Setelah pertemuan dengan Orion, Lyla meminta semua catatan disimpan. Ia ingin membacanya dalam keadaan tenang sebelum melanjutkan pertanyaan. Tala mengajaknya sarapan, dan Lyla setuju meskipun selera makannya hilang.
“Aku bisa kembali ke tubuh yang sama,” katanya sambil memegang sendok. “Tapi tubuh itu masih terluka. Orion menahannya, bukan menyembuhkannya.”
Tala duduk di hadapannya. “Apa yang Anda rasakan setelah mendengar itu?”
“Lega karena tubuhku belum mati. Takut karena aku tidak tahu apakah akan pulih. Dan bersalah karena sempat membayangkan pulang sebagai sesuatu yang mudah.”
“Tidak ada yang mudah dari pilihan itu.”
Lyla mengaduk sup tanpa memakannya. “Aku juga memikirkan orang-orang yang mungkin menungguku. Tapi aku bahkan tak tahu siapa yang ada di dekatku waktu kecelakaan.”
“Kita tidak mengetahui siapa yang berada di sana,” kata Aresh. “Orion belum menyebutnya.”
“Benar. Aku tidak mau mengarang keluarga atau orang yang menunggu hanya supaya pilihanku terdengar lebih mulia.”
Mereka berhenti membicarakan kemungkinan itu. Lyla makan beberapa suap, lalu meminta waktu untuk membaca catatan sendiri. Di kamarnya, ia memeriksa setiap jawaban Orion. Ia menandai kalimat tentang waktu berhenti, tubuh tidak sembuh, dan hasil perawatan yang tak dijamin. Ia tidak mengubahnya menjadi jaminan bahwa tubuhnya pasti selamat.
Siang hari, Aresh datang setelah mengetuk. Ia bertanya apakah Lyla ingin melanjutkan percakapan dengan Orion tentang arti misi. Lyla berkata ingin bertanya, tapi tidak ingin membuat semua pertanyaan sekaligus menjadi beban.
“Kita bisa mengatur satu topik setiap pertemuan,” kata Aresh.
“Itu akan membantuku. Tapi jangan atur pertemuannya tanpa bertanya.”
“Aku akan bertanya.”
Mereka menyiapkan daftar baru dengan bagian terpisah: tubuh di Bumi, maksud misi, pilihan tinggal, dan mekanisme kepulangan. Aresh tidak mengisi kolom jawaban. Lyla ingin mendengar semuanya langsung dari Orion dan dapat mengajukan pertanyaan lanjutan.
“Apakah ada hal yang kau ingin kusampaikan kepadanya?” tanyanya kepada Aresh.
“Aku ingin memastikan bahwa keputusanmu tidak dipengaruhi oleh rasa takut kehilangan tubuh atau rasa bersalah kepadaku. Tapi kau yang harus menyampaikannya, jika itu yang kau pilih.”
Lyla mengangguk. “Aku bisa bilang aku tidak mau misi menjadi alasan untuk memaksa siapa pun menikah.”
Aresh menjawab bahwa ia setuju, tetapi tidak ingin memimpin percakapan. Ia akan mendukung Lyla dari samping.
Malam itu, Lyla duduk bersama Tala di dekat jendela. Ia mengingat Bumi, tetapi kali ini tidak memaksa dirinya membayangkan peristiwa setelah kecelakaan. Ia belum tahu siapa yang berada di sana atau berapa lama tubuhnya akan memerlukan perawatan.
“Aku mungkin tak bisa kembali ke kehidupan yang sama,” katanya.
“Tidak ada yang tahu,” ujar Tala. “Tapi Anda boleh tetap merindukannya.”
Lyla mengangguk. Ia tak perlu membuat kerinduan menjadi sumpah untuk pulang. Ia juga tak perlu menekan perasaannya pada Aresh agar terlihat setia kepada dunia asal. Kedua hal itu bisa ia bawa sambil mencari jawaban.
Sebelum tidur, ia menulis satu pertanyaan yang terasa paling menakutkan: jika tubuhku tak bisa pulih, apakah aku bisa tetap memilih tinggal? Ia menambahkan catatan bahwa Orion harus menjelaskan apakah tinggal merupakan pilihan permanen atau masih ada kemungkinan kembali di kemudian hari.
Lyla menutup buku. Untuk pertama kalinya ia tidak merasa harus menyembunyikan pertanyaan itu dari dirinya sendiri.
Sebelum Orion menghilang, Lyla memastikan catatan tubuhnya dibacakan kembali. Ia ingin memperbaiki bagian yang mungkin terdengar seperti jaminan. Orion mengulang bahwa tubuhnya masih ada dan tidak mengalami perubahan selama ditahan, tetapi luka tetap serius dan hasil perawatan tidak dapat dipastikan.
Lyla meminta jeda. Ia tidak menangis, tetapi tenggorokannya terasa kering. Tala memberikan air, sementara Aresh menunggu sampai ia memanggilnya untuk duduk lebih dekat. Mereka tidak bertanya apakah ia memilih pulang.
“Kalau aku tak kembali, tubuh itu akan tetap begitu?” tanya Lyla kepada Orion.
“Selama masa pilihanmu, aku mempertahankannya. Namun ini bukan keadaan yang dapat dibiarkan tanpa batas selamanya.”
“Berapa lama masa pilihan itu?”
“Aku belum memberikan tenggat. Aku akan memberimu kesempatan yang cukup untuk memahami pilihanmu, tetapi tidak akan menjanjikan penundaan tanpa akhir.”
Lyla mencatat bahwa tak ada tanggal tertentu. Ia tak ingin mengarang hitungan hari. Ia juga bertanya apakah Orion bisa memperpanjang masa itu jika ia belum memahami sesuatu. Orion menjawab ia akan menilai keadaan saat mereka berbicara lagi, tetapi Lyla tidak boleh menganggap penundaan akan berlangsung selamanya.
“Aku perlu tahu cukup banyak untuk memilih, tapi aku belum bisa memilih hari ini.”
“Tidak ada yang meminta keputusan hari ini.”
Setelah Orion pergi, Lyla meminta seluruh jawaban dimasukkan ke halaman terpisah. Ia tidak mau catatan tentang tubuh bercampur dengan penjelasan misi yang akan dibicarakan nanti.
Aresh berkata bahwa ia ingin bertanya apakah Orion dapat menjamin keselamatan Lyla, tetapi ia menahan diri karena tahu jawabannya mungkin tidak. Lyla menyadari ia menghargai kejujuran itu. “Jangan tanyakan demi aku,” katanya. “Kalau ada pertanyaan yang memang penting, tanya. Tapi jangan minta janji palsu.”
Aresh mengangguk. “Aku ingin tahu apa yang bisa dilakukan agar pilihanmu tidak dibuat dalam ketakutan.”
Orion menjawab bahwa ia dapat menjelaskan keadaan dan konsekuensi yang ia ketahui, tetapi tak bisa memilih untuk Lyla atau menjamin hasil di Bumi. Ia juga tak dapat menghapus luka saat ia memindahkan jiwa Lyla.
Lyla menanyakan apakah tubuhnya masih berada di tempat kecelakaan. Orion berkata tubuh itu tetap pada tempat yang sama ketika waktu dihentikan; ia tak memindahkannya ke rumah sakit atau tempat aman lain. Lyla merasa terkejut, namun meminta ia mengulang agar bisa mencatat dengan benar.
Tak ada jawaban tentang siapa yang mungkin menemukannya. Orion tidak melihat semua kejadian di sekitar tubuh itu. Lyla menulis “tidak diketahui” di kolom terkait dan meminta Liram tidak menebak siapa saja yang mungkin ada.
Setelah percakapan, ia meminta Orion pergi. Ia perlu waktu mencerna fakta bahwa tubuhnya berada di tempat kejadian, namun waktu di sana berhenti pada saat jiwa dipindahkan.