Hari berikutnya, Lyla tak mengulang percobaan. Ia memilih menyalin ingatan lama dalam urutan yang paling mungkin: kematian di Bumi, kesadaran bertemu Orion, penjelasan tentang Avantera, misi, lalu perpindahan. Ia menandai bagian yang samar dengan tinta berbeda.
Tala duduk di dekat jendela sambil menjahit. “Apakah menulis membuat Anda ingat lebih banyak?”
“Tidak juga. Tapi setidaknya aku berhenti mengubah urutannya di kepala.”
Ketika Aresh masuk, ia membawa laporan dari Liram bahwa tidak ditemukan arsip tambahan tentang Orion. Lyla menerima kabar itu tanpa kecewa sebesar sebelumnya. Ia sudah tahu catatan istana hanya dimulai setelah kedatangannya.
“Aku ingin menceritakan satu hal,” katanya. “Aku ingat Orion menyebut tubuhku terluka parah, tapi aku tidak ingat ia bilang aku pasti akan mati kalau tidak kembali. Itu mungkin kesimpulanku sendiri.”
Aresh duduk setelah ia memberi isyarat. “Kita tidak akan menganggap kesimpulan itu sebagai ucapan Orion.”
Lyla menambahkan catatan tersebut. Ia kemudian membaca ulang semua yang telah ditulis, memastikan tidak ada klaim bahwa waktu di Bumi berhenti atau tubuhnya menunggu. Ia tidak punya bukti tentang itu.
“Kalau tubuhku masih hidup, aku ingin tahu bagaimana keadaannya. Kalau tidak, aku juga ingin tahu.”
“Aku mengerti.”
“Aku takut jawabannya akan menentukan semuanya.”
“Jawaban itu akan memberi informasi. Keputusan tetap milikmu.”
Tala berhenti menjahit dan mengangguk. Lyla tahu semua orang berusaha tidak mengarahkan pilihannya. Ia menghargai itu, namun terkadang kebebasan memilih terasa seperti beban ketika tak ada satu pun jalan yang pasti benar.
Mereka membaca ulang ucapan yang Lyla ingat. Ada satu frasa yang sempat ia lupakan: Orion mengatakan ia punya kesempatan untuk “memulai lagi”. Lyla tak tahu apakah itu merujuk pada hidup di Avantera atau kesempatan untuk kembali. Ia menuliskannya sebagai ingatan samar.
“Apakah kata itu cukup untuk menghubunginya?” tanya Aresh.
“Aku tidak tahu. Aku tak mau menganggapnya kunci. Mungkin cuma cara Orion menjelaskan situasi.”
“Kalau kau ingin mencoba mengucapkannya, kita bisa menunggu sampai kau siap. Tapi kita tidak perlu mengulang percobaan hanya karena satu kata.”
Lyla menyetujui. Ia menyimpan halaman itu dalam map, lalu meminta Liram tidak menyebarkannya. Liram memastikan catatan hanya untuk mereka yang terlibat.
Sore hari, Lyla bertemu Naran di lorong. Ia menyapa dari jarak yang cukup. Naran membalas dengan anggukan. Tidak ada percakapan panjang, tetapi Lyla tidak lagi merasa harus menebus kesalahannya dengan memaksa keakraban. Ia mulai memahami bahwa hubungan dapat dipulihkan perlahan, bahkan bila bentuknya berubah.
Ketika kembali ke kamar, Lyla berbicara dengan Tala tentang rasa takutnya akan jawaban Orion. Tala mendengarkan, tidak menyela dengan janji. Lyla menyadari bahwa ia semakin bisa membedakan dukungan dari solusi. Kadang ia hanya membutuhkan seseorang hadir, bukan seseorang yang memilihkan.
Malamnya, ia tidak memanggil Orion. Ia membaca buku ringan, membiarkan ingatan datang tanpa paksaan. Tak ada suara dari dunia lain, tetapi ia tidak menganggap kesunyian sebagai penolakan. Ia menutup buku dan tidur ketika tubuhnya lelah.
Lyla menuliskan pertanyaan yang mungkin ia ajukan jika Orion dapat mendengarnya. Ia mulai dengan hal paling dasar: “Apakah aku masih bisa kembali?” Setelah itu ia menambahkan pertanyaan tentang kondisi tubuh, waktu di Bumi, dan arti misi. Ia mengurutkannya agar tidak kehilangan kata-kata ketika rasa takut muncul.
Tala duduk di sampingnya dan bertanya apakah Lyla ingin ia membaca daftar itu. Lyla menyerahkan buku setelah mengangguk. Tala membaca perlahan, lalu menunjukkan bahwa Lyla menulis pertanyaan “Apa yang terjadi jika aku memilih tinggal?”
“Aku tidak pernah menanyakan itu sebelumnya,” kata Lyla.
“Sekarang Anda ingin tahu.”
“Ya. Kalau aku bisa memilih, aku ingin tahu akibat setiap jalan, bukan hanya jalan pulang.”
Lyla menambahkan bahwa ia tidak ingin pilihan tinggal otomatis mengubahnya menjadi ratu atau mengikatnya pada pernikahan. Ia harus bisa memilih hidup di Avantera tanpa menjadikan Aresh sebagai satu-satunya alasan. Hal itu belum tentu mungkin, tetapi layak ditanyakan.
Ketika Aresh datang, ia menawarkan untuk membawa pertanyaan itu kepada Orion jika ia muncul. Lyla mengatakan ia akan bertanya sendiri. Aresh menerima keputusan tersebut dan berkata ia akan diam kecuali Lyla meminta dukungan.
Pengaturan itu membuat Lyla merasa lebih siap. Ia tidak ingin Aresh menjawab atas namanya, bahkan ketika ia gugup. Ia sendiri yang akan bertanya, dan ia sendiri yang akan meminta jeda jika perlu.
Ia menghapus satu pertanyaan yang ternyata mengandung asumsi: “Kapan aku harus pulang?” Sebagai gantinya ia menulis, “Apakah ada batas waktu untuk memilih?” Perubahan kecil itu membuatnya sadar betapa mudah rasa takut menyamar sebagai fakta.
Tala membacakan kembali pertanyaan-pertanyaan setelah mendapat izin. Lyla merasa daftar itu sudah cukup. Ia meminta Tala menyimpan salinan, tetapi tidak membagikannya kepada siapa pun tanpa persetujuan. Mereka sepakat Aresh dapat mengetahui pertanyaannya karena ia terlibat dalam misi, tetapi keputusan akhirnya tetap milik Lyla.
Aresh menerima batas tersebut. Ia berkata bahwa ia tidak perlu membaca semua hal jika Lyla ingin menyimpannya pribadi. Lyla menghargai jawaban itu dan menyimpan daftar dalam buku sendiri.
Ia menulis pula bahwa jawaban Orion, jika kelak datang, tidak otomatis menjadi keputusan. Ia berhak mengajukan pertanyaan lanjutan, meminta penjelasan dengan kata-kata sederhana, atau menunda jawabannya. Pikiran itu membuatnya merasa kurang seperti murid yang sedang diuji dan lebih seperti seseorang yang sedang membicarakan hidupnya sendiri.
Tala menawarkan untuk mendengarkan latihan pertanyaannya. Lyla membacakan tiga pertanyaan pertama, lalu menyadari suaranya bergetar pada pertanyaan tentang tubuh di Bumi. Ia berhenti dan meminta waktu. Tala tidak menyuruhnya meneruskan.
“Besok saja,” kata Lyla.
“Baik. Anda yang menentukan.”
Lyla merasa terharu oleh hal sederhana itu, lalu menyeka matanya sebelum air mata benar-benar jatuh. Ia tidak sedang kembali ke adegan lama; ia hanya mengakui ketakutan yang masih ada.
Mereka juga sepakat bahwa Liram tidak akan membuat salinan tambahan tanpa persetujuan Lyla. Ia menyimpan catatan percobaan bersama dokumen lain yang aksesnya terbatas. Lyla tahu itu tidak menjawab apa pun, tetapi merasa batas pribadinya dihormati.