Menjelang malam, Lyla kembali ke balkon perpustakaan. Ia tidak merencanakan percobaan, tetapi ingatan tentang Orion muncul begitu jelas hingga ia takut akan kehilangannya lagi. Ia meminta Tala mencari Aresh, lalu menjelaskan bahwa ia ingin mencoba sekali lagi—hanya jika dirinya tetap bisa berhenti kapan saja.
Aresh tiba bersama Liram. Mereka bertanya apa yang Lyla perlukan. Ia meminta mereka berada beberapa langkah darinya, tanpa menyentuh atau menyela. Ia ingin memanggil Orion dengan namanya dan mengingat saat ia diberi kesempatan kedua.
“Kalau aku merasa pusing, aku berhenti,” katanya.
“Kami akan menghormatinya,” jawab Aresh.
Lyla berdiri menghadap langit yang mulai gelap. Ia tidak membuat lingkaran atau menyalakan benda apa pun. Ia mengucapkan nama Orion, lalu menyebut nama Buminya, Berna Lyla. Ia mengatakan ia masih mengingat misi, tetapi tidak tahu apa maknanya. Ia meminta penjelasan tentang tubuhnya dan pilihan yang tersedia.
Kesunyian berlangsung cukup lama. Lyla hampir berhenti ketika udara di balkon terasa berubah. Cahaya tipis muncul di dekat pagar, tidak menyilaukan, lalu membentuk sosok yang ia kenali dari ingatan. Orion berdiri beberapa langkah darinya.
Tala menarik napas kaget. Liram membeku. Aresh tetap diam, tetapi sorot matanya menajam.
“Lyla,” kata Orion. “Kau berhasil mengingat jalur kedatanganmu.”
“Jadi kau benar-benar mendengarku?”
“Aku mendengar panggilanmu.”
“Apakah ini berarti aku bisa memanggilmu kapan saja?”
Orion tidak langsung menjawab. “Jangan menganggap satu kejadian sebagai aturan yang pasti. Kau mengingat pertemuan kita dan memanggilku dengan niat yang jelas. Aku bisa menjelaskan lebih banyak, tetapi tidak akan meminta keputusan malam ini.”
Lyla mengembuskan napas. Ia telah menyiapkan puluhan pertanyaan, namun semuanya bertabrakan di kepalanya.
“Tubuhku di Bumi bagaimana?”
“Pertanyaan itu penting,” jawab Orion. “Begitu juga arti misi dan pilihanmu. Kita perlu membicarakannya dengan tenang, bukan dalam keadaan kau panik.”
“Aku tidak mau memilih berdasarkan tebakan.”
“Dan kau tidak perlu.”
Aresh melangkah setengah langkah ke depan, tetapi berhenti. “Apakah jawabannya mensyaratkan pernikahan?”
“Tidak ada yang akan diputuskan melalui tekanan,” kata Orion. “Penjelasannya harus diberikan kepada Lyla dengan utuh.”
Lyla memandang Orion. “Aku ingin tahu semuanya. Tapi bukan malam ini. Aku perlu waktu untuk menenangkan diri dan menyiapkan pertanyaan.”
“Baik. Aku akan kembali saat kau siap membicarakannya.”
“Apakah kau bisa menjanjikan kapan?”
“Aku tidak akan menjanjikan waktu yang belum kutetapkan.”
Jawaban itu tidak memuaskan, tetapi setidaknya jujur. Lyla merasa sedikit pusing dan mengangkat tangan sebagai tanda ingin berhenti. Orion tidak mendekat. Cahaya di sekelilingnya memudar perlahan.
“Aku akan menunggu pertanyaanmu, Lyla.”
Sosok itu menghilang. Tidak ada kilatan besar atau suara menggelegar, hanya balkon yang kembali diterangi cahaya lampu istana.
Lyla duduk. Aresh bertanya apakah ia ingin air. Ia mengangguk. Tala memberikannya setelah ia menerima cangkir. Liram tidak langsung mencatat; ia menunggu izin.
“Aku mau catat bahwa Orion muncul setelah aku memanggilnya dan berkata ia akan menjawab pertanyaanku nanti,” kata Lyla. “Jangan catat bahwa aku bisa memanggilnya kapan saja.”
“Dipahami,” jawab Liram.
Aresh duduk di kursi seberang. “Kau ingin bicara sekarang?”
“Tidak. Aku ingin tidur dan menyusun pertanyaan. Tapi besok aku ingin membahas semuanya.”
“Besok kita lakukan sesuai keinginanmu.”
Lyla menatap langit. Ia masih belum tahu nasib tubuhnya di Bumi, tetapi kini ia tahu Orion bersedia menjawab. Untuk pertama kalinya, ketidakpastian itu memiliki pintu yang mungkin terbuka—dan Lyla berhak menentukan kapan ia siap masuk.
Lyla meminta Aresh tetap berada di dekat pintu balkon selama ia memanggil. Ia juga meminta Tala menunggu di ruang sebelah agar ia tidak merasa terlalu banyak mata tertuju padanya. Liram pergi untuk memberi tahu penjaga agar tidak ada yang memasuki area itu sampai Lyla selesai.
Mereka mengatur semuanya sesuai permintaan, tanpa simbol atau perlengkapan khusus. Lyla tidak tahu apakah panggilannya akan terdengar. Ia hanya ingin mengucapkan kata-kata yang memang ia ingat dan memberi kesempatan kepada Orion untuk menjawab.
Ia berdiri sendirian beberapa saat sebelum memulai. Ia mengatakan bahwa ia belum memutuskan untuk tinggal ataupun pulang. Ia tidak menyalahkan Orion, tetapi ia meminta penjelasan yang seharusnya ia pahami sejak awal. Ia mengingat Bumi, lalu mengingat taman istana, Aresh, Tala, dan Naran. Ia tak ingin satu ingatan menghapus yang lain.
Ketika suara Orion akhirnya terdengar dan sosoknya muncul, Lyla merasa takut sekaligus lega. Ia tidak melangkah mendekat. Ia meminta Orion berhenti di tempatnya dan menunggu sampai ia siap berbicara.
Orion mematuhi permintaan itu. Aresh tetap di pintu, tidak menyela. Lyla menyadari bahwa cara mereka menyambut kemunculan tersebut sama pentingnya dengan kemunculan itu sendiri: ia tidak ditarik ke dalam percakapan, dan ia dapat mengatur jarak.
Lyla sempat mengira suaranya hanya tenggelam dalam angin. Ia hendak mengulang panggilan ketika udara di balkon terasa tenang, seolah bunyi-bunyi kecil berhenti sesaat. Ia tidak menafsirkan perubahan itu sebagai jawaban sampai Orion benar-benar muncul.
Sosok tersebut berdiri pada jarak yang ia minta. Lyla memandangnya cukup lama sebelum berbicara. Ia berkata bahwa ia ingin penjelasan, bukan perintah. Orion menjawab bahwa ia memahami, lalu menunggu pertanyaan berikutnya.
Lyla tidak langsung bertanya. Ia meminta jeda untuk menenangkan napas. Orion memberinya waktu, sementara Aresh dan Liram tetap diam. Ketika Lyla merasa siap, barulah ia menanyakan apakah Orion bersedia menjelaskan semua pilihan pada pertemuan berikutnya.
“Ya,” jawab Orion. “Kau boleh menyiapkan pertanyaan dan memutuskan kapan siap mendengar.”
“Aku tidak akan memilih malam ini.”
“Aku tidak memintamu memilih.”
Lyla mengangguk. Ia menandai bahwa Orion menyetujui percakapan lanjutan, tetapi tidak menyimpulkan kapan ia akan datang lagi.
Saat sosok Orion memudar, Lyla tetap berdiri di tempat hingga yakin ia ingin duduk. Tak ada yang menarik atau memegangnya. Ia meminta Tala mengambil air, dan Tala menunggu sampai ia mengangguk sebelum menyerahkan cangkir.
“Aku butuh tidur sebelum membicarakan jawaban,” katanya.
Orion menyetujui. “Kita akan berbicara saat kau siap.”
Lyla tidak meminta tanggal. Ia belum tahu apakah Orion akan kembali besok atau nanti, dan ia tak mau mengubah ucapannya menjadi tenggat yang tidak pernah ia berikan.
Setelah Orion menghilang, Liram menanyakan apakah ia boleh menulis bahwa percakapan akan dilanjutkan. Lyla mengizinkan, dengan catatan bahwa waktu dan penjelasan belum ditentukan. Ia kemudian mengucapkan terima kasih kepada semuanya dan meminta ruang untuk beristirahat.
Aresh tidak mencoba menemaninya ke kamar. Ia hanya berkata bahwa ia akan berada di perpustakaan jika dibutuhkan. Lyla kembali ke kamarnya bersama Tala, lebih tenang karena ia masih memegang kendali atas langkah berikutnya.
Ia menarik selimut dan mengingat bahwa malam ini bukan malam untuk memilih. Ia sudah meminta jawaban dan berhak menunggu sampai siap mendengarnya.
Ia berbaring tanpa menuntut dirinya mengingat lebih banyak. Jika Orion kembali, ia akan mengajukan pertanyaan satu per satu. Jika tidak, ia tetap berhak menjalani esok hari tanpa keputusan terburu-buru.