Keesokan pagi, Lyla memilih taman kecil dekat perpustakaan. Tempat itu terbuka, tenang, dan tidak jauh dari ruangan yang bisa ia datangi jika ingin berhenti. Aresh menunggu di bangku, Tala berdiri beberapa langkah dari Lyla, dan Liram menyimpan catatan di tangannya.
“Tidak perlu menulis selama percobaan,” kata Lyla. “Kalau ada yang terjadi, aku akan cerita sesudahnya.”
Liram mengangguk dan menutup buku. Tak seorang pun mencoba menyentuh Lyla atau membuat lingkaran di sekelilingnya. Mereka hanya menemaninya seperti yang telah disepakati.
Lyla berdiri di bawah pohon, menarik napas, lalu memanggil nama Orion. Suaranya terdengar kecil di antara dedaunan. Ia mengulangnya, menyebut dirinya Berna Lyla, gadis dari Bumi yang pernah diajak bicara sebelum dipindahkan.
Tidak ada perubahan di langit. Tidak ada suara dari balik pohon. Angin bergerak, daun-daun bergesekan, dan seekor burung hinggap di dahan dekatnya.
“Orion, kalau kau bisa mendengarku, aku ingin jawaban. Aku tidak mau memilih berdasarkan tebakan.”
Ia menunggu. Beberapa detik berlalu, lalu satu menit. Tak ada apa-apa.
Lyla mencoba mengingat sensasi perpindahan, tetapi ingatan itu hanya berupa gelap dan tarikan samar. Ia tak menciptakan gerakan atau kata-kata tambahan. Setelah beberapa kali memanggil, ia merasakan kepalanya kembali berat.
“Aku berhenti,” katanya.
Aresh segera berdiri, tetapi tidak mendekat sebelum Lyla mengangguk. “Kau ingin duduk?”
“Ya.”
Ia duduk di bangku yang tadi ditempati Aresh. Tala memberikan air. Lyla meminumnya perlahan dan melihat sekeliling. Taman tetap sama, tidak ada tanda bahwa sesuatu telah berubah.
“Tidak ada jawaban,” ucapnya.
“Tidak ada,” kata Liram. “Saya tidak melihat atau mendengar sesuatu yang berbeda.”
“Aku juga tidak merasakan apa-apa selain lelah.”
Aresh bertanya apakah ia menyesal mencoba. Lyla menggeleng. “Tidak. Sekarang aku tahu cara itu tidak berhasil hari ini. Tapi aku tidak mau mengulangnya sampai pingsan atau membuat semua orang panik.”
Mereka kembali ke perpustakaan. Liram menulis catatan singkat atas izin Lyla: percobaan dilakukan dengan memanggil Orion dan mengingat perpindahan; tidak ada respons yang diketahui; Lyla menghentikan percobaan karena lelah. Ia tidak menulis bahwa Orion tidak mendengar, sebab mereka tidak tahu.
Lyla membaca catatan itu dan menyetujui. “Tulis ‘tidak ada respons yang teramati’, bukan ‘gagal’. Kita tak tahu apa yang terjadi di luar pengamatan.”
“Baik,” kata Liram.
Aresh memandangnya. “Kau ingin mencoba lagi kapan?”
“Belum. Aku ingin menunggu dan melihat apakah ada ingatan yang muncul sendiri. Kalau aku memaksa setiap hari, aku hanya akan makin cemas.”
Tala menawarkan untuk menemani Lyla ke taman, tetapi ia menolak dengan lembut. Ia ingin berjalan sendiri sebentar dan memastikan pikirannya jernih. Aresh mengangguk, lalu tetap berada di perpustakaan.
Lyla berjalan melewati halaman sampai ke gerbang taman. Ia merindukan Bumi, tetapi tidak merasa bahwa ia harus mengubah kerinduan itu menjadi tuntutan. Ketika ia kembali, Aresh masih ada di sana, membaca dokumen. Ia tak bertanya apakah Lyla sudah membuat keputusan.
“Aku belum tahu apa pun,” ujar Lyla.
“Tidak apa-apa.”
“Jangan bilang semuanya akan baik-baik saja.”
“Aku tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak kuketahui.”
Lyla tersenyum tipis. “Itu lebih baik.”
Mereka berbagi teh tanpa banyak bicara. Percobaan pertama tidak memberi jawaban, tetapi membuat Lyla tahu ia bisa berhenti kapan saja dan tetap dihormati. Untuk saat ini, itu cukup.
Setelah catatan disahkan Lyla, Liram membawa salinannya untuk disimpan. Lyla meminta agar satu salinan tetap berada di kamarnya. Ia tak ingin orang lain mengakses semua yang ia ingat, sekalipun tujuannya membantu.
“Ini informasi pribadi,” katanya. “Aku akan membagikan yang perlu, tetapi aku ingin tahu siapa yang melihatnya.”
“Wajar,” jawab Liram. Ia menjelaskan siapa yang memegang kunci map arsip dan berjanji tidak meneruskan isinya kepada pelayan atau pejabat lain tanpa izin.
Lyla memeriksa bahwa tidak ada catatan yang menyebut Orion sebagai ancaman atau penyelamat. Ia hanya ingin menulis apa yang terjadi, bukan menempelkan penilaian yang belum ia pahami. Setelah itu, ia menyimpan salinan kecil di dalam buku catatannya sendiri.
Saat semua orang pergi, Tala bertanya apakah ia menyesal telah mencoba mengingat. Lyla menjawab tidak, tetapi ia merasa sedih karena bagian penting hidupnya kabur. Tala mengatakan bahwa ia tak perlu memulihkan seluruh ingatan sekaligus untuk tetap berhak merasa bingung.
Lyla berterima kasih dan memilih beristirahat. Ia tidak mengulangi percobaan, tidak memanggil Orion berkali-kali, dan tidak menganggap kelelahan sebagai bukti bahwa ia hampir menemukan jawaban. Ia mengizinkan ingatan berhenti di tempatnya.
Malamnya, Lyla membaca salinan catatan sekali lagi. Ia memperhatikan bahwa setiap ketidakpastian diberi tanda, sehingga tak ada orang yang dapat membaca dokumen itu seolah semuanya sudah pasti. Ia menambahkan tanggal dan tempat setiap percobaan, lalu menutup buku.
Aresh sempat bertanya apakah ia ingin berbicara sebelum tidur. Lyla menjawab bahwa ia ingin sendirian. Aresh mengangguk dan pergi tanpa membuatnya merasa bersalah. Hal sederhana itu meneguhkan bahwa dukungan tidak harus berarti selalu berada di sampingnya.
Lyla menatap jendela. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti memaksa ingatan. Jika ada bagian yang kembali, ia akan mencatatnya. Jika tidak, ia akan menunggu sampai siap mencoba lagi.
Lyla meminta Aresh tetap meninjau catatan hanya jika ia ada di sana. Ia tidak ingin orang lain membahas kemungkinan hidupnya tanpa kehadirannya. Aresh menyetujui. Liram pun menjanjikan ia akan meminta izin sebelum menunjukkan dokumen tersebut kepada siapa pun.
Mereka menetapkan aturan sederhana: setiap kali Lyla merasa pusing atau tidak nyaman, percobaan berhenti; tak ada yang menyentuhnya tanpa persetujuan; dan semua catatan yang dibuat akan dibacakan kembali kepadanya. Aturan itu bukan sihir atau perlindungan khusus, hanya cara memastikan orang-orang yang membantu tidak mengambil alih kendali.
Lyla merasa lebih tenang karena dapat memperkirakan apa yang akan terjadi. Ia tahu percobaan berikutnya masih mungkin tidak menghasilkan apa-apa, tetapi ia tidak lagi takut akan dipaksa meneruskannya.