Keesokan siang, Lyla meminta Orion kembali. Ia memanggilnya dengan cara yang sama seperti sebelumnya, tanpa menganggap bahwa kemunculannya pasti. Setelah beberapa saat, cahaya lembut muncul di balkon dan Orion berdiri di tempat yang sama. Lyla duduk, dengan Aresh dan Liram menunggu cukup jauh.
“Aku ingin membahas misi,” katanya. “Apa maksudmu ketika menyuruhku mencarikan Aresh seorang istri?”
Orion tidak langsung menjawab. Ia berkata bahwa misi itu dimaksudkan untuk membantunya melihat bahwa ia masih dapat memilih hubungan dan masa depan, meski telah lama menutup dirinya. Lyla mengerutkan kening.
“Jadi aku tidak harus membuatnya menikahi seseorang?”
“Tidak. Pernikahan yang dipaksakan tidak akan memenuhi tujuan itu.”
“Apakah ia harus memilih seseorang?”
“Tujuannya adalah agar Aresh menghadapi keinginannya sendiri dan terbuka pada kemungkinan mencintai. Keputusan untuk menikah tetap miliknya dan orang yang dipilihnya.”
Lyla menghela napas. “Kenapa kau tidak menjelaskannya lebih terang dari awal?”
“Dalam keadaanmu saat itu, aku menjelaskan bahwa misi berkaitan dengan mencarikan pasangan baginya. Aku tidak memaksamu menikah atau mengatur siapa yang ia pilih.”
“Tapi kau bilang aku bisa kembali kalau misi selesai.”
“Ya. Aku tidak menjanjikan bahwa pernikahan harus terjadi. Misi selesai ketika Aresh mampu memilih hubungan yang diinginkannya dengan sadar, dan kau telah membantunya menghadapi pilihan itu. Namun aku tidak akan menyatakan misi selesai hanya karena ia menyukai seseorang.”
Lyla menyimak setiap kata. “Apa yang harus terjadi agar kau menilainya selesai?”
“Aresh harus memahami keinginannya sendiri dan menyampaikannya tanpa paksaan. Orang yang ia pilih harus juga bebas menerima atau menolak. Tidak ada upacara atau status yang diwajibkan.”
Aresh bergerak sedikit, tetapi menunggu izin untuk bicara. Lyla mengangguk kepadanya.
“Kalau aku memilih tidak menikah siapa pun, apakah misi gagal?” tanya Aresh.
“Tidak. Jika setelah memahami dirinya kau memilih untuk tidak menikah, itu tetap pilihan sadar. Tugas Lyla bukan menjamin pernikahan, melainkan membantumu menemukan apa yang kau inginkan. Namun, Lyla juga harus bebas menentukan apakah ia ingin kembali atau tinggal.”
Lyla mencatat. Ia merasa lega bahwa misi bukan mandat untuk mengatur hidup orang lain, tetapi juga bingung karena perannya tak lagi sesederhana mencari kandidat.
“Kalau aku membantu Aresh memilih dengan jujur, apakah itu berarti aku harus menjadi orang yang ia pilih?”
“Tidak. Pilihan Aresh dan pilihanmu adalah dua hal yang terpisah.”
“Kalau dia memilihku, apakah misi otomatis selesai?”
“Tidak otomatis. Ia harus memahami apa yang ia pilih, dan kau pun harus bebas memilih. Perasaan sepihak tidak cukup untuk menutup tugas.”
Lyla meletakkan pena. Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi harus menenangkan pikirannya. Ia meminta Orion mengulang bagian tentang kebebasan memilih. Orion mengulanginya dengan sederhana: tidak ada yang berhak memaksa Lyla atau Aresh menikah.
“Baik. Aku belum siap menilai apakah tugasku sudah selesai.”
“Tidak perlu menilai hari ini.”
Lyla bertanya apakah ia bisa tinggal di Avantera tanpa menyelesaikan misi. Orion menjawab bahwa itu pertanyaan berikutnya, yang akan dibahas bersama pilihan dan konsekuensinya. Ia tidak meminta Lyla menandatangani atau menyetujui apa pun.
Pertemuan berakhir setelah Lyla meminta waktu. Ia menatap catatan baru yang kini lebih jelas, tetapi masih menyisakan sejumlah pertanyaan. Aresh berjalan bersamanya kembali ke dalam.
“Apakah kau lega?” tanyanya.
“Sedikit. Aku tak harus membuatmu menikah. Tapi aku juga belum tahu bagaimana misiku berakhir.”
“Kita tidak perlu memutuskan sekarang.”
Lyla mengangguk. Ia merasa tanggung jawabnya berubah bentuk: bukan lagi mengatur hidup Aresh, melainkan membantu tanpa mengambil alih. Itu lebih sulit, tetapi lebih benar.
Mereka juga menuliskan hal-hal yang Orion belum jawab: identitas orang yang mungkin berada di dekat Lyla di Bumi, peluang medis untuk pulih, dan waktu tepat yang tersedia untuk memilih. Lyla menolak mengubah ketiadaan jawaban menjadi dugaan bahwa tak seorang pun menunggunya.
“Kalau aku membayangkan ada seseorang, itu cuma harapan,” katanya. “Aku ingin tahu, tapi jangan tulis sebagai fakta.”
Aresh setuju dan meminta Liram memberi label jelas pada setiap bagian. Ia tidak menyarankan Lyla untuk memilih dunia mana pun. Lyla menghargai bahwa ia tetap menjaga sikap meski jawaban itu dapat memengaruhi hubungan mereka.
Sebelum pergi, Orion berkata bahwa ia bersedia membahas pertanyaan berikutnya tentang misi ketika Lyla siap. Ia tidak menjanjikan jawaban untuk perkara medis, sebab ia tidak dapat mengetahui hasil yang belum terjadi. Lyla berterima kasih dan meminta ia tidak menghilang sebelum mencatat satu hal terakhir: tidak ada pilihan yang harus dibuat sebagai imbalan atas bantuan Aresh.
Orion mengiyakan. Setelah itu cahaya di balkon padam. Lyla merasa lelah, namun catatan yang lengkap memberinya pegangan. Ia tahu batas yang tidak bisa dilampaui, dan itu lebih jujur daripada janji bahwa semuanya akan berakhir baik.
Sebelum Orion menghilang, Lyla bertanya apakah ia bisa menjelaskan batas masa penahanan. Orion menjawab tidak ada tanggal pasti yang bisa ia berikan dalam percakapan itu. Ia mampu mempertahankan tubuh selama masa Lyla memahami pilihan yang disediakan, tetapi tidak akan menjamin keadaan tersebut selamanya.
“Apakah aku bisa minta waktu tambahan?”
“Kau boleh meminta waktu untuk memahami, tetapi aku tidak akan menjanjikan penundaan tanpa akhir.”
Lyla mencatat perbedaan penting itu. Tidak ada tenggat hari yang disebutkan, namun ada batas bahwa masa penahanan bukan permanen. Ia tak akan menciptakan kalender sendiri, tetapi ia juga tak bisa mengabaikan urgensi sepenuhnya.
Ia bertanya apakah keputusan tinggal berarti tubuhnya akan dilepaskan. Orion menjawab bahwa ia tidak akan menjelaskan seluruh akibat sebelum Lyla memahami pilihan misi dan kepulangan. Mereka akan membahasnya setelah Lyla siap. Lyla menerima bahwa masih ada pertanyaan yang harus menunggu.
Aresh tidak meminta Orion memberinya salinan jawaban. Lyla membaca ulang catatan dan memastikan semua informasi tetap miliknya untuk diputuskan.
Lyla bertanya apakah misi memiliki batas waktu yang berbeda dari masa penahanan tubuh. Orion menjawab bahwa kedua hal itu tidak boleh disamakan; ia belum selesai menjelaskan konsekuensi pilihan dan tidak meminta Lyla menyimpulkan sendiri. Lyla menandai pertanyaan itu untuk pertemuan selanjutnya.
“Jangan anggap keberhasilan misi otomatis berarti tubuhku sembuh,” katanya.
“Benar,” jawab Orion. “Itu dua hal yang berbeda.”
Lyla berterima kasih karena jawaban itu jelas. Ia meminta Orion berhenti untuk hari itu, dan Orion mematuhi tanpa menghilang sebelum ia sempat menyelesaikan catatan.