Lyla membuka catatan pertanyaannya setelah sarapan. Sejak hari sebelumnya, ia terus mencoba mengingat detik-detik sebelum tiba di hutan Avantera. Yang ia ingat hanya gelap, suara Orion, dan sensasi seolah-olah sesuatu menariknya dari tempat yang tidak ia kenal. Semakin keras ia memaksa, semakin kabur semuanya.
Ia meminta Tala duduk bersamanya di balkon perpustakaan. “Aku ingin mencoba mengingat percakapan pertama dengan Orion. Bukan ritual atau apa pun. Aku hanya ingin mengulang kata-katanya sejauh yang kuingat.”
“Apakah Anda ingin saya memanggil Aresh?”
“Ya, tapi tanyakan dulu apakah dia ada waktu. Aku tidak mau semua orang meninggalkan pekerjaan hanya karena aku mungkin mengingat sesuatu.”
Tala mengirim pesan melalui Liram. Beberapa saat kemudian Aresh tiba, membawa dua cangkir teh. Ia menanyakan apakah Lyla ingin ia duduk dekat atau memberi ruang.
“Duduklah di kursi seberang. Aku ingin bisa melihat kalian, tapi tidak terlalu banyak orang mengelilingiku.”
Aresh menuruti permintaan itu. Liram datang terakhir dengan buku catatan, namun tidak membuka pena sampai Lyla menyetujui pencatatan.
“Aku akan menulis hanya kata-kata yang kau izinkan,” katanya.
Lyla mengangguk. Ia mulai menceritakan ulang pertemuan dengan Orion. Ia mengingat pria itu memperkenalkan dirinya sebagai putra Dewa Kemakmuran. Orion mengatakan Lyla telah meninggal di Bumi, dan tubuhnya berada dalam keadaan sangat buruk. Ia menawarkan kesempatan untuk hidup di Avantera dan suatu hari kembali ke tubuh asal jika misi selesai.
“Bagian ‘jika misi selesai’ yang tidak jelas,” kata Lyla. “Aku tidak ingat apakah ia menjelaskan maksud misi lebih rinci.”
Aresh tidak menyela. Liram mencatat kata-kata yang diingat sebagai parafrasa, bukan kutipan. Tala menuangkan teh, tetapi meletakkannya di dekat Lyla setelah ia mengangguk.
Lyla memejamkan mata. Ia mencoba membayangkan tempat pertemuan itu, tetapi hanya merasakan ruang kosong yang dingin. Ketika ia memaksa lebih keras, kepalanya mulai berdenyut.
“Berhenti dulu,” kata Aresh.
“Aku belum selesai.”
“Tubuhmu memberi tahu bahwa kau lelah. Kita tidak perlu memaksakan ingatan.”
Lyla membuka mata. Ia ingin membantah, tetapi menyadari tangan yang memegang buku catatan mulai gemetar. “Baik. Beri aku sebentar.”
Aresh tidak menyentuhnya. Ia hanya mendorong cangkir teh sedikit lebih dekat, lalu menunggu Lyla mengambilnya sendiri. Tala berbicara tentang hal ringan—cuaca dan taman—sampai sakit kepala Lyla mereda.
“Aku tidak mau mengubah ini jadi cara menyiksa diri,” kata Lyla. “Kalau aku tidak ingat, aku tidak ingat.”
“Benar,” ujar Tala. “Anda boleh berhenti.”
Liram menutup catatan. “Saya tidak akan menambahkan bagian yang tidak Anda ingat.”
Lyla memandang halaman yang baru ditulis. Ada tiga fakta dan banyak ruang kosong. Ia merasa kecewa, tetapi lebih aman daripada saat mencoba memaksa ingatan.
“Aku ingin mencoba memanggil Orion,” katanya setelah berpikir. “Tapi bukan dengan mantra yang tidak pernah dia ajarkan. Aku hanya ingin berbicara, mengingat saat dia mengirimku ke sini.”
Aresh memastikan ia memahami bahwa tidak ada jaminan Orion akan mendengar atau datang. Lyla menjawab ya. Ia tidak meminta Aresh menjanjikan keselamatan yang tidak dapat ia jamin.
“Kalau sesuatu terasa salah, kau berhenti,” kata Aresh.
“Dan kalian tidak akan menahanku kalau aku ingin berhenti?”
“Tidak,” jawabnya. “Kau yang menentukan.”
Lyla menutup buku. Mereka sepakat menunggu sampai esok hari, saat ia cukup istirahat, lalu mencoba di tempat terbuka dekat taman. Tidak ada persiapan magis atau alat yang belum mereka pahami. Hanya Lyla mengulang panggilan kepada Orion dan mengingat perpindahan yang telah terjadi.
Malam itu ia tidur lebih awal. Ia tahu percobaan itu mungkin tak menghasilkan apa-apa, tetapi ia merasa lebih siap karena semua orang memahami batasnya.
Sebelum Aresh pergi, Lyla meminta Liram membaca kembali catatan yang baru ditulis. Ia ingin memastikan kata-kata “tubuhnya dalam keadaan buruk” tidak berubah menjadi “tubuhnya sekarat” tanpa kepastian. Liram mengoreksi satu frasa dan menyebutkan bahwa keterangan itu berasal dari ingatan Lyla, bukan dokumen.
“Bagaimana kalau aku mengingatnya salah?” tanya Lyla.
“Kalau begitu, kita akan menyimpan bahwa itu ingatan yang mungkin tidak lengkap,” jawabnya.
Lyla menyetujui. Ia tak ingin setiap kata yang diucapkan saat panik menjadi dasar bagi orang lain membuat keputusan. Aresh berkata bahwa mereka bisa kembali ke catatan tersebut setelah Lyla beristirahat, tetapi tak perlu melakukannya berkali-kali malam ini.
Mereka lalu membicarakan percobaan esok hari. Lyla meminta tempat yang tidak ramai dan memastikan tidak ada orang yang akan mendekat tanpa izin. Ia tak ingin menjadi tontonan atau merasa harus menyelesaikan percobaan hanya karena orang lain hadir.
“Kalau aku mengubah pikiran, aku boleh membatalkannya?”
“Ya,” kata Aresh. “Kapan pun.”
Lyla mengangguk. Ia menyadari bahwa memanggil Orion bukan kewajiban baru. Itu hanya upaya mencari informasi, dan ia masih memegang kendali atas kapan memulainya serta kapan berhenti.
Aresh berkata bahwa jika Lyla mengingat sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, ia boleh berhenti tanpa menjelaskan. Liram menambahkan bahwa ia akan menghapus atau mengubah catatan sesuai permintaan Lyla, selama salinan belum disebarkan. Lyla merasa lega karena bahkan proses pencarian informasi pun tetap dapat ia kendalikan.
Sebelum mereka berpisah, ia meminta Tala mengingatkannya untuk makan siang, bukan untuk mengulang percobaan. Tala tersenyum dan berjanji. Lyla menyadari ia perlu menjaga tubuhnya, bukan hanya pikirannya, saat menghadapi ingatan yang berat.
Sore itu ia makan bersama Tala, lalu tidur sebentar. Ia tidak memikirkan apakah percobaan akan berhasil. Ia hanya mengingat kesepakatan mereka: mencoba bukan berarti harus menuntaskan, dan tidak terjadi apa-apa juga tetap merupakan hasil yang boleh diterima.
Lyla memberi izin kepada Liram untuk menulis ringkasan singkat tentang percobaan pertama. Ia memeriksa setiap kata, terutama bagian yang menyebut tidak ada respons. “Tulis bahwa tidak ada respons yang teramati, bukan bahwa Orion tidak mendengar,” katanya.
Liram mengganti kalimatnya. Aresh menunggu sampai Lyla selesai membaca, lalu menanyakan apakah ia ingin melanjutkan hari itu atau beristirahat. Lyla memilih istirahat. Tak seorang pun menganggap keputusan itu sebagai kegagalan.
Dalam perjalanan kembali, ia berkata kepada Tala bahwa untuk pertama kalinya ia tidak merasa malu karena berhenti sebelum menemukan jawaban. Tala mengingatkan bahwa mengetahui batas diri adalah bagian dari pencarian, bukan gangguannya.