumi,” kata Aresh.
“Jangan membandingkan masalahku dengan tanaman.”
“Aku tidak membandingkan. Aku hanya menjelaskan.”
Lyla menyipitkan mata, namun kemudian tertawa. Mereka membaca selama hampir satu jam. Sesekali Aresh menjelaskan istilah yang tak dimengerti Lyla. Sesekali Lyla menanyakan hal yang membuatnya terdiam dan berpikir.
“Apakah kau pernah menikmati sesuatu tanpa memikirkan apakah itu berguna bagi kerajaan?” tanyanya.
Aresh menatap halaman buku. “Dulu, jarang. Aku menganggap waktu luang sebagai sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku mulai mengerti bahwa beristirahat juga bagian dari hidup.”
Lyla merasa tersentuh, tetapi tak menjadikannya bukti bahwa Aresh berubah demi dirinya. Ia berkata Aresh boleh menikmati hal-hal yang disukai tanpa harus menjelaskannya kepada siapa pun.
Saat jeda, mereka berjalan ke taman. Aresh bertanya apakah Lyla nyaman berjalan berdua di tempat terbuka. Lyla menjawab iya, tetapi ingin tetap punya kebebasan untuk kembali kapan saja. Aresh menyetujui.
Mereka duduk di bangku taman, menyaksikan beberapa pelayan bekerja di kejauhan. Lyla bertanya bagaimana rasanya menjadi raja yang selalu dianggap harus punya jawaban. Aresh mengakui terkadang ia lelah, tetapi ia belajar untuk meminta bantuan Liram dan para pejabat.
“Aku dulu mengira kau dingin karena tak peduli,” ujar Lyla.
“Aku memang tidak pandai menunjukkan kepedulian.”
“Sekarang lebih baik.”
Aresh menoleh kepadanya. “Karena kau mengatakannya?”
“Karena kau berusaha, bukan karena aku menyuruhmu.”
Kalimat itu penting baginya. Ia tak ingin Aresh berubah demi memenuhi keinginannya saja. Ia ingin mengenal seseorang yang memilih menjadi lebih terbuka karena itu memang yang ia kehendaki.
Sore hari, Liram melaporkan bahwa jamuan ditunda. Ia tak menyebut alasan pribadi Lyla dan hanya mengatakan tidak ada pengumuman tentang calon permaisuri. Lyla berterima kasih karena privasinya dijaga.
Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan hangat. Hari itu tidak membuatnya memilih tinggal, tetapi memberinya gambaran seperti apa hubungan mereka jika tanpa gelar: membaca, berbicara, dan memberi ruang.
Lyla juga menjelaskan bahwa ia tidak ingin menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan Aresh. Selama ini ia sering mendengar bahwa istana terasa lebih hidup sejak kedatangannya, dan ia takut suatu hari Aresh menyalahkannya jika ia pergi.
“Aku pernah bilang kehadiranmu membuat istana terasa berbeda,” kata Aresh. “Itu benar. Tapi aku tidak bermaksud menjadikanmu bertanggung jawab atas suasana hatiku.”
“Kadang kalimat itu terdengar seperti aku harus terus menghiburmu.”
“Kalau begitu aku perlu mengatakannya dengan lebih baik. Kehadiranmu menyenangkan bagiku, tetapi hidup dan tanggung jawabku tetap milikku.”
Lyla mengangguk. “Aku lebih nyaman mendengar itu.”
Mereka membicarakan tanda-tanda ketika salah satu mulai merasa tertekan. Lyla ingin dapat mengatakan “jeda” tanpa dianggap menolak seluruh hubungan. Aresh setuju. Ia juga meminta Lyla mengatakan jika ia merasa dirinya terlalu formal atau terlalu sering menyembunyikan perasaan di balik keputusan kerajaan.
“Aku bisa mencoba. Tapi mungkin aku tetap akan mengejekmu karena kaku.”
“Aku sudah memperhitungkan itu.”
“Jangan terlalu percaya diri.”
Aresh tertawa kecil. Lyla menganggap tawa itu bukan hadiah yang harus ia jaga, melainkan momen yang mereka nikmati bersama. Ia tak harus selalu menjadi orang yang membuat Aresh tertawa.
Sebelum berpisah, mereka sepakat untuk bertemu tanpa agenda dua kali dalam beberapa hari berikutnya. Bukan janji untuk berpacaran, melainkan kesempatan mengenal satu sama lain dengan sadar. Lyla meminta agar salah satu pertemuan boleh dibatalkan tanpa hukuman. Aresh menyetujuinya.
Kesepakatan itu membuat Lyla sadar bahwa kedekatan dapat dibangun dari kebiasaan kecil: bertanya, mendengarkan, dan menerima perubahan pikiran. Ia masih takut pulang, tetapi kini rasa takut itu tidak membuatnya merasa bahwa ia harus segera memberikan Aresh sebuah gelar.
Lyla kemudian bertanya apa yang Aresh sukai selain tugas kerajaan. Aresh perlu waktu untuk menjawab. Ia mengaku suka melihat langit berubah warna menjelang malam, tetapi selama bertahun-tahun ia menganggap itu hal yang tak pantas mengalihkan perhatian dari pekerjaan.
“Menikmati senja bukan pengkhianatan terhadap kerajaan,” kata Lyla.
“Aku tahu. Aku hanya tidak terbiasa memilih sesuatu karena menyenangkan.”
“Kalau begitu, kita bisa berlatih memilih hal kecil.”
Aresh menyarankan mereka membaca atau berjalan tanpa tujuan resmi. Lyla setuju, tetapi menekankan bahwa kegiatan itu tidak boleh menjadi ujian apakah mereka cocok menikah. Mereka hanya ingin mengenal kebiasaan satu sama lain.
“Kalau hari itu membosankan?” tanya Aresh.
“Kita boleh mengaku bosan dan pulang. Tidak ada nilai yang diberikan.”
“Aku setuju.”
Kesepakatan kecil itu membuat mereka tertawa. Lyla menyadari ia tak perlu tampil menarik atau selalu jenaka agar Aresh terus menyukainya. Ia ingin dikenal dalam keadaan biasa, termasuk saat lelah, bingung, atau tak punya jawaban lucu.