Lyla bangun dengan kepala penuh pertanyaan, tetapi ia tidak langsung menyerbu ruang kerja Aresh. Ia menunggu setelah sarapan, lalu meminta Liram menyiapkan waktu untuk meninjau catatan bersama. Kali ini ia ingin memastikan setiap baris masih akurat dan tidak bercampur dengan asumsi baru.
Mereka berkumpul di balkon perpustakaan. Aresh membawa salinan laporan istana, Liram membawa daftar arsip yang telah diperiksa, dan Lyla membawa ingatan yang ia tulis sendiri. Ketiganya meletakkan dokumen dalam kelompok terpisah.
“Yang ini catatan resmi,” kata Liram. “Yang ini ingatan Anda. Dan ini pertanyaan yang belum terjawab.”
“Bagus,” kata Lyla. “Jangan satukan dulu.”
Mereka memeriksa satu per satu. Tidak ada informasi yang memastikan keadaan tubuh Lyla di Bumi. Tidak ada catatan bahwa waktu berhenti atau berjalan berbeda. Tidak ada keterangan bahwa penyelesaian misi secara otomatis mengembalikan jiwanya. Satu-satunya hal yang Lyla ingat adalah Orion mengatakan ia bisa kembali suatu hari nanti jika misi diselesaikan.
“Bisa kembali bukan berarti pasti kembali,” ujar Lyla.
“Benar,” jawab Aresh. “Dan kita belum tahu apa arti misi selesai.”
Lyla menulis dua frasa itu dalam daftar. Rasanya tidak nyaman melihat ketidakpastian ditulis begitu telanjang. Namun ia lebih memilih menghadapi tulisan itu daripada menutupinya dengan anggapan bahwa Putri Elf dapat menyelesaikan semuanya.
“Kalau kita punya kesempatan bicara dengan Orion, aku ingin mengajukan pertanyaan ini sesuai urutan,” katanya. “Pertama, apa syarat misi. Kedua, apa kondisi tubuhku. Ketiga, apakah ada pilihan selain kembali atau tetap di sini. Dan terakhir, apa akibatnya kalau aku menolak misi.”
Aresh mengangguk. “Kita akan mencatat pertanyaan itu.”
“Namun kita tidak akan mencoba memanggilnya sampai ada petunjuk yang jelas,” kata Liram. “Saya tidak menemukan metode di arsip yang bisa saya pastikan berkaitan dengannya.”
“Setuju,” ujar Lyla. Ia lega mereka tak mendorongnya mengambil risiko. “Aku tidak mau menciptakan ritual atau memakai kekuatan yang tidak kupahami.”
Mereka menyimpan dokumen ke dalam map khusus. Liram berjanji menambahkan hanya temuan faktual. Setelah itu ia kembali ke tugasnya, meninggalkan Lyla dan Aresh di balkon.
“Apakah kau merasa kecewa?” tanya Aresh.
“Karena belum ada jawaban? Ya. Tapi aku lebih kecewa kalau kita mengarang jawaban lalu aku membuat keputusan berdasarkan itu.”
Aresh menatap halaman. “Kau tidak harus memutuskan hari ini.”
“Dan kau tidak perlu menjanjikan akan menunggu selamanya.”
“Aku tidak akan menjanjikan sesuatu hanya untuk membuatmu merasa aman sesaat.”
Lyla tersenyum tipis. “Kau sedang belajar bicara lebih langsung.”
“Aku berusaha.”
“Bagus. Aku juga sedang belajar tidak melarikan diri ke pekerjaan.”
Mereka duduk dalam hening. Kali ini keheningan itu tidak memaksa Lyla mengisinya. Ia bisa memikirkan Bumi, Aresh, dan dirinya sendiri tanpa harus segera menyatukan semuanya menjadi keputusan.
Sore menjelang, Tala datang mengingatkan bahwa makan malam hampir siap. Lyla menutup map dan berdiri. Ia melihat kembali halaman catatan terakhir: “Belum diketahui.” Dulu kata-kata itu terasa seperti pintu tertutup. Sekarang ia menganggapnya sebagai pengingat bahwa pencarian belum selesai.
“Aku akan terus bertanya,” katanya kepada Aresh.
“Aku akan membantu selama kau menginginkannya.”
“Tanpa harga?”
“Tanpa harga.”
Lyla percaya ia bersungguh-sungguh. Itu belum menjawab apakah ia akan tinggal, tetapi memberinya keberanian untuk menunggu sampai pertanyaan yang lebih penting memperoleh jawaban.
Lyla menghabiskan sore dengan menyalin pertanyaan ke halaman yang lebih bersih. Ia memberi ruang kosong di bawah setiap pertanyaan untuk jawaban yang kelak mungkin datang. Di samping pertanyaan tentang keadaan tubuhnya, ia menulis bahwa informasi itu harus dijawab Orion, bukan ditebak Aresh atau Liram.
Ketika Tala bertanya apakah ia merasa cemas, Lyla menjawab ya. Ia tak berpura-pura bahwa daftar tersebut membuat semuanya lebih mudah. Namun, kini kecemasannya punya bentuk. Ia tahu apa yang hendak dicari dan apa yang belum dapat ia ketahui.
“Aku ingin hidupku kembali menjadi milikku,” katanya.
Tala menjawab bahwa hidupnya tetap miliknya, bahkan sebelum ia memiliki jawaban. Lyla tidak yakin sepenuhnya, tetapi ia menyimpan kata-kata itu tanpa menuntut dirinya langsung mempercayainya.
Malam itu Aresh mengetuk pintunya dan menanyakan apakah ia ingin berbicara. Lyla berkata ia lelah dan ingin beristirahat. Aresh menerima jawaban tersebut dan mengucapkan selamat malam tanpa memaksa masuk atau bertanya lebih jauh.
Lyla menutup buku catatannya. Ia merasa aman karena bisa menolak percakapan dan tetap dihormati. Esok hari ia akan kembali mencari jawaban, tetapi malam ini ia memilih tidur.
Malamnya Lyla membuka kembali halaman daftar fakta. Ia membaca setiap butir, memastikan tak ada tafsiran yang diam-diam berubah menjadi kepastian. Kematian di Bumi adalah ingatannya. Perpindahan ke Avantera adalah kenyataan yang ia alami. Misi mencari istri untuk Aresh adalah ucapan Orion yang ia ingat, tetapi makna persisnya masih perlu ditanyakan. Tubuhnya di Bumi dan kemungkinan kembali tetap tidak diketahui.
Ia menyalin daftar itu ke lembar kecil yang akan dibawanya saat bertemu Liram. Tak ada tambahan tentang pertanda atau kekuatan khusus. Ia tidak akan memanggil Orion dengan cara yang tak ia pahami. Jika kesempatan datang, ia akan bertanya. Sampai saat itu, ia akan menjalani hari-harinya tanpa berpura-pura bahwa ketidakpastian sudah hilang.
Ketika Tala mengucapkan selamat malam, Lyla berterima kasih karena telah menemaninya tanpa mengambil alih keputusan. Ia memadamkan lampu dengan pikiran yang lebih tertata. Ia masih takut, tetapi rasa takut itu tidak lagi memerintah setiap gerakannya.
Ia memastikan daftar pertanyaannya tersimpan di tempat yang mudah ditemukan. Bila ada ingatan baru, ia akan menambahkannya sebagai ingatan, bukan sebagai jawaban. Untuk sekarang, ia membiarkan dirinya tidur tanpa menunggu tanda dari langit.
Ia menghela napas, lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri. Tidak semua ketidakpastian perlu ditaklukkan sebelum seseorang boleh menjalani hari yang baik.
Lyla tidak tahu berapa lama pencarian itu akan berlangsung, tetapi ia telah berhenti memaksa dirinya memiliki jawaban sebelum menemukannya. Ia menutup buku, mematikan lampu, dan mengizinkan malam berakhir dengan pertanyaan yang belum selesai.