Kehidupan di Istana Avantera ternyata jauh lebih sibuk daripada yang dibayangkan Lyla. Jika di bumi ia harus berpacu dengan jam absen kantor, di sini ia harus berpacu dengan tata krama istana yang rumit—yang tentu saja, langsung ia langgar di hari pertama. Lyla bukan tipe gadis yang bisa duduk diam manis sambil memandangi kuku. Setelah pertemuannya yang cukup "meledak" dengan Raja Aresh kemarin, Lyla memutuskan bahwa cara terbaik untuk bertahan hidup adalah dengan beradaptasi secepat mungkin.
Atau lebih tepatnya, membuat seluruh istana beradaptasi dengannya.
Lyla mulai menjelajahi lorong-lorong istana yang luasnya seperti labirin tanpa akhir. Ia takjub melihat betapa beragamnya penghuni tempat ini. Avantera bukan hanya rumah bagi ras Naga, tetapi juga menjadi tempat bernaung bagi berbagai jenis ras Suin. Lyla melihat pelayan dengan telinga rubah yang lincah, pengawal dengan sayap burung yang terlipat rapi di balik zirah, hingga koki dengan ekor tupai yang sangat tebal.
Namun, di antara kerumunan makhluk setengah hewan itu, Lyla menyadari satu hal yang mencolok: ia adalah satu-satunya manusia murni yang terlihat bebas berkeliaran. Di dunia ini, ras manusia seringkali dianggap sebagai ras yang lemah, tidak memiliki kekuatan sihir yang mumpuni, dan seringkali dikucilkan dalam strata sosial.
"Tala, kenapa aku tidak melihat manusia lain di sini?" tanya Lyla saat mereka berjalan menuju taman samping.
Tala, yang sedang membawa nampan berisi buah-buahan, menoleh sedikit. "Manusia jarang sekali bekerja di istana, Nyonya. Kebanyakan dari mereka memilih hidup tersembunyi karena diskriminasi dari ras yang lebih kuat. Namun, Yang Mulia Raja Aresh berbeda. Beliau adalah pemimpin yang sangat adil. Beliau tidak peduli pada ras atau kekuatan sihir. Siapa pun yang setia dan mau bekerja keras, akan mendapatkan tempat di sini. Itulah sebabnya istana ini menjadi tempat paling aman bagi ras-ras yang biasanya tertindas."
Lyla mengangguk-angguk, sedikit terkesan dengan sifat raja naga yang kaku itu. "Jadi, naga itu sebenarnya orang baik ya? Walaupun wajahnya seperti tembok yang baru dicat—datar sekali."
"Nyonya Lyla, mohon jaga ucapan Anda!" bisik Tala panik, telinga kucingnya berdiri tegak karena terkejut.
Tapi Lyla sudah tidak mendengarkan. Matanya terpaku pada seorang pelayan pria yang sedang membersihkan vas bunga di sudut lorong. Pria itu memiliki telinga anjing golden retriever yang tampak sangat halus dan sesekali bergerak-gerak.
Hasrat "pencinta hewan" Lyla langsung bergejolak. Ia melangkah maju dengan kecepatan cahaya. "Permisi! Bolehkah aku menyentuh itu?!"
Tanpa menunggu jawaban, tangan sembrono Lyla sudah mendarat di telinga pelayan malang itu. "Wah! Lembut sekali! Rasanya seperti beludru premium!"
Pelayan itu mematung, wajahnya memerah hingga ke telinga (yang sedang dipegang Lyla). Di dunia Suin, telinga adalah bagian yang sangat sensitif dan pribadi. Hanya orang-orang terdekat yang boleh menyentuhnya. Namun bagi Lyla, itu hanyalah fitur menggemaskan yang harus ia jelajahi.
"N-nyonya! Tolong lepaskan!" pelayan itu tergagap, hampir menjatuhkan vas bunganya.
Lyla akhirnya melepaskannya sambil tertawa riang. Sepanjang perjalanan di istana hari itu, Lyla menjadi "teror" bagi para pelayan. Siapa pun yang memiliki telinga menonjol atau ekor yang menarik, tidak luput dari cengkeraman tangannya. Ia memuji kelucuan telinga mereka, menanyakan bagaimana cara merawat bulunya, hingga meminta izin untuk menyentuhnya setiap kali mereka bertemu.
Puncaknya terjadi ketika mereka sampai di dekat lapangan latihan para pengawal kerajaan. Di sana, suasana terasa jauh lebih serius. Suara dentingan pedang dan teriakan komando memenuhi udara. Lyla berhenti dan melihat seorang pria yang berdiri di tengah lapangan, memberikan instruksi kepada puluhan prajurit.
Pria itu bertubuh sangat kekar, jauh lebih besar dari manusia biasa. Bahunya bidang, dan tingginya mungkin mencapai dua meter. Ia mengenakan zirah ringan berwarna perunggu yang menonjolkan otot-otot lengannya. Di atas kepalanya, terdapat sepasang telinga harimau yang berwarna jingga dengan garis-garis hitam yang tegas.
"Siapa dia? Gagah sekali," tanya Lyla, matanya berbinar melihat telinga harimau itu.
"Itu adalah Panglima Naran, kepala seluruh pasukan pertahanan Avantera. Beliau adalah Suin Harimau yang paling kuat dan disegani di seluruh daratan," jawab Tala dengan nada hormat.
Lyla menyeringai. "Panglima Harimau ya? Telinganya pasti sangat empuk."
Tala baru saja akan memperingatkan Lyla bahwa Naran adalah pria yang sangat dingin dan tidak suka bercanda, namun Lyla sudah berlari menuju lapangan.
"Panglima Naran!" teriak Lyla dengan suara lantang.
Latihan seketika berhenti. Puluhan prajurit menoleh ke arah gadis manusia yang berlari dengan gaun sutra yang melambai-lambai. Naran membalikkan badannya, matanya yang tajam menatap Lyla dengan penuh kewaspadaan.
"Siapa kau? Ini area latihan terlarang bagi warga sipil," ucap Naran dengan suara yang menggelegar seperti auman rendah.
Lyla berhenti tepat di depan Naran. Karena perbedaan tinggi yang mencolok, Lyla harus mendongak hingga lehernya pegal. "Aku Lyla. Dan wah... kau benar-benar keren! Zirahmu bagus, ototmu... oke, itu nyata. Tapi yang paling penting..."
Lyla berjinjit, tangannya meraih ke atas dengan gerakan yang sangat cepat hingga Naran yang memiliki refleks harimau sekalipun terlambat menghindar.
HAP.
Tangan Lyla mencengkeram salah satu telinga harimau Naran. Ia meremasnya dengan lembut, lalu mengelusnya dengan gemas. "Ya ampun! Ini lebih bagus dari yang kubayangkan! Teksturnya kasar tapi lembut di dalam! Lucu sekali!"
Seluruh lapangan latihan seketika hening. Para prajurit seolah lupa cara bernapas. Mereka melihat panglima mereka yang paling gagah, yang paling ditakuti musuh di medan perang, kini berdiri diam dengan telinga yang sedang dipermainkan oleh seorang gadis kecil.
Naran membeku. Matanya yang tajam membelalak. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya, seorang wanita menyentuh telinganya secara langsung—dan di depan umum pula! Sensasi aneh menjalar dari telinganya menuju seluruh tubuhnya. Wajahnya yang garang perlahan-lahan berubah warna menjadi merah padam, kontras dengan kulitnya yang kecokelatan.
"A-apa yang kau lakukan?!" Naran mencoba mundur, namun Lyla masih memegangi telinganya dengan erat.
"Jangan bergerak dulu! Aku ingin merasakannya sebentar lagi. Panglima, telingamu ini sangat lucu! Bolehkah aku sering-sering menyentuhnya kalau lewat sini?" tanya Lyla dengan wajah tanpa dosa, menatap Naran dengan mata bulat yang penuh kekaguman tulus.
Pipi Naran semakin panas. Ia berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah jatuh ke tanah. "Lepaskan... ini tidak sopan! Telinga Suin adalah... adalah..."
"Adalah bagian paling menggemaskan!" potong Lyla sambil akhirnya melepaskan cengkeramannya. "Terima kasih, Panglima Naran! Kau sangat baik. Aku pergi dulu ya!"
Lyla melambaikan tangan dan berjalan pergi dengan ceria, diikuti oleh Tala yang hampir pingsan karena ketakutan. Naran tetap berdiri di sana, tangannya menyentuh telinganya yang baru saja dipegang Lyla. Jantungnya berdegup kencang, dan ia bisa merasakan tatapan menggoda dari para prajuritnya.
"Lanjutkan latihan!" teriak Naran dengan suara yang sedikit pecah, membuat para prajurit segera kembali beraksi sambil menahan tawa.
Di balkon lantai atas istana yang menghadap langsung ke lapangan latihan, seorang pria berdiri diam. Jubah hitamnya berkibar pelan ditiup angin. Aresh telah menyaksikan seluruh kejadian itu dari awal. Matanya yang emas menatap tajam ke arah Lyla yang sedang berjalan menjauh sambil sesekali melompat kecil kegirangan.
Aresh tidak tahu kenapa, tapi melihat Lyla tertawa dan menyentuh pria lain—bahkan jika itu adalah panglimanya sendiri—membuat dadanya terasa sesak. Tangannya yang bersandar pada pagar balkon mengempal kuat, hingga marmer putih itu sedikit retak di bawah tekanannya. Ada rasa panas yang aneh menjalar di hatinya, sesuatu yang ia tahu sebagai kecemburuan, meski ia tidak mau mengakuinya.
Ia melihat Lyla yang masih tampak ceria di bawah sana. Untuk sejenak, ia ingin turun dan menarik gadis itu, menjauhkannya dari semua telinga dan ekor yang ada di istana ini. Namun, egonya sebagai raja naga yang dingin menahannya.
Tanpa sepatah kata pun, Aresh berbalik. Ia berjalan pergi meninggalkan balkon dengan langkah yang berat, bahkan tanpa menyapa Lyla yang tadi sempat menoleh ke arah balkonnya. Ia butuh waktu untuk memahami kenapa seorang gadis manusia sembrono bisa mengacaukan ketenangannya hanya dalam waktu satu hari.
Lyla sempat menengok ke atas, melihat sekilas bayangan jubah hitam yang menghilang di balik pintu balkon. Ia mengerutkan kening. "Apa itu Aresh? Kenapa dia pergi begitu saja? Dasar naga aneh," gumamnya pelan sebelum kembali asyik mengobrol dengan Tala tentang jenis bulu ekor apa yang paling lembut di istana.
Kisah di Avantera baru saja dimulai, dan Lyla tidak tahu bahwa tindakannya yang sembrono telah mulai menyulut api di hati Sang Raja Naga.
To be continued....