Pada sore hari, Liram membawa kabar bahwa ia belum menemukan catatan lain. Tidak ada dokumen yang menyebut Orion, dan arsip istana hanya dimulai saat Lyla tiba sebagai persembahan. Ia tidak dapat memastikan apakah ada sumber lain di luar istana.
“Jadi kita belum punya cara menghubunginya,” kata Lyla.
“Belum,” jawab Liram. “Saya tidak ingin menyarankan cara yang tidak terbukti aman.”
Aresh menyetujui sikap itu. Ia tidak ingin Lyla melakukan sesuatu berisiko hanya karena ingin cepat mendapat jawaban. Lyla pun tak ingin mencoba memanggil Orion dengan mengulang kalimat yang samar dalam ingatannya.
“Kalau begitu, kita tunggu sampai aku ingat lebih jelas atau ada petunjuk nyata,” katanya. “Bukan karena aku menyerah, tapi karena aku tidak ingin mengarang cara.”
Aresh menatapnya dengan hormat. “Keputusan yang baik.”
Lyla meletakkan daftar pertanyaan di atas meja. “Ada hal lain yang ingin kubicarakan. Aku ingin memastikan bantuanmu ini bukan karena berharap aku memilihmu.”
“Bantuan ini bukan harga.”
“Aku tahu kau sudah bilang. Aku perlu mendengarnya lagi.”
“Aku membantu karena kau perlu tahu apa yang terjadi padamu. Kalau kau pulang, aku akan merindukanmu. Tapi aku tidak akan meminta informasi itu ditukar dengan tinggal.”
Lyla merasa dadanya menghangat. Ia ingin mendekat, tetapi menahan diri. Ia tidak tahu apakah Aresh nyaman dengan sentuhan pada saat itu. “Boleh aku duduk di dekatmu?”
Aresh mengangguk. Lyla menarik kursi di sampingnya, menyisakan jarak kecil. “Terima kasih karena tidak membuatku berutang.”
“Aku tidak menganggapmu berutang.”
Mereka berbincang lebih lama. Lyla bercerita tentang hal-hal yang dirindukannya dari Bumi: makanan sederhana, hujan di kota, dan suara kendaraan dari jalan. Ia tidak mengulang kisah kematiannya; Aresh telah mendengarnya sebelumnya. Ia hanya menjelaskan bagaimana dunia asalnya terasa jauh meski masih hidup di dalam ingatan.
Aresh bercerita tentang kesendiriannya memimpin Avantera dan tanggung jawab yang tak pernah selesai. Ia tidak meminta Lyla menghiburnya. Ia hanya berbagi karena Lyla bertanya.
“Apakah kau pernah ingin meninggalkan kerajaan ini?” tanya Lyla.
“Pernah. Tapi tanggung jawabku membuatku memilih tetap tinggal.”
“Apakah itu berarti pilihanmu tidak bebas?”
“Tidak sepenuhnya. Ada tanggung jawab, tapi aku tetap yang membuat keputusan. Itu berbeda dari dipaksa.”
Lyla memikirkan jawaban itu. Mungkin tinggal di Avantera juga bisa menjadi pilihannya sendiri suatu hari nanti, bukan sekadar kepatuhan pada misi. Namun ia belum siap menyebutnya demikian.
Sebelum mereka berpisah, Aresh menyatakan bahwa ia tidak akan membahas perasaan Lyla dengan Liram atau orang lain. Informasi tentang tubuhnya tetap miliknya. Lyla berterima kasih dan menyimpan catatan pertanyaannya.
Tala menemukannya di koridor. “Apakah kalian mendapatkan jawaban?”
“Belum. Tapi kami tahu batas pengetahuan kami.”
“Itu tetap sesuatu.”
“Ya. Dan aku mulai percaya bantuan Aresh tidak datang dengan harga.”
Tala mengangguk. “Kepercayaan juga dibangun perlahan.”
Lyla berjalan kembali ke kamarnya. Ia masih takut akan masa depan, tetapi hari itu membuatnya merasa lebih aman menghadapi ketidaktahuan. Ia tidak harus membayar kasih sayang dengan keputusan, atau membayar pertolongan dengan pernikahan.
Pagi berikutnya, Liram membawa daftar pencarian yang ia lakukan. Ia mencatat tempat dan kumpulan dokumen yang telah diperiksa agar tak mengulang pekerjaan yang sama. Tidak ditemukan keterangan baru. Lyla meminta agar daftar itu disimpan bersama map, bukan dibuang karena hasilnya kosong.
“Tidak adanya catatan juga menjelaskan batas pengetahuan kita,” kata Liram.
“Ya. Jangan tulis ‘Orion tidak pernah datang’ hanya karena arsip tidak menyebutnya,” ujar Lyla.
Liram mengangguk dan mencatat perbedaan itu. Aresh menyatakan bahwa jika suatu hari mereka mendapat petunjuk baru, mereka akan memeriksanya sebelum bertindak. Tidak ada yang menyarankan pemanggilan atau ritual yang tidak tercatat.
Lyla memandang map yang kini berisi daftar fakta, ingatan, dan pertanyaan. “Aku kira mencari jawaban berarti menemukan petunjuk tersembunyi. Ternyata kadang artinya memastikan kita tidak berbohong pada diri sendiri.”
“Dan itu sudah langkah penting,” kata Aresh.
Mereka menyimpan berkas di ruang arsip. Liram menawarkan menemaninya jika Lyla ingin membicarakan hal lain, tetapi Lyla berkata ia akan berjalan sendiri sebentar. Ia perlu waktu mencerna kenyataan bahwa ia belum tahu nasib tubuhnya dan belum dapat menghubungi Orion.
Ia berjalan melewati taman, mengingat kembali kehidupan di Bumi tanpa menjadikannya sekadar tempat yang harus ia lupakan. Ia juga mengingat orang-orang Avantera yang mulai ia sayangi. Kedua dunia itu sama-sama nyata baginya sekarang.
Lyla bertanya kepada Tala bagaimana ia bisa memastikan bahwa ia tidak mengubah semua kenangan Bumi menjadi alasan untuk pergi atau semua kedekatan Avantera menjadi alasan untuk tinggal. Tala menjawab bahwa ia tak perlu menimbang dua dunia seperti dua barang yang harus dibandingkan. Ia bisa mengingat keduanya dengan jujur, lalu memilih setelah memahami akibatnya.
“Kalau akhirnya aku memilih pergi, aku tetap boleh mencintai orang di sini?”
“Tentu.”
“Kalau aku memilih tinggal, aku tetap boleh merindukan Bumi?”
“Tentu.”
Jawaban sederhana itu membuat Lyla terdiam. Selama ini ia berpikir bahwa satu pilihan harus menghapus yang lain. Mungkin itu sebabnya ia takut membuat keputusan: ia mengira keputusan akan meniadakan semua bagian dirinya yang tidak terpilih.
Ia menulis dua pertanyaan itu di buku catatan, bukan untuk dijawab Orion, melainkan untuk diingat dirinya sendiri. Ada hal-hal yang mungkin hanya bisa ia pahami setelah menjalani pilihannya.
Tala menyarankan Lyla beristirahat, dan kali ini Lyla tidak mencoba mencari tugas tambahan. Ia menutup buku, membiarkan teh mendingin, lalu duduk tenang sampai perasaannya tak lagi terasa mendesak.
Lyla mengangkat cangkir tehnya dan menyesapnya perlahan. Rasa hangat itu membantunya kembali ke saat ini. Ia tidak perlu menyelesaikan seluruh masa depan sebelum makan malam.
Aresh menyimpan salinan laporan ke map. Lyla memeriksa bahwa catatan itu tetap dapat ia akses kapan saja, lalu mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Mereka mengakhiri percakapan tanpa janji baru.