Pada pagi ketiga, Aresh meminta Lyla bertemu dengannya di balkon perpustakaan. Ia membawa catatan pertanyaan, tetapi tidak membawa dokumen kerajaan. Lyla menyadari bahwa ia tidak sedang dipanggil untuk membuat keputusan. Ia duduk dan menunggu Aresh menjelaskan.
“Aku ingin memastikan kau masih ingin mencoba menghubungi Orion,” katanya. “Kalau tidak, kita bisa menunggu.”
“Aku ingin mencoba lagi suatu saat. Tapi aku tidak tahu kapan.”
“Tidak ada tenggat.”
Lyla membuka catatan. “Aku ingat dia mengatakan aku bisa kembali jika misi selesai. Tapi aku tak tahu apakah itu syarat pasti, kemungkinan, atau hanya salah satu jalan. Aku tidak akan memilih untuk tinggal hanya karena takut tubuhku sudah tidak ada. Aku juga tidak akan memilih pulang hanya karena merasa berutang pada Bumi.”
Aresh mengangguk. “Kau tidak perlu memilih berdasarkan dugaan.”
“Aku takut kalau aku menunggu terlalu lama, kesempatan itu hilang.”
“Kita tak tahu apakah ada batas waktu. Aku tidak akan mengarangnya.”
Lyla mengusap kertas. “Itu membuatku takut, tapi setidaknya jujur.”
Mereka membicarakan hal yang dapat dilakukan sementara itu. Liram akan menyimpan arsip dengan aman. Lyla bisa memeriksa ingatannya ketika siap, namun tak seorang pun akan memaksanya. Jika ada tanda yang jelas atau Orion muncul sendiri, mereka akan menanyakan hal-hal penting sebelum Lyla membuat keputusan.
“Kalau dia muncul dan memberi jawaban yang tidak kusukai?” tanya Lyla.
“Kau tetap boleh meminta waktu untuk memikirkannya.”
“Dan kalau dia bilang aku harus segera memilih?”
“Aku tidak bisa menjawab untukmu. Tapi kau tetap berhak bertanya apa akibatnya dan meminta penjelasan.”
Lyla menyukai jawaban itu. Ia tidak ingin diperlakukan sebagai seseorang yang harus menurut hanya karena lawan bicaranya dewa.
Mereka menutup catatan. Aresh bertanya apakah Lyla ingin berjalan di taman. Ia menjawab ya, tetapi ingin berjalan sendiri di bagian akhir. Aresh menerima permintaan itu tanpa tersinggung.
Di taman, mereka berbicara tentang kehidupan sehari-hari. Lyla bertanya bagaimana Aresh memutuskan perkara kerajaan, dan ia menjelaskan bahwa ia sering mendengar beberapa pandangan sebelum memilih. Lyla berkata ia ingin menerapkan hal sama pada hidupnya: mendengar informasi, lalu memutuskan sendiri.
“Namun kau tak perlu meminta pendapat semua orang,” kata Aresh. “Terlalu banyak suara bisa membuatmu lupa suaramu sendiri.”
“Termasuk suaramu?”
“Terutama suaraku, karena perasaanku terlibat.”
Lyla berhenti. “Kau mengakui itu dengan mudah.”
“Aku tidak ingin berpura-pura netral.”
“Terima kasih.”
Mereka kembali ke perpustakaan. Lyla menghabiskan siang bersama Tala, lalu meminta waktu sendirian menjelang malam. Ia menulis satu kalimat: “Aku belum memilih.” Kali ini kalimat itu tidak terasa seperti kegagalan. Itu hanya keadaan yang sebenarnya.
Tala membaca catatan itu setelah Lyla mengizinkan. “Anda tidak perlu mengubahnya menjadi jawaban sebelum waktunya.”
“Aku tahu. Aku sedang belajar.”
Lyla menutup buku. Ia masih mencintai Aresh, masih merindukan Bumi, dan masih tak tahu bagaimana kedua perasaan itu bisa hidup bersamaan. Namun ia tidak akan memilih berdasarkan dugaan. Selama itu jelas, ia bisa menjalani hari berikutnya.
Lyla meminta Aresh tetap berada di dekat pintu balkon selama ia memanggil. Ia juga meminta Tala menunggu di ruang sebelah agar ia tidak merasa terlalu banyak mata tertuju padanya. Liram pergi untuk memberi tahu penjaga agar tidak ada yang memasuki area itu sampai Lyla selesai.
Mereka mengatur semuanya sesuai permintaan, tanpa simbol atau perlengkapan khusus. Lyla tidak tahu apakah panggilannya akan terdengar. Ia hanya ingin mengucapkan kata-kata yang memang ia ingat dan memberi kesempatan kepada Orion untuk menjawab.
Ia berdiri sendirian beberapa saat sebelum memulai. Ia mengatakan bahwa ia belum memutuskan untuk tinggal ataupun pulang. Ia tidak menyalahkan Orion, tetapi ia meminta penjelasan yang seharusnya ia pahami sejak awal. Ia mengingat Bumi, lalu mengingat taman istana, Aresh, Tala, dan Naran. Ia tak ingin satu ingatan menghapus yang lain.
Ketika suara Orion akhirnya terdengar dan sosoknya muncul, Lyla merasa takut sekaligus lega. Ia tidak melangkah mendekat. Ia meminta Orion berhenti di tempatnya dan menunggu sampai ia siap berbicara.
Orion mematuhi permintaan itu. Aresh tetap di pintu, tidak menyela. Lyla menyadari bahwa cara mereka menyambut kemunculan tersebut sama pentingnya dengan kemunculan itu sendiri: ia tidak ditarik ke dalam percakapan, dan ia dapat mengatur jarak.
Sebelum percobaan kedua, Lyla bertanya kepada Aresh apakah ia bersedia berada di dekat pintu tanpa melihat langsung. Ia ingin tahu bahwa ia tidak sendirian, tetapi juga ingin ruang. Aresh menyetujui dan mengambil posisi sesuai permintaannya.
“Kalau Orion muncul, jangan menjawab untukku,” kata Lyla.
“Aku akan menunggu sampai kau memintaku bicara.”
“Dan kalau aku bilang berhenti, semua orang berhenti.”
“Ya.”
Lyla menarik napas dan berdiri dengan kedua kaki mantap. Ia tidak tahu apakah ingatannya cukup untuk mencapai Orion. Yang ia tahu, ia tidak akan kehilangan hak menentukan percakapan itu. Ia menyebut nama Orion sekali, lalu menunggu.
Lyla mencoba memanggil Orion satu kali lagi. Ia menyebut nama itu, mengingat kembali suara yang pernah didengarnya, lalu menunggu. Tidak ada apa-apa. Ia mengakhiri percobaan setelah beberapa saat dan kembali ke bangku.
“Aku tidak mendengar jawaban,” katanya. “Aku tidak mau mengulang terus.”
“Baik,” jawab Aresh. “Kita berhenti.”
Mereka kembali ke perpustakaan tanpa mencari arti tersembunyi pada angin atau cahaya. Lyla minum teh dan berbicara dengan Tala tentang hal biasa. Percobaan itu tidak mengubah apa pun, tetapi ia dapat berhenti tanpa merasa bahwa ia telah mengecewakan semua orang.