Lyla merasa dunianya baru saja jungkir balik untuk kesekian kalinya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Ia menatap Tala—pelayan bertelinga kucing yang tampak sangat tenang itu—dengan pandangan seolah-olah gadis itu baru saja mengatakan bahwa bumi itu berbentuk segitiga bermuda.
"Tunggu, tunggu sebentar. Coba ulangi lagi. Kau bilang aku apa? Calon permaisuri?" Lyla menunjuk dirinya sendiri dengan jempol, wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya yang luar biasa. "Kau tidak lihat aku? Aku ini cuma gadis yang nyaris jadi geprek karena sedan hitam! Dan apa tadi? Dipilih oleh Raja Naga? Kenapa? Apa dia sudah kehabisan stok wanita di dunia ini sampai harus memungut tumbal dari desa suin kadal?"
Tala menunduk lebih dalam, telinga kucingnya sedikit melipat ke belakang—tanda bahwa ia merasa agak terintimidasi oleh ledakan suara Lyla. "Mohon tenang, Nyonya Lyla. Yang Mulia Raja Aresh jarang sekali menerima persembahan secara pribadi. Namun ketika para tetua desa Suin membawa Anda, Yang Mulia langsung memerintahkan agar Anda dibawa ke kamar utama menara mawar ini. Beliau sendiri yang mengatakan bahwa Anda akan menjadi pendampingnya."
Lyla memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut. "Ini bukan rencana yang Orion berikan! Tugas darinya adalah aku yang mencarikan istri untuk raja itu, bukan aku yang jadi istrinya! Ini namanya malpraktik misi!"
Lyla bangkit dari tempat tidur. Gaun putih sutra yang ia kenakan terasa sangat ringan dan halus, namun bagi Lyla, gaun itu terasa seperti beban seberat seratus kilogram. Ia melangkah mondar-mandir di atas karpet bulu yang sangat tebal, mencoba mencari jalan keluar dari situasi gila ini.
"Oke, Tala. Kalau begitu, panggilkan raja kalian. Sekarang juga. Aku harus bicara empat mata dengan pria itu dan menjelaskan bahwa ada kesalahpahaman birokrasi di sini," tuntut Lyla dengan nada memerintah.
Wajah Tala seketika memucat, lebih pucat daripada saat ia melihat Lyla bangun tadi. "Ma-memanggil Yang Mulia Raja ke sini? Sekarang? Oh, Nyonya, itu tidak mungkin! Sangat tidak sopan jika memanggil raja untuk datang ke kamar seorang wanita yang bahkan belum resmi menjadi istrinya. Prosedur istana mengharuskan Anda menunggu jadwal audiensi yang akan diatur oleh kepala pelayan istana, mungkin dalam tiga atau empat hari ke depan..."
"Tiga hari?! Keburu aku jadi fosil di sini!" Lyla mendengus kesal. Sifat sembrono dan tidak kenal takutnya mulai mengambil alih kendali. Ia tidak suka menunggu, dan ia sangat tidak suka dipaksa masuk ke dalam situasi yang tidak ia setujui.
Lyla melihat sekeliling kamar mewah itu. Matanya tertuju pada jendela besar yang menuju ke balkon pribadi. Sebuah ide gila muncul di kepalanya.
"Oh, jadi dia tidak mau datang kalau dipanggil baik-baik?" Lyla menyeringai, sebuah seringai yang biasanya membuat teman-temannya di bumi segera lari menjauh karena tahu akan ada masalah besar.
Lyla berlari menuju balkon. Tala yang bingung segera mengikutinya. "Nyonya? Apa yang Anda lakukan?"
Lyla memanjat pagar balkon yang terbuat dari marmer putih berukir. Ia berdiri di tepi pagar, angin kencang menerpa rambut dan gaunnya, membuatnya tampak seperti dewi yang siap terbang—atau orang gila yang siap jatuh.
"N-NYONYA! TURUN! APA YANG ANDA LAKUKAN?!" teriak Tala dengan histeris. Ia mencoba mendekat, namun Lyla mengangkat tangannya.
"Jangan mendekat, Tala! Aku serius. Katakan pada Raja Naga itu, kalau dia tidak menemuiku dalam lima menit, aku akan melompat dari sini! Aku lebih baik mati jadi geprek untuk kedua kalinya daripada harus jadi istri orang yang tidak kukenal!" ancam Lyla dengan suara lantang.
"T-tapi ini lantai lima belas! Anda akan hancur!" Tala hampir menangis. Ia tahu jika terjadi sesuatu pada "persembahan" raja, kepalanya sendiri yang akan menjadi taruhannya.
"Empat menit lima puluh detik!" seru Lyla sambil menatap ke bawah.
Melihat Lyla yang tampak sangat serius dan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, Tala tidak punya pilihan lain. Ia berbalik dan berlari keluar kamar secepat kilat, meneriakkan nama pengawal dan memanggil Yang Mulia Raja dengan suara yang bisa terdengar hingga ke ujung lorong istana.
Lyla, yang kini sendirian di tepi balkon, menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia menoleh ke arah luar, dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat kemegahan Kerajaan Avantera.
"Wow..." bisiknya takjub.
Dari ketinggian itu, ia bisa melihat betapa luas dan megahnya kompleks istana. Di bawah sana terbentang taman istana yang sangat indah, dipenuhi dengan bunga-bunga yang memancarkan cahaya warna-warni bahkan di siang hari. Ada pepohonan dengan daun berwarna emas yang bergoyang ditiup angin. Di tengah taman, terdapat sebuah danau buatan dengan air yang sebening kristal. Di atas air itu, sepasang angsa putih raksasa berenang dengan anggunnya, meninggalkan riak-riak kecil yang berkilauan.
Seluruh tempat itu tampak seperti lukisan yang menjadi kenyataan. Lyla sejenak lupa bahwa ia sedang mengancam akan bunuh diri. Ia terlalu terpesona oleh keindahan dunia yang Orion berikan padanya.
Namun, keheningan itu pecah ketika pintu besar kamar itu kembali terbuka dengan dentuman keras. Lyla menoleh dan melihat Tala datang dengan wajah sembap karena menangis, diikuti oleh dua pengawal berbaju zirah perak, dan seorang pria yang berdiri di tengah mereka.
Begitu melihat Lyla berdiri di tepi balkon, para pengawal itu segera menghunus pedang mereka setengah jalan karena panik, sementara Tala berteriak, "Nyonya, tolong masuk! Yang Mulia sudah di sini!"
Lyla menatap pria yang berdiri di depan Tala. Pria itu mengenakan jubah kebesaran berwarna hitam legam dengan sulaman naga perak yang melilit di bahunya. Mahkota kecil berbentuk taring naga menghiasi kepalanya yang berambut hitam legam. Wajahnya sangat simetris, dengan garis rahang yang tegas dan mata berwarna emas yang menatap Lyla dengan pandangan yang sulit diartikan.
Lyla terpana. Ia tidak pernah melihat pria setampan ini seumur hidupnya. Bahkan aktor-aktor papan atas di bumi pun tampak seperti figuran di depan pria ini. Aura yang dipancarkannya begitu kuat, dominan, namun entah kenapa... ada sesuatu yang kaku dari caranya berdiri.
"Masuklah," ucap pria itu. Suaranya rendah, berat, dan memiliki getaran yang membuat bulu kuduk Lyla meremang.
Lyla tidak tahu pria itu adalah Aresh sang Raja Naga. Ia hanya terpaku menatap wajah tampan itu.
Pria itu memberikan isyarat dengan tangannya kepada Tala dan para pengawal. "Kalian semua, keluar. Tinggalkan kami berdua."
"Tapi Yang Mulia..." salah satu pengawal mencoba memprotes.
"Keluar," ulangi pria itu dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Tala dan para pengawal segera membungkuk hormat dan mundur keluar ruangan, menutup pintu besar itu dengan rapat. Kini, hanya ada Lyla yang masih berdiri di tepi pagar balkon, dan sang Raja Naga di tengah ruangan yang megah.
Pria itu mulai melangkah mendekat secara perlahan. Ekspresi wajahnya datar, seolah-olah ia sedang menghadapi masalah kenegaraan yang membosankan, bukan seorang wanita yang mengancam akan melompat dari ketinggian.
Saat jarak mereka sudah tinggal sekitar satu meter, Lyla tiba-tiba tersadar dari pesonanya. Ia mengangkat tangannya dengan telapak terbuka ke depan.
"Berhenti! Jangan mendekat lagi!" seru Lyla.
Langkah pria itu terhenti. Ia menatap Lyla dengan alis yang sedikit bertaut. "Kau memintaku datang, dan sekarang kau menyuruhku berhenti?"
Lyla menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberaniannya yang tadi sempat tercecer. "Tentu saja! Aku harus memastikan kau tidak akan langsung menerkamku atau semacamnya. Pertama-tama, siapa kau? Apa kau salah satu pangeran di sini? Dan di mana si Raja Naga tua bangka yang katanya mau menjadikanku ratu?"
Pria itu terdiam sejenak. Matanya yang emas menatap Lyla dengan tatapan bingung yang sangat nyata. "Tua bangka?"
"Iya! Biasanya raja-raja di cerita begini kan sudah tua, perutnya buncit, dan galak," cerocos Lyla tanpa henti. "Cepat katakan padanya, aku tidak mau menikah dengannya! Aku punya misi penting dari Orion!"
Pria itu menarik napas panjang, lalu menyilangkan tangan di dadanya yang bidang. "Aku adalah Aresh. Raja Kerajaan Avantera ini. Dan seingatku, aku tidak merasa tua, apalagi buncit."
Lyla melongo. Mulutnya terbuka lebar hingga lalat pun bisa masuk dengan mudah. Ia menatap Aresh dari kepala hingga kaki, lalu kembali ke wajahnya yang rupawan.
"Kau... kau Raja Naga itu?" tanya Lyla dengan suara yang mencicit.
Aresh mengangguk perlahan. "Kau benar-benar tidak mengenalku?"
Lyla menggeleng cepat. "Tentu saja tidak! Aku baru sampai di sini kemarin! Memangnya seberapa penting aku harus mengenalmu?"
Aresh tampak sedikit terkejut mendengar jawaban itu. Biasanya, orang-orang akan gemetar ketakutan atau bersujud di bawah kakinya hanya dengan mendengar namanya. Gadis ini justru bertanya apakah mengenalinya itu penting.
"Yah, mengingat kau akan menjadi istriku, kurasa itu cukup penting," ucap Aresh dengan nada datar, namun ada sedikit kilatan geli di matanya yang emas.
"Istri?!" Lyla kembali teringat tujuan utamanya. Ia segera turun dari pagar balkon, namun tetap menjaga jarak. "Itu dia masalahnya! Aku tidak mau jadi istrimu! Kau memang tampan, oke, aku akui itu. Kau sangat tampan sampai rasanya mataku mau silau. Tapi aku tidak menyukaimu! Kita baru bertemu sepuluh detik!"
Aresh menatap Lyla dengan serius. Ia berjalan mendekat satu langkah lagi, membuat Lyla mundur hingga menabrak dinding balkon. Aresh mengulurkan tangannya, dan sebelum Lyla bisa memberontak, ia menarik Lyla masuk ke dalam kamar dengan gerakan yang sangat cepat namun tidak menyakitkan.
"Lepaskan!" Lyla memukul lengan Aresh, namun rasanya seperti memukul batang besi.
Aresh melepaskan tangan Lyla begitu mereka sudah berada di tengah ruangan yang aman. Ia menatap Lyla yang sedang merapikan gaunnya dengan wajah bersungut-sungut.
"Kau punya nyali yang besar untuk ukuran manusia lemah," ucap Aresh. "Istirahatlah. Sepertinya kau masih butuh waktu untuk menyesuaikan otakmu dengan kenyataan. Aku akan datang lagi nanti malam."
"Hei! Aku belum selesai bicara!" teriak Lyla.
Aresh tidak peduli. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sedikit. "Dan jangan coba-coba melompat lagi. Aku sudah memerintahkan pengawal untuk memasang jaring sihir di bawah balkonmu. Kau hanya akan memantul seperti bola jika nekat melompat."
Setelah Aresh keluar dan pintu tertutup, Lyla menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. "Sialan! Naga tampan itu mengejekku! Lihat saja nanti, Aresh. Aku akan mencarikanmu istri yang paling galak sedunia sampai kau menyesal sudah membawaku ke sini!"
Lyla mengumpat dengan berbagai k********r yang ia tahu, sementara di balik pintu yang tertutup, Aresh berdiri diam sejenak. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, sang Raja Naga yang berdarah dingin itu merasakan sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Gadis yang aneh," bisiknya pelan.
To be continued.....