Keesokan harinya, Lyla meminta waktu bertemu Liram untuk mengingat ulang urutan kedatangannya. Aresh hadir sebagai pendamping, tetapi Liram menegaskan bahwa ia tak akan mengubah ingatan Lyla menjadi laporan resmi tanpa persetujuannya.
“Aku ingat Orion mengatakan tubuhku terluka parah,” ujar Lyla. “Dia bilang kalau aku ingin hidup di dunia ini dan suatu hari kembali ke tubuhku, aku harus menyelesaikan misi.”
“Apakah ia menjelaskan bahwa pernikahan Aresh adalah syaratnya?” tanya Liram.
“Tidak secara jelas. Aku sedang ketakutan. Bisa jadi aku hanya menangkap bagian yang paling mudah kupahami.”
Aresh menyilangkan tangan. “Kita perlu memisahkan kalimat Orion dari tafsiran yang muncul setelahnya.”
Lyla setuju. Ia menuliskan ucapan yang ia ingat dalam tanda kutip, lalu menambahkan bagian yang ia tafsirkan sebagai catatan terpisah. Tak satu pun dari mereka mengklaim tafsiran itu sebagai fakta.
“Kalau misi berarti membuatmu jatuh cinta pada seseorang, aku mungkin gagal,” kata Aresh. “Aku tak akan mengubah pilihanmu agar bisa dianggap berhasil.”
“Kalau misi berarti menemukan orang yang bisa membuatmu bahagia, itu pun tetap harus menjadi pilihanmu.”
“Ya.”
Liram mengatakan bahwa laporan yang tersedia tak menyebut misi. Ia menyarankan mereka tidak menciptakan aturan baru berdasarkan rumor atau adat Avantera. Ia bisa membantu memeriksa apakah ada catatan tentang Orion dalam koleksi kerajaan, tetapi memperingatkan bahwa hasilnya mungkin nihil.
“Silakan periksa, tapi hanya catatan yang sudah ada,” kata Lyla. “Aku tidak ingin membuat orang mencari-cari tanda lalu menghubungkannya sembarangan.”
Liram berjanji akan menelusuri arsip dengan batas itu. Setelah ia pergi, Lyla tetap duduk bersama Aresh.
“Aku merasa bodoh karena dulu menganggap aku sudah tahu syaratnya,” katanya.
“Kau baru saja mati dan dibawa ke dunia asing. Tidak aneh jika ada bagian yang tak kau ingat.”
“Itu bukan alasan untuk memaksa diriku percaya pada versi yang paling nyaman.”
“Benar. Tapi kau tidak perlu menghukum dirimu karena belum tahu.”
Lyla menutup buku catatan. “Aku takut kalau jawabannya nanti menyakitkan. Kalau aku tidak bisa kembali, berarti aku benar-benar kehilangan Bumi. Kalau aku bisa, mungkin aku harus meninggalkan semua yang ada di sini.”
Aresh mendengarkan. Ia tidak mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. “Apa pun jawabannya, kita akan tahu sebelum kau memutuskan.”
“Kalau Orion mau menjawab.”
“Kalau tidak, kita tetap tak boleh mengarang.”
Lyla mengangguk. Di luar, halaman tampak damai. Ia teringat rumah di Bumi, jalanan yang ramai, dan kucing-kucing yang mungkin masih berkeliaran di sekitar tempat tinggalnya. Ia juga teringat suara Aresh saat tertawa dan Tala yang selalu tahu kapan harus diam.
“Aku tak mau memilih karena takut,” katanya.
“Kalau begitu, jangan terburu-buru.”
Lyla menatapnya, menginginkan jawaban yang lebih konkret tetapi tahu tak ada yang bisa diberikan Aresh saat itu. Ia bangkit dan berjalan menuju rak buku, memberi dirinya beberapa saat sendirian.
Setelah Liram pergi, Lyla dan Aresh tetap membahas cara memastikan bantuan itu tidak berubah menjadi kewajiban. Lyla meminta Aresh memberitahunya jika suatu saat ia merasa tidak ingin lagi terlibat. Ia tak ingin menjadikan Aresh satu-satunya tempat bergantung, lalu merasa dikhianati jika ia memiliki batas sendiri.
“Aku bisa meminta Tala menemaniku, atau bekerja dengan Liram untuk memeriksa catatan,” kata Lyla. “Kau boleh membantu, tapi aku tidak mau seluruh beban ini jatuh padamu.”
“Aku akan mengatakan jika aku membutuhkan waktu,” jawab Aresh. “Kau pun boleh berhenti kapan saja.”
“Baik. Kita sama-sama boleh meminta jeda.”
Kesepakatan sederhana itu membuat percakapan terasa lebih setara. Aresh bukan penyelamat yang harus mengurus semua masalahnya, dan Lyla bukan tugas yang perlu ia selesaikan. Mereka bisa saling membantu sambil menjaga ruang masing-masing.
Lyla bertanya apakah Aresh khawatir informasi tentang kepulangannya membuatnya pergi. Aresh menjawab bahwa ia takut kehilangan Lyla, tetapi rasa takut itu tidak memberinya hak untuk menyembunyikan fakta atau menghambat pencarian.
“Aku menghargai kau mengatakan itu,” ucap Lyla.
“Aku juga ingin kau tidak menyembunyikan ketakutanmu dariku, selama kau bersedia membicarakannya.”
Lyla setuju. Mereka tak membuat janji besar, hanya menyepakati kejujuran dan kebebasan untuk berhenti. Setelah itu mereka berjalan ke ruang makan bersama, berbicara tentang hal ringan agar seluruh hari tidak berputar pada Orion.
Dalam perjalanan keluar dari balkon, Lyla meminta Aresh berjalan sedikit lebih lambat. Kakinya lelah dan pikirannya juga. Aresh menyesuaikan langkah tanpa bertanya berlebihan. Ia tak meraih tangan Lyla, meski lorong sempit di depan membuat mereka berjalan berdekatan.
Lyla menghargai perhatian itu. “Aku tahu kau ingin membantu, tapi kadang aku cuma perlu ditemani tanpa dicari solusinya.”
“Aku bisa melakukan itu.”
“Dan kadang aku butuh sendirian.”
“Aku akan bertanya.”
Mereka berjalan beberapa menit tanpa bicara. Lyla mendapati bahwa keheningan bersama Aresh tidak selalu harus dipenuhi pengakuan atau rencana. Ia bisa merasa dekat dengannya dan tetap punya ruang pribadi.
Di ujung koridor, mereka berpisah. Lyla kembali ke kamar untuk beristirahat, sedangkan Aresh menuju ruang kerja. Ia merasa sedikit cemas karena tak punya jawaban, tetapi tidak lagi merasa sendirian menghadapi pertanyaan itu. Dukungan Aresh terasa bermakna justru karena ia tidak mensyaratkan balasan.
Lyla menyadari bahwa menulis kemungkinan buruk bukan berarti ia mengharapkannya. Ia hanya ingin siap bertanya, bukan mengambil keputusan lebih awal karena takut. Ia berterima kasih kepada Aresh dan Liram atas kesediaan mereka membiarkan pertanyaan tetap terbuka.
Ia memandang kembali catatan yang telah dibuat. Tidak ada satu pun pertanyaan yang harus dijawab hari itu juga. Selama mereka tetap jujur tentang apa yang tidak diketahui, ia bisa menunggu kesempatan yang tepat untuk bertanya tanpa memaksa keadaan.
Lyla tidak tahu berapa lama pencarian itu akan berlangsung, tetapi ia telah berhenti memaksa dirinya memiliki jawaban sebelum menemukannya. Ia menutup buku, mematikan lampu, dan mengizinkan malam berakhir dengan pertanyaan yang belum selesai.